Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 231 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 294 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 249 | Komentar

Baca


Banjir Coreng Wajah Ibukota Provinsi


SERANG –
Pengamat Tata Kota dari Unsera Dita Setyo Rini menilai bahwa banjir yang kerap terjadi di jalur utama atau protokol dan pusat Kota Serang telah mencoreng citra Ibukota Provinsi Banten. Sebab, banjir yang terjadi di sekitaran pusat kota yang seharusnya menjadi percontohan karena mudah untuk dipantau.

“Perlu ada perhatian serius karena memang titik-titik yang mengalami banjir adalah titik-titik yang memang ibukota. Artinya bukan daerah yang jauh sehingga tidak terpantau. Sebenarnya banjir yang terjadi telah mencoreng wajah Kota Serang sendiri,” ujarnya saat dihubungi Banten Raya, Senin (8/5).

Lulusan program pascasarjana teknik sipil Universitar Indonesia (UI) itu mengaku, dirinya sangat tak menginginkan jika sampai banjir menjadi ancaman keselamatan masyarakat Kota Serang mengingat volume kendaraan di jalur utama sangat padat.

“Kalau sudah terjadi genangan air cukup meresahkan. Dari segi ketinggian air juga sudah menghambat pengguna kendaraan. Banyak sekali lubang-lubang jalan yang tertutup air, jika kendaraan terutama roda dua melaju dengan kecepatan tertentu bisa berakibat fatal,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, sudah seharusnya Pemkot Serang melakukan inventarisasi. Dia mencontohkan dengan mulai melakukan inventarisasi drainase, apakah drainase yang ada perlu dilakukan pemeliharaan atau justru sudah tidak layak lagi. “Inventarisasi itu apakah memang berkaitan dengan drainase atau memang tata kota, harus dilihat secara mendalam.

Daerah tertentu sudah ada drainasenya, tapi sejauh mana drainase tersebut mampu menahan air yang turun harus diperhitungkan, apakah masih layak atau tidak. Apakah dimensi drainase terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung air atau bagaimana. Kalau tersumbat karena sampah maka perlu pemeliharaan dan memang seharusnya ada,” ungkapnya.

Selain itu, katanya, sudah saatnya Pemkot Serang juga memikirkan untuk memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH). Jika dirasa sulit karena keterbatasan lahan, maka pemkot bisa membangun sumur resapan air sebagai alternatifnya. “Tata kota juga harus dievaluasi, RTH di Kota Serang memang sangat kurang, itu menjadi PR bersama karena bagaimana pun perlu ada daerah resapan air.

Agak sulit juga membangunnya karena sebagian besar lahan sudah  berbentuk bangunan, tidak mungkin tiba-tiba digusur dan dijadikan RTH. Tapi itu bukan alasan karena bisa juga pemkot membuat sumur resapan. Dengan demikian air yang ada  di permukaan bisa secara langsung meresap dan dialirkan secara cepat ke jalur pembuangan,” tuturnya.

Sebelumnya, Seksi Pengembangan Kawasan Perumahan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Serang Abdul Qodir mengungkapkan, drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan infrastruktur. Apabila diabaikan, maka potensi banjir tak dapat dihindari. "Bahkan tanpa kita sadari, penyebab banjir adalah ulah kita sendiri. Rata-rata warga yang rumahnya di pinggir maju kedepan dan itu menutup jalan air," pungkasnya. (dewa)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir