Crime News

Kabur ke Hutan, Pencuri Ditembak Polisi

News image

LEBAK - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lebak menembak dua da...

Hukum & Kriminal | Selasa, 7 November 2017 | Klik: 117 | Komentar

Baca

Uang ATM Ratusan Juta Dibobol Maling

News image

PANDEGLANG – Sebuah minimarket di jalan Pandeglang-Serang, Kampung Cigadung, Kelurahan Ci...

Hukum & Kriminal | Jumat, 3 November 2017 | Klik: 161 | Komentar

Baca

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 616 | Komentar

Baca


Patriotisme Mulai Memudar


SERANG- Tokoh masyarakat Provinsi Banten Nadjmudin Busro mengatakan bahwa saat ini rasa patriotisme mulai memudar dan digantikan dengan perutisme. Bila dahulu para pahlawan membela Tanah Air tanpa memikirkan kesenangan diri mereka sendiri, bahkan banyak yang hidup miskin, saat ini yang terjadi sebaliknya. Orang-orang lebih banyak memikirkan perut mereka ketimbang negara, yang dalam istilah Nadjmudin disebut sebagai perutisme.

"Maka semangat ini harus dikembalikan agar patriotisme kembali hidup," ujar Nadjmudin saat Seminar Hari Pahlawan dengan tema "Semangat Kepahlawanan Untuk Membangun Negeri" yang digelar Forwacita Kabupaten Serang di S Rizky, Selasa (14/11).

Nadjmudin mengaku heran dengan anak muda saat ini yang mengagung-agungkan Che Guevara. Meski Che Guevara merupakan tokoh revolusioner dan berkawan dengan Soekarno, namun menurutnya, seharunya anak muda saat ini lebih bangga dengan para pahlawan yang dimiliki Indonesia.

Sebab bangsa Indonesia mempunyai banyak pahlawan yang tidak kalah dengan pahlawan negara lain seperti Soekarno, Hatta, Syafruddin Prawiranegara, dan yang lainnya. "Alangkah indah Tanah Air tuan tapi tak seindah Tanah Air hamba. Maka bilang alangkah hebat pahlawan di negara tuan tetapi tak sehebat pahlawan di Tanah Air hamba," katanya.

Dosen Universitas Mathla'ul Anwar Eko Suprianto mengatakan, membicarakan pahlawan bukan hanya sebatas membicarakan mengenai bambu runcing, upacara tabur bunga, doa untuk pahlawan, lalu setelah itu selesai. Membicarakan pahlawan adalah berbicara tentang keilmuan, intelektual, propaganda, ideologi, dan peran para pemuda.

Ia mencontohkan gerakan pemuda bisa ditelisik mulai dari pendirian Boedi Utomo, proklamasi kemerdekaan, sampai yang terakhir adalah reformasi yang digerakkan mahasiswa. Karena itu yang harus dibangun oleh generasi muda adalah semangat keilmuan. "Senjata yang keren itu bukan bambu runcing atau pistol tetapi ilmu dan kecerdasan yang dalam tradisi keilmuan perguruan tinggi disebut ideologi," ujarnya.

Sekjen Gema Saba Pusat Adam Ma'rifat mengatakan bahwa pemaknaan pahlawan seharusnya tidak dilihat secara sempit sebagai mereka yang gugur di medan perang. Namun kepahlawanan harus dilihat sebagai adanya nilai-nilai heroik yang menjadi semangat para pahlawan, yaitu sikap rela berkorban dan berani.

Apalagi di tahun 2017 sudah tidak ada lagi perang fisik seperti pada masa revolusi dahulu. Dengan adanya pandangan semacan ini, maka bisa jadi ada banyak pahlawan di sekeliling kita. “Kita tidak pernah tahu di tempat kerja atau di RT kita ada pahlawan,” katanya.

Sementara itu ketua pelaksana seminar M Asep Rahmatullah berharap diskusi ini dapat membangkitkan semangat para pemuda untuk membangun negeri dengan memberikan kontribusi aktif dengan berbuat hal-hal yang bermanfaat. Ia mengajak semua elemen masyarakat membangun negari ini dengan karya nyata, baik di bidang keilmuan, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan lainnya.
“Mari kita sama-sama menjadi pahlawan dengan jiwa dan raga demi negara Indonesia," kata Asep. (tohir)

Beri komentar


Security code
Refresh