Crime News

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 863 | Komentar

Baca

Pembuang Bayi Itu Pelayan Kafe

News image

PASARKEMIS - Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan yang ari-arinya masih ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 578 | Komentar

Baca

Puluhan Anak di Pandeglang Diduga Disodomi

News image

PANDEGLANG – Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 24 Maret 2017 | Klik: 708 | Komentar

Baca


Pelabuhan Merak Diblokir Enam Jam


CILEGON -
Pengurus penyeberangan truk dan sopir di Pelabuhan Merak memblokir akses Pelabuhan Merak, lantaran menganggap adanya ketidakuratan hasil timbangan kendaraan, Kamis (18/5).
Ratusan pengurus penyeberangan truk dan sopir memarkirkan kendaraan tepat di depan tol gate Pelabuhan Merak.

Dalam aturan timbangan pelabuhan, truk yang memiliki muatan lebih dari 60 ton tidak boleh menyeberang. Sayangnya, dalam pandangan para sopir, timbangan di Pelabuhan Merak sering ngaco. Truk yang ditimbang di tempat sebelumnya di bawah 60 ton, ketika ditimbang di Pelabuhan Merak bisa mencapai 60 ton lebih.

Pantauan Banten Raya, ratusan awak truk memblokir akses Pelabuhan Merak yang mengakibatkan kemacetan hingga keluar Pelabuhan Merak.  Aksi mogok para sopir dimulai sekitar pukul 09.00 WIB sampai pukul 14.30 WiB.

Aksi selama enam jam lebih tersebut membuat ekor kemacetan sampai ke Jalan Cikuasa Atas atau sekitar dua kilometer. Kemacetan berangsur pulih setelah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Merak memberikan toleransi kepada truk yang memiliki muatan lebih dari 60 ton namun tidak terlalu berlebihan.

Aksi mogok tersebut tidak sampai melumpuhkan Pelabuhan Merak secara total. Pasalnya, dari delapan tol gate ada satu tol gate yang masih difungsikan seperti biasa, khusus untuk kendaraan penumpang dan kendaraan barang pembawa sayur dan sembako.

Ketua Pengurus Penyeberangan Truk di Pelabuhan Merak Suganda mengatakan, timbangan di Pelabuhan Merak sangat aneh. Satu kendaraan yang sama dengan muatan yang sama hasilnya bisa berubah-ubah. “Ada kendaraan yang surat jalannya 54 ton, saat pertama ditimbang mencapai 80 ton, saat ditimbang lagi berubah lagi beratnya. Nah itu kan artinya tidak pas,” kata Suganda.

Hasil timbangan itu merugikan para sopir truk ekspedisi. Kendaraan yang timbangannya lebih dari 60 ton tidak bisa menyeberang melalui Pelabuhan Merak. Sementara, jika harus berbalik arah ke pelabuhan lain memakan waktu dan biaya lagi. “Kita ingin ada toleransi kendaraan, toh juga dari seratus kendaraan yang akan menyeberang, paling satu kendaraan saja yang beratnya lebih dari 60 ton,” jelasnya.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Merak kemudian melakukan pertemuan dengan pengurus penyeberangan truk, Otoritas Pelabuhan Penyeberangan (OPP) Merak, dan Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Merak. Akhirnya ASDP memberikan toleransi. Pukul 14.30, tol gate yang diblokir pun dibuka.

Meski demikian, kesepakatan itu hanya berlaku sampai tadi malam. Mulai hari ini, truk di atas 60 ton tetao tidak boleh menyeberang. Manajer Usaha PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Utama Merak Abdillah mengatakan, kesepakatan kemarin hanya berlaku darurat. "Tapi khusus untuk hari ini (kemarin -red) saja, besok (hari ini -red) sudah tidak bisa. Lebih dari 60 ton, dia harus putar arah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2016 Tentang Pengaturan dan Pengendalian Kendaraan yang Menggunakan Jasa Angkutan Penyeberangan. Bahwa berat kendaraan beserta muatannya tidak boleh lebih dari kapasitas dermaga.

“Maka dapat kami sampaikan kepada setiap pengguna jasa Pelabuhan Penyeberangan Merak, batasan berat untuk kendaraan beserta muatannya yang akan menyeberangan yakni 60 ton. Sehingga PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) sebagai operator pelabuhan berhak untuk menolak kendaraan dan muatannya dengan berat yang melebihi 60 ton,” katanya.

Ketua DPC Gapasdap Merak Togar Napitupulu mengatakan, insiden itu cukup berpengaruh pada pendapatan pengusaha angkutan pelayaran. Banyak kapal yang hanya terisi penumpang pejalan kaki dan beberapa kendaraan kecil tetapi tetap jalan.

“Jelas karena insiden ini, pendapatan kita berkurang. Karena kita kan konsisten, aturan pemerintah kan apapun yang terjadi kita harus tetap jalan, tidak boleh anker kapal. Pada prinsipnya berat beban truk itu tak berpengaruh pada kapal ataupun berdampak pada keselamatan pelayaran,” jelasnya. (gillang)


Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir