Pembangunan Pabrik Semen di Bayah Timbulkan Harapan Baru, Tapi Merusak Lingkungan


BAYAH
- Nama Kecamatan Bayah pasti sudah tak asing lagi ditelinga kita. Disamping memiliki keindahan pantai dan alam, daerah ini pun menyimpan segudang potensi sumber daya alam berupa logam mulia, batu bara, pasir laut, dan bijih besi yang belakangan ini telah dilirik investor untuk dijadikan lokasi pabrik semen yakni PT Cemindo Gemilang.

Saat ini pembangunan pabrik tengah berlangsung dan lokasinya berada di dua kecamatan yaitu Bayah dan Cilograng, tepatnya Desa Darmasari Kecamatan Bayah dengan cakupan areal tambang seluas 2.400 hektare. Total luas area untuk pabrik dan pelabuhan sekitar 500 hektare, untuk pabriknya sendiri 90 hektare. Bahan baku semen ini akan menggunakan batu kapur dan tanah liat yang cukup melimpah di daerah ini. Ketersediaan baku berdasarkan penelitian cukup dalam waktu yang cukup lama untuk produksi.

Lokasi pabrik semen ini sendiri percis berada di puncak bukit dan oleh warga setempat di sebut Gunung Madur. Gunung ini sebenarnya menjadi salah satu hutan resapan dan penyedia air bagi sejumlah anak sungai yang mengalir di Kecamatan Bayah dan Cilograng. Jika kita berada di puncak gunung ini maka pemandangan kota Kecamatan Bayah sangat tampak jelas. Deburan ombak di pesisir Bayah juga terlihat indah dari atas Gunung Madur. Saat ada pembangunan pabrik, suasana alami Gunung Madur berubah 180 derajat karena pegununungan direkayasa menggunakan alat berat disesuaikan dengan kebutuhan pabrik. Bekas galian dan pembabatan lahan juga menjadi pemandangan baru di lokasi ini dan kerusakan lahan ini bisa disaksikan dari terminal Kecamatan Bayah.

Aliran sungai Cimadur juga saat ini kesehariannya tampak sepi, padahal sungai ini biasanya ramai oleh warga baik untuk mandi maupun mencuci pakaian. Saat kemarau tiba, Sungai Cimadur yang bermuara di Laut Bayah ini pun menjadi satu-satunya sumber air warga. Selain membangun pabrik, PT Cemindo Gemilang juga membangun pelabuhan di Laut Bayah. Proyek pelabuhan ini menghabiskan sebagian besar dataran pantai yang biasanya menjadi tempat menangkap ikan nelayan lokal.

Hilir mudik kendaraan berat, tronton, dan kapal tongkang setiap hari tersaji di lokasi ini dan menjadi tontonan warga dan pengguna jalan yang melintas. Kendati belum selesai dibangun, keberadaan pelabuhan ini dinilai sangat mengganggu oleh nelayan. “Biasanya banyak ikan di sekitar lokasi pembangunan dermaga tapi sekarang kami harus mencari ikan lebih ke tengah atau lokasi lain,” kata Yasin, salah seorang nelayan setempat.

Proyek raksana dengan nilai investasi Rp 6 triliun ini pun tidak saja mengancam kelestarian lingkungan dalam jangka waktu yang lama. Soalnya, dampak buruk seperti kerusakan jalan, kecelakaan lalu-lintas, dan polusi sudah lebih dulu dirasakan warga sekitar. “Setelah ada pembangunan pabrik semen ke Bayah banyak tronton pengangkut barang. Tronton sangat merusak jalan dan tak jarang menyebabkan kecelakaan pengendara karena jalan yang digunakan sempit,” kata Dendi, warga Bayah lainnya.

Benar kata Dendi, jalan raya Bayah-Malingping berdasarkan pantauan Banten Raya sebagian besar rusak parah. Lalu lintas truk pengangkut material pabrik semen hilir mudik dan memaksa pengguna jalan menyingkir. Jika tidak, maka kecelakaan sering terjadi. Kerusakan jalan ini cukup merepotkan pengguna jalan terutama pengusaha angkutan umum. “Angkutan umum jurusan Bayah-Rangkas sekarang berkurang jumlahnya karena banyak yang rusak di jalan. Kalau pun ada sehari paling dua kali pagi dan siang. Kalau udah kesorean jangan harap ada angkutan umum ke Bayah atau sebaliknya,” kata Dendi. (MUHAEMIN )

Beri komentar


Security code
Refresh