Crime News

Kabur ke Hutan, Pencuri Ditembak Polisi

News image

LEBAK - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lebak menembak dua da...

Hukum & Kriminal | Selasa, 7 November 2017 | Klik: 113 | Komentar

Baca

Uang ATM Ratusan Juta Dibobol Maling

News image

PANDEGLANG – Sebuah minimarket di jalan Pandeglang-Serang, Kampung Cigadung, Kelurahan Ci...

Hukum & Kriminal | Jumat, 3 November 2017 | Klik: 159 | Komentar

Baca

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 615 | Komentar

Baca


Limbah Berbahaya 24.000 Ton Per Tahun


CILEGON - Produksi limbah berbahaya dari sejumlah industri di Kota Cilegon ternyata sangat tinggi. Bahkan, dalam satu tahun bisa mencapai 24.000 ton limbah yang masuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Mochammad Teddy Soeganda mengatakan, dalam setahun ada sekitar 24.000 ton sampah limbah B3 yang dihasilkan industri di Kota Cilegon.

"Jumlah tersebut diketahui dari manifes laporan pengelolaan limbah dari industri setiap triwulan. Setiap triwulan itu kita total sekitar 6.000 ton limbah B3," kata Teddy usai melakukan Sosialisasi Penerapan Mainfes Elektronik Kepada Perusahaan Penghasil Limbah B3 di Kota Cilegon, Selasa (14/11).

Dijelaskan Teddy, saat ini di Kota Cilegon ada sekitar 80 perusahaan yang menghasilkan limbah B3. Sementara untuk penghasil limbah lainnya jumlahnya ada ratusan industri besar. "Saat ini perusahaan semakin patuh untuk melaporkan limbah yang dihasilkan dari aktifitas industri," jelasnya.

Menurut Teddy, dengan adanya pelaporan hasil limbah dengan manifesi elektronik akan membuat data terkait limbah di Kota Cilegon semakin mudah diketahui dan dikontrol. Tahun depan, akan diterapkan pelaporan manifes limbah secara online. "Makanya saat ini kita sosialisasikan ke 80 perusahaan dulu yang penghasil limbah B3," tuturnya.

Ditambahkan Teddy, saat ini industri di Kota Cilegon ada yang limbahnya dikelola dengan instalasi pengelolaan air limbah (Ipal) milik perusahaan, ada juga yang diolah oleh perusahaan lain yang memiliki izin pengolahan limbah B3. "Perusahaan tidak boleh mengirim limbahnya ke prusahaan yang tidak memiliki izin pengolahan limbah.

Kalau tahun lalu, ada dua perusahaan yang membuang limbah tidak pada tempatnya mendapat hukuman denda Rp 1,7 miliar dari dua perusahaan di Ciwandan," tambahnya.Analis Data pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) RI, Harry Akhmad Fakri mengakui jika Kota Cilegon menjadi perhatiannya terkait banyaknya industri penghasil limbah B3.

"Saat ini kita lihat industri penghasil limbah B3, pengangkut, dan penerima limbah B3 untuk diolah semua kita minta untuk mendaftarkan diri pada Festronik (Manifes Elektronik Pelaporan Limbah)," ucapnya.
Harry menjelaskan, saat ini, pihaknya sedang menyusun aturan berupa Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) tentang pelaporan limbah dengan manifes elektronik. "Permen (Peraturan Menteri) itu sudah tahap finalisasi, nanti tinggal nunggu penetapan. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa diterapkan," jelasnya.

Pelaporan mainfesi limbah secara elektronik, katanya, akan memudahkan pengawasan limbah. "Untuk data perusahaan penghasil limbah, jumlah limbahnya akan jelas lagi kalau sudah online. Nah, ini kita lakukan sosialisasi kepada SDM perusahaan penghasil limbah B3," kata Harry. (gillang)





Beri komentar


Security code
Refresh