Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 83 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 60 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 86 | Komentar

Baca


Jengkol Penyumbang Inflasi


SERANG-
Jengkol yang merupakan tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara salah satu penyumbang inflasi di Banten. Sedangkan penyumbang inflasi terbesar adalah makanan jadi. Hal tersebut disampaikan Gubernur Banten Wahidin Halim (WH), Rabu (6/2).

Menurutnya, Januari kemarin inflasi di Banten lumayan tinggi, hal tersebut disebabkan oleh kenaikan harga beras, cabai, harga tarif dasar listrik, tiket pesawat dan bawang. Sedangkan inflasi di tingkat kabupaten/kota yang tertinggi terjadi di Kota Tangerang, Cilegon dan Kabupaten Tangerang.

“Pemprov Banten berupaya untuk menekan angka inflasi di Banten dengan berbagai cara, di antaranya adalah dengan memangkas distribusi barang dan melakukan operasi pasar,” kata WH.
Selain itu, lanjut WH, Pemprov Banten juga akan membangun pertumbuhan ekonomi, yang berbasis ekonomi kerakyatan. “Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang berbasis kerakyatan, tentunya mampu menekan inflasi di Banten,” ungkapnya.

Senada disampaikan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) dan tim inflasi daerah, jengkol yang menjadi makanan yang sering dikonsumsi warga Banten salah satu penyumbang inflasi di Banten. “Meskipun jengkol penyumbang inflasi nol koma sekian persen, namun tetap menjadi perhatian serius Pemprov Banten,” katanya.

NILAI EKSPOR JATUH LAGI
Sementara itu diketahui bahwa nilai ekspor Banten kembali jatuh, meski sempat naik selama beberapa bulan pada akhir 2017. Kondisi tersebut lantaran menurutnya ekspor sektor nonmigas dari USD 1.023,26 juta pada November  2017 menjadi USD 927,40 juta di Desember 2017 atau sebesar 9,37 persen.

Nilai ekspor Banten sempat mengalami kemerusutan selama 2 bulan yaitu periode Agustus dan September. Penurunan terjadi disebabkan saat kondisi ekonomi yang masih berada pada tahap perbaikan pasca krisis global.

Namun mulai periode Oktober nilai ekspor kembali mengalami kenaikan sebesar 6,23 persen menjadi USD 945,64 juta. Kemudian di November 2017 kembali mengalami kenaikan sebesar 8,22 persen menjadi USD 1.023,34 juta. Kenaikan tersebut dipicu oleh ekspor nonmigas yang juga mengalami peningkatan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Agoes Soebeno mengatakan, nilai ekspor Banten Desember 2017 turun 9,34 persen dibanding ekspor November 2017. Secara nominal turun dari bulan sebelumnya dari USD 1.023,34 juta menjadi USD 927,73 juta.

“Kebalikannya, ekspor migas naik 308,32 persen dibanding bulan sebelumnya, dari USD 0,08 juta menjadi USD 0,32 juta tak memengaruhi nilai ekspor secara keseluruhan,” ujarnya melalui keterangan tertulisnya.

Ia menuturkan, adapun penyebab turunnya nilai ekspor di Banten disebabkan oleh penurunan nilai ekspor di sektor non migas. “Penurunan nilai ekspor tersebut terutama disebabkan oleh ekspor nonmigas Desember 2017 yang mengalami penurunan 9,37 persen dibanding November 2017, dari USD 1.023,26 juta menjadi USD 927,40 juta,” katanya.

Dibanding periode yang pada 2016, kata dia, nilai ekspor juga mengalami penurunan 1,36 persen. Penurunan nilai ekspor tersebut didorong oleh ekspornonmigas yang turun 1,00 persen dan didukung oleh turunnya barang migas sebesar 91,47 persen.

Negara tujuan ekspor nonmigas terbesar di Desember 2017 adalahi Amerika Serikat dengan nilai ekspor USD 150,01 juta. Ekspor nonmigas Desember 2017 mengalami penurunan nilai pada sektor pertanian dan industri yang dibarengi oleh peningkatan pada sektor tambang dan lainnya.

“Lebih lanjut, nilai ekspor kumulatif Banten untuk periode Januari-Desember 2017mencapai USD 11.253,36 juta atau meningkat 20,63 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor periode ini lebih disebabkan oleh ekspor nonmigas yang meningkat 20,87 persen mengingat pada ekspor migas terjadi penurunan 35,75 persen,” ungkapnya.

Kondisi yang sama juga ternyata terjadi di bidang impor. Nilai impor Banten Desember 2017 turun 11,75 persen dibanding November 2017, dari USD 1.018,78 juta menjadi USD 899,06 juta. Impor nonmigas Desember 2017 mengalami penurunan 12,55 persen dari USD 677,28 juta menjadi USD 592,31 juta

“Impor migas Desember 2017 turun sebesar 10,18 persen menjadi USD 306,75 juta. Nilai impor nonmigas terbesar Desember 2017 berasal dari golongan barang bahan kimia organik (HS 29) yang
mencapai USD 186,82 juta. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar padaDesember 2017 adalah Singapura dengan nilai imporsenilai USD 68,50 juta,” tuturnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Soeharso mengatakan, pihaknya saat ini sedang mendorong produk pertanian di Banten untuk bisa diekspor. “Ada kekhawatiran impor beras akan menurunkan harga beras petani lokal mengingat akan ada panen raya dalam wkatu dekat. Untuk mengimbangi itu saya berpikir bagaimana jika beras petani diekspor saja? Kalau memang stok sudah melimpah,” katanya. (satibi/dewa)


Beri komentar


Security code
Refresh