Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 72 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 56 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 80 | Komentar

Baca


KA Rangkas-Jakarta Disandera

TANGERANG - Selama kurang lebih tiga jam, 8 rangkaian kereta api ekonomi jurusan Rangkas-Jakarta disandera oleh ribuan calon penumpang yang tidak kebagian tiket di Stasiun Daru, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Selasa (23/9). Akibat dari peristiwa itu, keberangkatan kereta api dari Rangkas ke arah Jakarta dibatalkan. Informasi yang dihimpun Banten Raya drama penyanderaan ini terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, yaitu ketika kereta api dari arah Rangkas menuju Jakarta berhenti menaikkan penumpang di Stasiun Daru. Tiba-tiba, calon penumpang yang menumpuk dan jumlahnya sudah mencapai ribuan tersebut, langsung menghalangi kereta, dan memerintahkan masinis untuk tidak mengoperasikan kereta api tersebut.

Aris (40), seorang calon penumpang kereta api arah Jakarta mengatakan, penumpukan calon penumpang sebenarnya sudah terjadi sejak pukul 05.00 WIB pagi. Namun karena banyak sekali calon penumpang yang tidak terakomodir oleh pelayanan penjualan tiket, akhirnya terjadilah penumpukan yang lebih banyak lagi. Dan untuk melampiaskan kekesalannya, calon penumpang yang jumlahnya sudah mencapai ribuan tersebut memblokir dan menyandera kereta api yang berhenti. "Terus terang, kami sangat kecewa dengan kinerja PT KAI (Kereta Api Indonesia -red), makanya kami dengan calon penumpang yang lain menyandera kereta api. Bayangkan saja, penumpang dari Stasiun Daru sendiri setiap pagi mencapai lebih dari seribu. Dan kalau penjualan tiket dibatasi hanya seratus tiket, mereka ya tidak bisa berangkat kerja," ujar Aris di tempat kejadian.

Selama dalam kurun waktu penyanderaan, yaitu sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB, ribuan calon penumpang tersebut juga berorasi di depan stasiun, menuntut agar PT KAI tidak membatasi penjualan tiket, serta harus menambah armada. "Bagaimana pun, PT KAI harus bisa menambah armada. Karena, jumlah penumpang dari hari ke hari semakin bertambah. Terlebih-lebih saat ini PT KAI memberlakukan pembatasan jumlah penumpang, tentu saja, masyarakat, terutama masyarakat yang umumnya bekerja di wilayah Jakarta aktivitasnya terganggu," paparnya.

Akhirnya, massa bisa dikendalikan setelah perwakilan dari calon penumpang bersepakat dengan pihak PT KAI, kereta diperbolehkan melaju dan calon penumpang diberangkatkan secara bertahap. Pun demikian, kata Aris, penumpang akan melakukan aksi yang lebih besar lagi kalau keberadaan mereka tidak terakomudir seluruhnya oleh pihak PT KAI. "Kita tidak butuh kereta mewah, tapi butuh kereta yang bisa mengakomudir semua masyarakat. Dan, kalau kami tidak bisa terakomudir seluruhnya, akan melakukan aksi sampai PT KAI memenuhi kebutuhan kami," tandasnya.

Saat dikonfirmasi di lokasi kejadian, Pengawas Seksi Operasi (Wasiop) PT KAI Yuskal Setiawan menjelaskan, pengurangan jumlah penjualan tiket penumpang ini merupakan pelaksanaan dari UU No 23 Tahun 2007 Perkeretaapian, tentang tidak boleh naik diatas gerbong, dan merokok di dalam gerbong kereta api. "Hari Senin (23/9) ini, PT KAI memang mengurangi jumlah penjualan tiket, yang tujuannya agar tidak ada lagi penumpang yang naik di atas gerbong. Karena naik di atas gerbong ini kan sangat membahayakan penumpang sendiri," ujar Yuskal.

Yuskal juga menerangkan, saat ini ada sekitar 24 kereta api yang beroperasi. Setiap kereta masing-masing diisi 7 hingga 8 rangkaian gerbong, dengan kapasitas per gerbong 106 penumpang. "Dari jumlah armada kereta api yang ada, untuk pelayanan tiketnya kan menggunakan sistim online, memesan lebih dulu. Mana yang cepat, yaitu yang dapat. Jadi, armada hanya memprioritaskan calon penumpang yang sudah terlebih dahulu memesan tiket. Dan itu pun tidak bisa dadakan," tandasnya.
Mengenai solusi yang akan ditempuh oleh PT KAI terkait masalah ini, Yuskal tidak menjelaskan secara gamblang. "Kalau yang terkait kebijakan pusat, saya belum bisa menjelaskannya sekarang. Karena kalau kebijakan pusat, kewenangannya juga pusat," paparnya. (widi)

Beri komentar


Security code
Refresh