Karya Tembus Eropa, Ekonomi Tetap Pas-pasan


*Kisah Muhri Perajin Rotan

TANGERANG - MESKIPUN karyanya mampu menembus pasar Eropa, seperti Jerman, Belanda, Prancis, dan Inggris namun tak lantas membuat perekonomiannya semapan karyanya, alias masih hidup pas-pasan. Sampai saat ini, tempat kerjanya masih mengontrak. Karena belum mampu membeli tanah sendiri untuk usaha.

Demikian yang dialami oleh seorang perajin rotan di RT 04/06 Desa Curug Pabuaran, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Adalah Muhri alias Uli (50), yang sejak 1985 sudah menggeluti sebagai perajin boks keranjang sepeda, tempat pakaian, serta peralatan rumah tangga lainnya dari rotan. Saat Banten Raya berbincang di tempat kerjanya, Uli mengaku, selama bergelut sebagai perajin rotan selalu saja terkendala oleh modal. Terlebih saat ini sulit untuk mendapatkan bahan baku, sehingga ia harus bermitra dengan salah satu perusahaan yang memproduksi rotan supaya dapat dengan mudah mendapatkan bahan baku rotan.

Namun demikian, hasilnya pun harus dijual lagi ke perusahaan yang menyuplai bahan baku tersebut. Padahal, kata Uli, jika ia mempunyai modal sendiri, bisa mendapatkan keuntungan lebih. Apalagi karya-karyanya tersebut dipasarkan secara ekspor, dengan harga dolar. "Mau tidak mau kita harus bermitra, kalau tidak, ya enggak bisa berproduksi. Tapi kalau kita modal sendiri, kita bisa menjual ke tempat lain yang harganya lebih tinggi," keluh Uli. Uli menuturkan, hal yang membuatnya merugi, biasanya kalau mendapatkan rotan basah. Karena yang biasanya mendapatkan 1 ton rotan kering bisa dijadikan 1.500 hingga 2.000 boks sepeda, ini menjadi susut dan jumlahnya menjadi sedikit. Harga 1 kilogram rotan dibeli Rp 22 ribu.

Belum lagi, Uli harus membayar 4 hingga 6 karyawan yang membantu di tempat kerjanya. Harga boks rotan bikinan Uli dijual ke pabrik rotan dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung ukurannya. Satu boks rotan sendiri, Uli harus membayar karyawan dengan harga antara Rp 3 ribu hingga Rp 10 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. "Kalau dihitung-hitung, enggak tekor untuk bayar bahan baku sama yang kerja aja sudah alhamdulillah," katanya seraya menjelaskan, kalau boks-boks rotan bikinannya tersebut, oleh perusahaan yang menampung diekspor ke Eropa, seperti Jerman, Belanda, Inggris, dan Prancis, bahkan ada yang ke India.

Uli juga berharap, supaya pemerintah bisa membantu memberikan bantuan terhadap usahanya tersebut. Karena, selama ini, ia belum pernah mendapatkan bantuan sepeserpun dari pemerintah. "Di sini, banyak sekali perajin rotan seperti saya, semua rata-rata ya begitu, bermitra dengan perusahaan rotan. Padahal, kalau ini ada campur tangan pemerintah, akan sangat membantu perajin, dan tidak harus bergantung kepada perusahaan swasta," pungkasnya. WIDI HATMOKO

Beri komentar


Security code
Refresh