Crime News

Pelaku Utama Pembunuhan Siti Dituntut 10 Tahun

News image

SERANG - ER (18), terdakwa pembunuhan Siti Marhatusholihat (17), warga Ka...

Hukum & Kriminal | Rabu, 17 Januari 2018 | Klik: 26 | Komentar

Baca

Tabrak Mobil, Pengendara Motor Tewas

News image

SERANG- Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Abdul Fatah Hasan, Ko...

Hukum & Kriminal | Senin, 8 Januari 2018 | Klik: 94 | Komentar

Baca

Babeh Terancam 15 Tahun

News image

JAKARTA- Kembali terjadinya kasus sodomi membuat khawatir beberapa pihak. Menteri Pe...

Hukum & Kriminal | Senin, 8 Januari 2018 | Klik: 69 | Komentar

Baca


Omzet Pedagang Terompet Anjlok


SERANG- Omzet pedagang terompet mengalami penurunan drastis pada perayaan tahun baru 2018. Hal tersebut terjadi karena adanya isu penularan penyakit difteri melalui terompet. Pedagang terompet di kawasan Alun-alun Kota Serang Rohman mengatakan, penjualan terompet untuk tahun ini terbilang lesu.

Jika biasanya terompetnya sudah habis sebelum malam tahun baru, kini justru sebaliknya.“Kalau tahun-tahun sebelumnya sehari bisa dapat Rp 500 ribu sampai Rp1 juta. Sekarang paling Rp 100 ribu Rp 200 ribu aja. Lumayan penurunannya,” ujarnya, Senin (1/1).

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tersebut, pertama mulai maraknya terompet menggunakan gas. Faktor selanjutnya adanya isu penyakit difteri yang bisa menular melalui terompet yang ditiup.

“Adanya terompet gas yang bunyi hanya dengan menekan dari tahun-tahun sebelumnya memang sudah berpengaruh. Sekarang ditambah sama isu difteri, ya sudah makin anjlok pendapatan kita. Waktu saya menawarkan terompet juga ada warga yang bilang takut kena difteri,” katanya.

Meski penjualan terompet tiup anjlok, dia mengaku tetap bisa menjual terompet untuk jenis gas. Penjualan terompet modern itu masih terbilang asing bagi warga yang kadung akrab dengan terompet tiup. Akibatnya, penjualannya pun belum bisa menutupi kerugian.

“Ya untungnya saya menjual terompet gas juga. Jadi warga yang sudah tahu ada terompet gas beralih ke sana. Sayangnya, warga di sini kebanyakan tahunya terompet itu ditiup, jadinya penjualan terompet gas yang dijual Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu belum bisa mendongrak pendapatan,” ungkapnya.

Warga di Kelurahan Panancangan, Kecamatan Cipocok Jaya Herlina mengaku sengaja tak membeli terompet untuk anaknya karena takut tertular penyakit difteri. Padahal setiap tahunnya dia selalu membelikan aksesoris khas tahun baru tersebut.

“Biasanya memang suka beli buat senengin anak, cuma sekarang enggak dulu deh. Ya antisipasi saja, kan di berita-berita sudah ada peringatan bisa menular lewat terompet. Tahun baru sekarang enggak ada terompet, saya ajak anak-anak liat kembang api aja buat hiburan,” tuturnya wanita 4 anak ini. (dewa)

Beri komentar


Security code
Refresh