Crime News

Kabur ke Hutan, Pencuri Ditembak Polisi

News image

LEBAK - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lebak menembak dua da...

Hukum & Kriminal | Selasa, 7 November 2017 | Klik: 143 | Komentar

Baca

Uang ATM Ratusan Juta Dibobol Maling

News image

PANDEGLANG – Sebuah minimarket di jalan Pandeglang-Serang, Kampung Cigadung, Kelurahan Ci...

Hukum & Kriminal | Jumat, 3 November 2017 | Klik: 182 | Komentar

Baca

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 632 | Komentar

Baca


Seragam Tak Harus Beli di Sekolah


CILEGON
- Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Cilegon mengingatkan kepada setiap sekolah untuk tidak mewajibkan orangtua siswa membeli seragam di sekolah. Namun, orangtua siswa yang akan membeli seragam melalui koperasi di sekolah tidak dilarang.

Pantauan Banten Raya, Rabu (12/7), menjelang datangnya tahun ajaran baru 2017-2018, beberapa toko seragam sekolah dan alat tulis diserbu oleh pembeli. Mayoritas pembeli mencari seragam sekolah, alat tulis, seperti buku, pensil, pulpen, dan yang lainnya. Bukan hanya itu, beberapa jasa jahit baju seragam sekolah juga kebanjiran pesanan.

Kepala Dindik Kota Cilegon Muhtar Gojali mengatakan, memasuki tahun ajaram baru, pihaknya telah mengingatkan sekolah khususnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk tidak mewajibkan orangtua siswa membeli seragam di sekolah. Namun, dirinya tidak melarang jika ada orangtua siswa yang akan membeli seragam melalui koperasi sekolah.

“Tergantung kesepakatan antara sekolah dan orangtua siswa saja. Bila sekolah ada yang mau mengkoordinir pembelian seragam tidak masalah kalau orangtua siswa setuju. Sehingga tidak ada paksaan harus membeli seragam di sekolah di mana siswa tersebut belajar,” kata Muhtar kepada Banten Raya.

Dikatakan Muhtar, meski tahun ajaran baru, seragam sekolah seharusnya tidak harus baru. Dirinya mencontohkan siswa yang SD yang naik dari kelas satu atau kelas dua untuk bisa memakai seragam sekolah yang telah dipakainya pada tahun ajaran sebelumnya. Begitu juga dengan siswa kelas VII atau kelas VIII SMP yang naik ke kelas VIII atau IX.

“Tapi, kalau untuk yang masuk tingkatan baru seperti SD masuk SMP atau SMP masuk SMA, tentunya seragam baru karena seragam dari sekolah sebelumnya berbeda. Namun, jika siswa tersebut mempunyai kakak di sekolah yang sama kan bisa juga pakai seragam kakaknya atau saudaranya,” ucap Muhtar.

Menurut Muhtar, seragam sekolah yang pembeliannya dikoordinir oleh sekolah akan lebih baik. Pasalnya, untuk pemilihan warna cenderung akan sama semua tidak ada yang berbeda. “Kalau beli sendiri, misal seragam SD putih merah. Celana merah kan kadang ada yang merahnya biasa ada yang merahnya tua. Kalau berbeda tentu kan tidak sedap dipandang,” tuturnya.

Ditambahkan Muhtar, bukan hanya seragam sekolah, memasuki tahun ajaran baru biasanya siswa juga membutuhkan alat tulis baru, begitu juga buku paket baru. Khusus buku paket, dirinya menyarankan orangtua siswa untuk membelikan anaknya bagi orangtua yang mampu. Pembelian buku paket juga tidak harus melalui sekolah, karena sifatnya untuk menunjang pembelajaran.

“Kalau buku paket kan dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) hanya sekadarnya, kalau mampu yang lebih baik beli sendiri lagi atau bisa juga meminjam ke kakak kelas. Kalau tidak mampu juga jangan dipaksakan,” imbuhnya.

Pemilik Toko Seragam Sekolah yang berada di Jalan DI Panjaitan, Hendrik Limboro mengatakan, selama sepekan terakhir memang ada peningkatan pembeli khusus seragam sekolah. Hari biasanya, jumlah pembeli hanya sekitar 25 sampai 30 orang per hari. Pada sepekan terakhir, pembelinya bisa mencapai 100 atau 200 orang per hari. Sehingga, pendapatannya bertambah. Sayangnya, pengusaha muda ini enggan membeberkan penghasilan tokonya selama sepekan terakhir.

Kata Hendrik, pembeli mayoritas memburu seragam sekolah untuk SD dan SMP, seperti baju putih, baju pramuka, dan topi. Selain pembelian baju jadi, jasa jahit baju yang juga disediakan tokonya juga kebanjiran pesanan. “Kalau yang jahit, itu biasanya yang dapat seragam dari sekolah atau yang sengaja membeli bahan dan dijahitkan ke kami, karena kalau jahit sendiri biasanya lebih pas di badan,” tuturnya.


Orangtua siswa, Suryati mengatakan, dirinya membelikan seragam baru bagi anaknya lantaran anaknya naik dari kelas I SD ke kelas II SD. “Sebenarnya, seragam sekolahnya yang dulu masih bagus, cuma karena anak saya mulai tumbuh besar jadi seragamnya kekecilan. Selain baju juga tas sama sepatu juga beli, karena belinya setahun sekali pas tahun ajaran baru,” kata warga Taman Baru, Kecamatan Citangkil.

Penjaga toko alat tulis di salah satu toko alat tulis di Kota Cilegon, Ajat Sudrajat mengatakan, pembeli alat tulis juga meningkat tajam. Biasanya pembeli hanya 300 sampai 500 orang pembeli per hari. Sepekan terakhir, dalam sehari bisa mencapai seribu pembeli. Kalau pendapatan kotor hari biasa hanya sekitar Rp20 juta. Tapi, sepekan terakhir bisa mencapai Rp50 juta per hari. “Barang yang paling banyak dicari ya seperti buku, pensil, pulpen, dan alat tulis lainnya,” paparnya. (gillang)

Beri komentar


Security code
Refresh