Mengunjungi Habitat Badak di TNUK (1)


Temukan Jejak Badak, Ular Pyton, & Pulau Rusak


PANDEGLANG - Untuk memperingati Hari Badak Dunia, sejumlah wartawan di Kabupaten Pandeglang, mengunjungi habitat asli badak di Taman Nasional Ujung Kulon.

Wartawan cetak dan elektronik dengan jumlah 35 orang berangkat Jumat (26/9) dengan disponsori oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pandeglang yang memang memilih lokasi peringatan Hari Badak di Kampung Paniis, Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur. Kampung ini ke depannya diharapkan menjadi kampung wisata dengan menu jualan utama badak dan berbagai keunikan lainnya di wilayah Sumur dan TNUK.

Sesampainya di Paniis, wartwan menginap semalam dan diundang Kepala Balai TNUK Muhamad Haryono untuk mendengarkan paparan terkait eksotisme TNUK dan konsep pengembangan ekowisata di wilayah TNUK. Sabtu (27/9) pagi hari langsung mengarungi laut menuju Pulau Handeuleum yang berjarak sekitar 25 km dari dermaga Tamanjaya dan bisa ditempuh dengan waktu 45 menit menggunakan kapal motor. Tidak ada yang unik di Pulau Handeuleum atau tidak ada tanda-tanda Badak Jawa hidup di pulau ini. Namun di lokasi ini ada beberapa rusa liar yang berkeliaran dan menjadi objek utama kamera wartawan. Namun laut di pulau ini sangat jernih dan gerombolan ikan-ikan bisa dilihat langsung dari atas kapal.

Tidak berhenti disini, wartawan melanjutkan perjalanan ke aliran sungai Cigenter yang konon tempat menyeberang badak. Perjalanan menggunakan kapal motor ke Cigenter 1 jam lebih dan sesampainya di lokasi sudah disediakan 5 perahu kecil atau kano. Perahu ini kemudian kami kayuh sendiri menelusuri hutan Cigenter yang berkedalaman 5 meter dan merupakan habitat asli buaya muara yang kerap diperbincangan warga Kecamatan Sumur.

Dengan perlahan-lahan 5 perahu dikayuh oleh masing-masing penumpangnya dengan harapan kami bisa menemukan badak yang tengah menyeberang sungai atau minimal lari ketakutan melihat manusia. Di sisi-sisi sungai memang ditemukan jejak-jejak kaki hewan berkaki empat ukuran besar dan menurut penjaga hutan TNUK itu adalah jejak badak dan sebagian jejak banteng atau kerbau hutan. “Biasanya badak menyeberangi sungai untuk mencari makanan dari satu pulau ke pulau lain di wilayah TNUK. Sungai Cigenter adalah favorit badak,” demikian kata Abdullah, warga Tamanjaya yang mendampingi kami menyusuri Cigenter.

Selama menyusuri Cigenter kami juga disarankan tetap berhati-hati dan sesekali melihat ke atas pepohonan yang daun dan rantingnya memayungi aliran sungai. Saran ini sangat penting karena dahan dan kayu di lokasi ini adalah tempat berbagai macam ular dan burung tinggal. Ada 3 ular pyton yang kami temukan di atas pohon. Kendati tidak besar, pyton liar ini masih cukup berbahaya kalau dikagetkan. Setelah sekitar 1 jam menyusuri Cigenter kami tetap tidak menemukan badak kecuali jejak-jejaknya dan batang-batang pohon patah terinjak badak. Rombongan kemudian kembali ke kapal dan seterusnya melanjutkan perjalanan ke Pulau Badul.

Pulau Badul ditemuh 1,5 jam dari Cigenter. Sesampainya di pulau yang gundul dan tandus ini kami bertemu dengan sejumlah penyelam dan aktivis WWF Andre Crespo. WWF juga mengajak kami menyelam dan menanam terumbu karang di lokasi ini. “Pulau Badul dulunya sangat indah namun karena karangnya rusak oleh nelayan dari luar wilayah Sumur sekarang menjadi tandus. Perairan di pulau ini harus ditanami karang lagi agar ikannya kembali,” jelas Andre yang mengatakan sudah banyak terumbu karang yang kembali tumbuh dan ikannya kembali. MUHAEMIN



Beri komentar


Security code
Refresh