Tidak Lulus SD, Kelola Kantin Kejujuran


*Kiprah Hasan Basri Melawan Korupsi


PANDEGLANG  - Hasan Basri mengajak warga untuk berlaku jujur, lewat usaha kantin yang dikelolanya. Dia tidak takut merugi, malah usahanya telah berjalan 1 tahun. Berikut penuturannya.

Hasan Basri tinggal di Kampung Kadu Tanggai, Desa Purwarja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Pria yang biasa dipanggil Embas ini bercerita awal mula mendirikan kantin kejujuran.  Kantin kejujuran yang Embas kelola sudah hampir satu tahun ini berjalan. Ruang kantinnya memang tidak begitu besar, dan yang dijualnya pun tidak ada yang unik. Hanya mie rebus, kopi, minuman, dan makanan ringan. Biasanya Embas membuka kantin dari pukul 08.00 hingga 21.00 WIB di Komplek Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Berkah.

Diketahui Embas merupakan salah seorang warga binaan dari PKBM Berkah. “Modal saya di sini hanya kepercayaan saja, dari mulai saya belajar sampai sekarang saya dipercaya untuk mengelola kantin. Karena itu kantin ini juga saya beri nama kantin kejujuran, sekolah saya tidak lulus. Semuanya saya ikut ujian kesetaran dari mulai tingkat dasar sampai tingkat atas, baca nulis dan hitung alhamdulilah saya lancar, dan lewat kantin ini saya ingin ajak semua jujur,” tuturnya saat ditanya Banten Raya.          

Embas mengaku setiap hari dirinya menjalankan aktivitas mengelola kantin kejujuran ini. Biasanya para pembeli yang datang mulai dari pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Kebetulan di sini ada warnet, rental komputer, dan perpustakan umum sehingga selalu banyak saja yang datang. Menurut Embas, dirinya dipercaya mengelola kantin sudah berjalan tujuh tahun, namun kalau untuk ide dengan nama kantin kejujuran baru satu tahun, tepatnya sejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sering menggemborkan bahwa jujur itu hebat dan ide itu muncul. “Di kantin ini biasanya datang para pembeli khususnya pelajar, saya selalu membiarkan pembeli keluar masuk kantin, tidak takut diambil uang atau barang dagangan karena mereka juga mungkin malu dengan plang kantin yang berisikan kantin kejujuran,” ujarnya.

Masih kata Embas, ternyata dengan membuat ide kantin kejujuran ini tidak pernah membuat para pembeli atau pelanggan kabur. Bahkan sekarang makin banyak saja karena para mahasiswa di sekitaran Menes juga kerap kongkow di kantin ini. Lebih jauh Embas menerangkan, di kantinnya sengaja tidak menjual rokok, selain memang untungnya kecil, juga karena banyak anak-anak sekolah yang kerap jajan di sini. Karena itu dia tidak ingin generasi penerus masih belajar sudah terkontaminasi oleh racun.  

“Saya tidak mau menjual rokok apalagi kepada para pelajar, saya juga malu kan karena di lingkungan ini juga sudah bagian dari komplek pendidikan, meskipun ada yang merokok itu orang dewasa dan itu juga bukan dibeli dari kantin ini,” ungkapnya. Didin Solehudin, seorang pengurus PKBM dan pelanggan dari kantin kejujuran mengaku, adanya kantin memang sangat membantu bagi kegiatan di komplek PKBM berkah ini, dan lewat kantin ini juga Embas bisa memiliki kegiatan rutin sehari-hari. Dulunya Embas merupakan bagian dari warga binaan, saat ini dia dipercaya menjadi pengelola kantin kejujuran. “Embas merupakan salah satu orang yang optimismenya besar, meski tidak lulus sekolah namun dia mampu menjalankan kegiatan dan selalu bersemangat sampai sekarang,” katanya. AGUS LANI



Beri komentar


Security code
Refresh