Gudang Pupuk Oplosan Digerebek


PANDEGLANG
– Sebuah bangunan bekas penggilingan padi di Kampung Cimongkor, Desa Curugbarang, Kecamatan Cipeucang, digerebek petugas gabungan dari Polsek Cimanuk dan Polres Pandeglang, Jumat (29/8) malam. Penggerebekan dilakukan lantaran lokasi tersebut diketahui dipakai mengoplos pupuk bersubsidi oleh empat pelaku yang akhirnya digelandang ke Mapolres Pandeglang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pelaku tertangkap saat sedang mengoplos pupuk bersubsidi. Mereka itu terdiri dari 1 orang penyandang dana dan 3 orang dengan status pekerja. Tidak ada perlawanan dari pelaku saat ditangkap sebelum akhirnya dibawa ke mapolres untuk dilakukan pemeriksaan. “Sudah lama kami curigai tempat itu (eks penggilingan padi-red) tempat mengoplos pupuk. Saat digerebek memang terbukti,” kata Kanit III Satreskrim Polres Pandeglang Ipda Dik Dik Rustandi, Minggu (31/8).

Menurut Ipda Dik Dik, para pelaku masih dalam pemeriksaan intensif karena masih dibutuhkan keterangan lainnya. Keempat pelaku yang sudah diamankan dijerat pasal 8 ayat (1) huruf e jo pasal 62 ayat (1) UU RI nomor 8 tahun 1999, tentang Perlindungan Konsumen, dan atau pasal 37 jo pasal 60 ayat (1) huruf f UU RI nomor 12 tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman, dan atau Permendag RI nomor 15/M.DAG/PER/4/2013, Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk sektor pertanian. “Para pelaku diancam hukuman di atas 5 tahun penjara,” ujarnya.

Kasat Reskrim Polres Pandeglang AKP Gatot Priyanto mengatakan, keempat tersangka itu diantaranya, ID (30), wiraswasta, warga Kampung Tari Kolot, Desa Kalang Gunung, Kecamatan Cipeucang. MK (31), warga Kampung Rumingkang, Desa Curugbarang, Kecamatan Cipeucang. Di (30), warga Kampung Tari Kolot, Desa Kalang Gunung, Kecamatan Cipeucang dan AY (31), warga Kampung Tari Kolot, Desa Kalang Gunung, Kecamatan Cipeucang. “Pengakuan semua tersangka, mereka mengetahui bahwa pupuk bersubsidi tidak boleh dioplos seperti itu. Karena itu harus sampai ke petani langsung dengan harga jual yang lebih murah,” terang AKP Gatot Priyanto.

Hasil pemeriksaan sementara, ketiga pelaku tidak mengetahui barang yang dioplosnya itu berasal darimana. Karena, semua dikoordinir oleh tersangka ID, sementara ketiga buruhnya hanya melakukan yang diperintahkan ID. “Karyawan atau buruh itu, hanya diberi upah Rp 60 ribu per ton. Sedangkan ID mendapat bayaran Rp 150 ribu per kg,” jelasnya. Menurut Kasat, pihaknya masih akan terus mendalami dan mengembangkan kasus tersebut. Karena, diduga masih ada pelaku lainnya yang belum tertangkap. Pihaknya juga sudah mengamankan sejumlah barang bukti sebagai sampel, untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

Salah seorang pelaku ID mengaku barang yang merupakan campuran oplosan itu terdiri dari TSP, urea, tepung, dan bahan pewarna, yang masing-masing dipasok dari daerah Karawang, Jawa Barat. Sedangkan pupuk ureanya, dibeli dari kios-kios sekitar yang dibeli secara eceran. “Saya baru seminggu melakukan ini, tempat itupun dikontrak Rp 3,5 juta per tahun. Barangnya dikirim dari Karawang, dari teman saya. Dari hasil oplosan itu, kemudian dikemas menggunakan karung baru jenis NPK Patani, ukuran 50 kg per karung,” akunya. Pria yang merupakan mantan karyawan di sebuah perusahaan suplayer kacang kedelai ini mengaku, sudah sempat melakukan dua kali pengiriman masing-masing 6 ton dan 8 ton. “Yang sedang dalam proses pembuatan, pada Jumat lalu, sekitar 5 ton. Rencananya malam itu juga mau dikirim ke Karawang,” imbuhnya. (muhamein)

Beri komentar


Security code
Refresh