Sukendar, Pengusaha Obat Herbal di Pandeglang


Sempat Dirazia, Tetap Teruskan Usaha karena Potensi Melimpah

Pandeglang - Kabupaten Pandeglang memang terkenal memiliki potensi alam yang melimpah, tak terkecuali tumbuh-tumbuhan obat. Di tangan Sukendar, tumbuhan obat ini memberikan nilai ekonomis disamping meningkatkan kesejahteraannya dan masyarakat sekitar.



Pengolahan tumbuh-tumbuhan obat oleh Sukendar memang tak bisa dibilang kecil. Pria yang profesi aslinya guru Biologi di salah satu SMAN di Pandeglang ini sudah memiliki pabrik standar farmasi lengkap dengan berbagai peralatan laboratorium, peracikan obat, pengemasan, dan lain sebagainya.  Pabrik yang berlokasi di kaki gunung karang tepatnya di Kampug Samparsanta, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari ini memiliki banyak lorong dan kamar-kamar yang higienisnya sangat diperhatikan pemilik pabrik. “Bangunan ini sudah berstandar farmasi sesuai anjuran BPOM. Kami bangun semacam ini untuk menjaga kualitas produk,” kata Sukendar saat mengajak Banten Raya memasuki pabrik, kemarin.

Sebelum rampung dibangun, menurut Sukendar, pabriknya itu pernah didatangi polisi. “Ternyata pabrik kami disangka memproduksi narkoba. Sempat disegel polisi namun itu fitnah yang dihembuskan orang yang tidak suka karena pabrik kami memproduksi herbal,” Sukendar bercerita. Sempat dirazia tak membuat Sukendar patah arang, malahan produknya yang sudah mencapai 17 merek dengan berbagai khasiat dan berasal dari alam itu diterima pasar. “Alhamdulillah kami dapat mempekerjakan 50 warga di pabrik ini. Ada juga beberapa orang yang kami kuliahkan setelah bekerja di pabrik. Masyarakat sekitar juga tergerak untuk memulyakan tanaman herbal yang sebelumnya dipandang sebelah mata karena sulit diolah,” tandasnya.

Di dinding pabrik herbal ini terpampang sejumlah sertifikat dan izin merek-merek obat herbal dari pemerintah.  Obat tersebut berasal dari tumbuhan dan rempah seperti koneng gede, kunyit, jahe, daun cengkeh kering, cuka pisang, dan temulawak. “Semua produk sudah berizin IKOT dan IPPR karena skalanya kecil. Kami juga sudah menemuh izin BPOM setahun silam tapi sampai sekarang belum terbit. Malah BPOM Serang lebih dulu merazia pabrik kami dan membawa sejumlah peralatan dan kemasan yang sebenarnya modal dasar kami. Akibatnya perusahaan tidak bisa melakukan produksi dan pekerja menganggur,” bebernya.

Terlepas dari kisah tragis yang dialaminya saat ini, Sukendar menyatakan akan tetap meneruskan usahanya dan menepmuh semua perizinan yang disyaratkan, termasuk BPOM. Alasannya, potensi alam di Pandeglang sangat melimpah dan potensi ini bisa menggerakkan roda perekomian warga. “Sekarang kami berhenti sejenak dan sedang mengurus izin edar BPOM. Harapannya proses perizinan segera rampung dan pabrik bisa kembali beroperasi sehingga bisa mengangkat nama daerah secara tidak langsung,” pungkasnya. (Muhaemin)

Beri komentar


Security code
Refresh