Mengunjungi Habitat Badak di TNUK (2-Habis)


Pesisir TNUK Terancam Ilegal Fishing

PANDEGLANG
- Eksotisme kawasan TNUK saat ini masih terjaga. Badak cula satu yang legendaris juga tetap menjadi bahan ‘jualan’ utama pengelola taman nasional kepada turis lokal dan mancanegara dan kepada pihak-pihak yang punya kepentingan terhadap keberadaan badak.

Namun di balik itu semua, kawasan TNUK ternyata punya ancaman serius yakni illegal fishing, dimana kegiatan ini telah terbukti merusak salah satu pulau indah yakni Badul yang kondisinya saat ini gundul dan tandus. Illegal fishing ini diakui oleh WWF dan para nelayan setempat dilakukan oleh nelayan yang berasal dari luar Kecamatan Sumur atau luar Pandeglang. “Nelayan dari luar wilayah Pandeglang banyak yang sampai kesini dan menggunakan bom ikan dan pukat harimau untuk menangkap ikan. Makanya, karang-karang di pesisir TNUK ada sebagian yang rusak dan tidak ada ikannya. Nelayan di wilayah ini melakukan kegiatan nelayan dengan alat tradisional karena mereka sangat paham bagaimana caranya melestarikan laut dan ini dilakukan turun menurun,” terang Fauzan, pemuda yang juga warga setempat yang punya perhatian serius dalam konservasi alam dan tergabung dalam Sahabat Ujung Kulon.

Apa yang dikatan Fauzan diatas memang tidak ada salahnya. Nelayan di Kecamatan Sumur cukup arif dalam memperlakukan alam serta menghormati regulasi yang diterapkan TNUK yang datang jauh sebelum warga ada. Sebelum BTNUK terbentuk masyarakat di Kecamatan Sumur konon sudah lebih dulu punya konsep dan kiat melestarikan badak atau binatang yang ada di TNUK. Seperti contoh warga tidak berani memasuki kawasan hutan dengan sembarangan apalagi menebang pohon. Untuk menangkap ikan saja di sekitar kawasan warga sangat berhati-hati karena ada kepercayaan jika laut dan hutan di wilayah ini ada yang menunggu. Istilah pengantin, sebutan lain untuk buaya ukuran besar juga sangat familiar di wilayah ini. ”Nyebut buaya saja warga sudah tidak berani dan mengganti namanya dengan pangantin. Ini sangat dipercaya dan secara tidak langsung menjadi wahana perlindungan alami kawasan hutan sekitar termasuk TNUK,”  terang Uci, seorang nelayan.

Sementara itu, Kepala Balai TNUK Muhamad Haryono tidak membantah jika warga punya kearifan lokal yang efektif menjaga kelestarian hutan. Hanya saja ancaman dari luar sering datang yakni nelayan dengan menggunakan alat moderen. “Kawasan taman sangat luas dan tersebar menjadi beberapa pulau, sementara petugas yang kami miliki tidak sebanding dengan luas wilayah. Ini menjadi kendala tersendiri di lapangaan,” terang Agus. MUHAEMIN



Beri komentar


Security code
Refresh