Crime News

Kabur ke Hutan, Pencuri Ditembak Polisi

News image

LEBAK - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lebak menembak dua da...

Hukum & Kriminal | Selasa, 7 November 2017 | Klik: 117 | Komentar

Baca

Uang ATM Ratusan Juta Dibobol Maling

News image

PANDEGLANG – Sebuah minimarket di jalan Pandeglang-Serang, Kampung Cigadung, Kelurahan Ci...

Hukum & Kriminal | Jumat, 3 November 2017 | Klik: 161 | Komentar

Baca

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 616 | Komentar

Baca


Mahasiswa Diminta Kawal Demokrasi


PANDEGLANG - Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KPPD) Provinsi Banten meyakini, mahasiswa di Banten mampu menjadi agen perubahan demokrasi. Selain itu, mahasiswa identik dengan kegiatan akademis seperti diskusi yang bisa dijadikan sarana untuk pendidikan pemilu dan demokrasi.

Hal itu diungkapkan aktivis KPPD Provinsi Banten, Yogi Iskandar dalam diskusinya bersama mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pandeglang, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Sabtu (28/10), di halaman Masjid Mujahidin Kadulogak, Menes, Kabupaten Pandeglang.

Menurut Yogi, mendongkrak partisipasi masyarakat diperlukan motivasi agar masyarakat yakin akan pentingnya partisipasi dalam pemilu. “Kita sering mendengar apatisme masyarakat kepada elit politik, baik kepada anggota legislatif, atau bahkan kepada presiden.

Hilangnya kepercayaan masyarakat harus diaplikasikan dalam wujud yang positif, yaitu mendorong agar masyarakat berpartisipasi secara politik misalnya mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, atau berpartisipasi untuk memilih calon legislatif yang diharapkan,” kata Yogi.

Diskusi yang diberi nama “Ngampar Samak, Cacahan Pemilu dan Demokrasi” tersebut, membahas sejumlah fenomena di lapangan, diantaranya money politic. Menurut Yogi, mahasiswa bisa melakukan pemantauan terhadap proses pemilu dengan cara menjadi pemantau pemilu. Hal itu kata dia penting untuk mendapat legalitas melaporkan ketika menemukan tindak pidana pemilu.

“Kajian tentang pemilu bagi kaum intelektual tidak mesti hanya bicara partisipasi memilih, namun berpartisipasi menjadi penyelenggara juga sangat penting. Salah satu upayanya yaitu mahasiswa yang tergabung dalam organisasi bisa mendaftar ke Bawaslu untuk menjadi pemantau pemilu,” ujarnya.

Masih kata Yogi, sangat disayangkan jika potensi mahasiswa diabaikan. Dia mengajak mahasiswa menangkap semua peluang dalam kancah kepemiluan. Dia juga merekomendasikan mahasiswa yang memenuhi syarat menjadi penyelenggara agar siap-siap bergabung dan berkontribusi.

“Mahasiswa bisa menjadi PPK atau Panwaslu, atau penyelenggara di tingkatan lainnya hingga akar rumput. Mahasiswa sangat berpotensi melaksanakan tugasnya dengan baik, dirasa sering melakukan latihan-latihan di kampus untuk bermasyarakat,” kata Yogi.

Peserta diskusi, Robi mengungkapkan, pihaknya tertarik mendalami pendidikan pemilu seperti menginventarisasi regulasi pemilu untuk dipelajari, sebagai landasan untuk terjun ke lapangan dalam kancah pemilu.“Diskusi seperti ini tepat dilakukan. Terlebih tahun 2019 kita akan dihadapkan dengan pemilu. Kalau bukan kita yang memberikan pendidikan ke masyarakat, ya siapa lagi,” kata Robi dengan antusias. (satibi)



Beri komentar


Security code
Refresh