Crime News

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 849 | Komentar

Baca

Pembuang Bayi Itu Pelayan Kafe

News image

PASARKEMIS - Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan yang ari-arinya masih ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 568 | Komentar

Baca

Puluhan Anak di Pandeglang Diduga Disodomi

News image

PANDEGLANG – Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 24 Maret 2017 | Klik: 693 | Komentar

Baca


Ingin "Racuni "Masyarakat, Manfaatkan Zaman Eksis


KOTA SERANG
– Sebagai seorang seniman lukis, Herman Kimong menilai bahwa salah satu kesenian tersebut kurang begitu tenar di Kota Serang. Kini dengan lukisan wajah dia bertekad meracuni masyarakat Ibukota Banten itu agar tergila-gila karya seni lukisan.

Dengan dipersenjatai koas dan pensil, tangannya tak henti memulas kanvas. Sorot matanya cukup tajam memastikan lukisannya benar-benar sempurna. Pemandangan itu akan selalu terlihat di salah satu kios di depan makam pahlawan di kawasan Stadion Maulana Yusuf, Ciceri Kota Serang, terutama pada pagi menjelang siang.

Di bangunan berukuran 2x2 meter itu lah Herman menciptakan sebuah karya seni lukisnya yang dia beri nama Work Shop Seni Rupa. Untuk jenis lukisan yang diproduksi dari pabrik karya seninya, dia khususkan pada lukisan wajah atau sket. Itu terlihat dari dua contoh lukisan wajah di pintu kiosnya dan satu lukisan ukuran besar yang sedang digarapnya siang itu juga adalah lukisan sket.

Penampilan seorang seniman memang seperti memiliki penampilan khas, begitu pun Herman saat berbincang dengan Banten Raya. Rambut ikal panjang yang diikat ke atas, berkumis dan berjenggot, kaos oblong hitam, kedua pergelangan tangan dipenuhi gelang serta celana panjang robek di bangian dengkul adalah gambaran penampilan yang menjadi ciri khasnya.

Usai menggelar perbincangan pembuka diketahui bahwa baru sepekan Herman membuka Work Shop Seni Rupa. Itu dia lakukan tepat setelah dia kembali menginjakan kaki ke tanah kelahirannya usai kembali perantauan di Bali sejak 2007.

Tanpa pikir panjang dan memang sesuai keahliannya, Herman pun langsung membuka ladang usahanya menggunakan uang sisa perjuangan di tanah perantauan. “Baru minggu kemarin buka, pas saya pulang dari Bali setelah merantau,” ujarnya.

Kalau membuka usaha dengan lukisan idealis pasti tidak akan akan laku, mungkin akan berbeda cerita jika itu lukisan wajah, begitu yang ada dalam pikirannya. Menurutnya, lukisan wajah cukup sederhana baik dari proses pembuatannya dan orang awam pun akan mudah mengerti apa maksud lukisan itu.

“Lukisan masih dibandang sebelah mata, di sini orang-orang belum begitu antusias pada lukisan. Makannya saya ingin meracuni mereka supaya tergila-gila dengan lukisan. Saya pilih luksan wajah saja karena lebih sederhana. Kalau lukisan idealis seperti abstrak pasti orang-orang tidak akan tertarik,” katanya.

Pertimbangan lain dia lebih memilih lukisan wajah dikarenakan saat ini sedang zaman eksis. Orang begitu antusias untuk memamerkan wajahnya dari berbagai media untuk dilihat publik. Pilihannya terbukti tepat, karena baru sepekan dibuka pesanan mulai berdatangan.

“Zaman eksis sekarang, saya pikir cocok kalau usaha pada lukis wajah. Apalagi di Kota Serang belum   banyak yang seperti ini. Karena lukisan wajah, sejak dibuka sudah cukup banyak yang datang ke work shop. Kalau dibanding pesanan lukisan idealis tentu sangat jauh dari segi jumlah,” ungkapnya.

Bagaimana jika ingin wajah kita dilukis, Herman merincinya. Mereka yang memang berminat wajahnya atau orang terdekatnya diluikis cukup mendatangi work shop-nya dengan membawa sebuah foto wajah sebagai objek lukis.

Soal waktu dan tarif tergantung ukuran dan jenis lukisan yang dipesan. Untuk lukisan wajah jenis sket (metode lukisan dengan pensil) ukuran 10R dibanderol dengan harga Rp 100.000. Sedangkan untuk jenis siluet (metode lukisan wana gelap) dengan ukuran yang sama dibanderol Rp 75.000.“Waktu pengerjaan juga sebentar, untuk sket itu 10 menit kalau siluet lebih singkat hanya 10 menit. Kalau warna itu harganya dua kali lipat tapi lama pengerjaan tetap sama,” tuturnya.

Dengan tempat usaha barunya itu Herman berharap antusias masyarakat terdapat karya lukis bisa meningkat. Pun demikian dengan ekonominya yang diharapkan juga bisa terangkat. Memanfaatkan tren yang sedang perkembang sebagai ladang usaha memang pilihan yang tepat. Meski demikian, tren biasanya memiliki usia sehingga siapa pun yang memanfaatkannya harus punya langkah antisipasi. Tetapi, sebuah karya seni memiliki nilai tersendiri dan semoga itu tak lengkang oleh waktu. (TIRTADEWA)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir