Hatta Rajasa Memotivasi Nelayan Anyer


SERANG – Menko Perekonomian Republik Indonesia, Hatta Rajasa pagi ini bakal berbagi ilmu dengan nelayan kampung Paku, di Pelabuhan Paku, Anyer, Serang. Sebagai mantan pengusaha yang sukses, pria yang lahir di Palembang, 18 Desember 1953 itu kaya akan kisah pengalaman mengelola usaha. Itulah yang akan di-share dengan para penangkap ikan yang rata-rata hidupnya masih sulit. Ke depan, persaingan usaha akan semakin ketat dan keras. Dunia semakin sempit, dan nyaris tak berjarak. Yang tidak menguasai ilmu, pengetahuan, teknologi, informasi dan akses, mereka akan semakin terpinggirkan. Sementara, nelayan yang kesehariannya berlabuh mencari rezeki dari tangkapan ikan laut, adalah pihak yang harus memperoleh perhatian khusus. “Mereka harus maju! Mereka harus berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan,” ucap Hatta Rajasa, Menko Perekonomian.

Salah satu hal yang ingin disampaikan Hatta kepada nelayan adalah soal KUR, Kredit Usaha Rakyat. Di acara yang dikemas dengan sebutan “Sambung Rasa Bagi Ilmu” dengan Nelayan Pantai Paku itu, Insinyur Teknik Perminyakan ITB Bandung 1973 itu sekaligus akan memberikan secara simbolik KUR kepada beberapa nelayan. “KUR itu tepat untuk usaha mereka, yang rata-rata UMKM. Unit Usaha Kecil dan Menengah. Mereka sudah feasible, tetapi belum bankable,” ungkap Hatta yang juga Ketua Umum DPP PAN itu. Potensi kelautan dan perikanan di negeri ini, lanjut dia, masing sangat berbuka. Negeri ini sejak dulu dipandang sebagai Negeri Pelaut. Karena itu ada lagu yang amat popular di sekolah-sekolah: “Nenek Moyangku Seorang Pelaut.” Zaman keemasan Sriwijaya, juga dikenal sebagai bangsa pelaut. Mereka berlayar sampai ke Madagaskar di Barat dan Laut China Selatan di utara. “Kita negeri kepulauan. Luas lautan kita lebih besar dari daratan, karena itu potensi lautan kita amat besar,” ucapnya. 

Tidak salah, kalau banyak orang Indonesia yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Hanya saja, selama ini mereka masih hidup susah, karena keterbatasan berbagai hal. Perlengkapan, alat tangkap, teknologi kapal, storage, akses permodalan, akses pasar, pengolahan hasil tangkapan dan sebagainya. Belum lagi soal keterbatasan musim ombak besar, musim angin besar, yang membuat mereka tidak bisa berlayar. “Seperti saat ini, sedang musim angin besar. Mereka menyebut musim paceklik, mereka bersandar cukup lama,” kata Hatta yang pernah menjabat sebagai Mensesneg (2007-2009), Menteri Perhubungan (2004-2007), Menteri Negara Riset dan Teknologi (2001-2004) itu. Karena itu, mereka harus terus meng-up date pengetahuan berusaha, agar lebih maju dan terus berkembang. KUR memang bukan hanya untuk nelayan saja, tetapi untuk usaha rakyat yang memiliki prospek bisnis baik dan punya kemampuan untuk mengembalikan. Yang bisa mengakses KUR adalah mereka yang bergerak di sektor usaha produktif, seperti di pertanian, perikanan, kelautan, perindustrian, kehutanan, jasa keuangan simpan pinjam dan lainnya.

Sejak 5 November 2007 lalu, Presiden sudah meluncurkan KUR ini dengan fasilitas penjamin kredit dari pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo. Adapun Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR antara lain BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin. Beberapa debitur masing-masing bank itu, pagi ini akan menerima simbolik KUR yang diserahterimakan di Pelabuhan Paku. Diharapkan, melalui KUR ini, UMKM dan Koperasi mampu mengembangkan usahanya dengan baik. Nelayan bisa mendapatkan akses ke sumber pembiayaan, untuk mendorong dan mengembangkan spirit kewirausahaan mereka. Modal itu juga bisa dipakai untuk meningkatkan kapasitas produksi, perluasan pasar, manajemen dan teknologi tangkap ikannya. “Ini kerja nyata!” ucap Hatta.  (*)

Beri komentar


Security code
Refresh