Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 514 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 635 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 502 | Komentar

Baca


WH Sidak di Malam Hari


SERANG
– Hari ketiga menjabat sebagai Gubenur Banten, Wahidin Halim (WH) mulai menunjukan gaya kepemimpinannya. Mantan Walikota Tangerang itu menggelar sidak dengan menyisir area Alun-alun Kota Serang, Kawasan Royal hingga arah rumah dinas (rumdin) di Kelurahan Sumurpecung dengan berjalan kaki pada Rabu (17/5) malam.

Informasi yang dihimpun Banten Raya, sidak dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dimana WH dan rombongannya menggunakan dua mobil mendatangi Unit Layanan dan Pengadaan (ULP) Provinsi Banten yang berlokasi di eks Pendopo Gubernur Banten di Jalan Brigjen KH Syam'un.

Kedatangan WH sempat tak disadari petugas Satpol PP yang bertugas. Kedatangannya baru disadari ketika orang nomor satu itu menelusuri tiap pojok kawasan yang juga terdapat beberapa kantor seperti Sekretariat Marching Band Gita Surosowan Banten, Dewan Kesenian Banten, Dewan Riset Daerah Provinsi Banten hingga Museum Negeri Banten.

Setelah berkeliling di sana, WH tak kembali ke mobilnya melainkan mulai berjalan kaki untuk mengecek lokasi lainnya. Pertama, dia mengunjungi Alun-alun Barat Kota Serang dan sempat berbincang dengan sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di area alun-alun. Mereka pun cukup terkejut karena yang mendatangi mereka adalah seorang gubenur. “Jaga kebersihan, buang sampah jangan sembarangan, buang pada tempatnya,” ujar WH kepada para PKL.

Mantan anggota DPR RI itu lantas kembali melangkahkan kakinya ke wifi corner yang berada tak jauh dari eks Pendopo Gubenur dan menyempatkan berbincang dengan mengguna fasilitas. Langkah kaki WH belum juga berhenti dan Gelanggang Olahraga (GOR) di Alun-alun Timur Kota Serang menjadi sasaran selanjutnya. Di sana dia menyoroti kondisi GOR yang tidak terawat.

Selain dinding yang tak terawat, lantai GOR pun dianggapnya sudah tak layak. “Ini kotor, tidak terawat, lantainya juga sudah tidak layak untuk main bulu tangkis. Padahal saya suka main bulu tangkis, nanti saya akan main di sini,” katanya.

Mulyadi, warga kota Serang yang sedang bermain bulu tangkis dan sempat berbincang dengan WH menilai apa yang dilakukan oleh WH sangat bagus. Dikatakan Nulyandi, untuk mengetahui persoalan, pemimpin harus mau terjun langsung ke lapangan. "Mantap itu, gubernur memang harus begitu, melihat (secara) langsung," tuturnya.

Selesai dari GOR, WH memutuskan untuk kembali ke rumdinnya namun menolak untuk naik ke mobilnya. WH tetap ingin berjalan kaki meski jarak tempuh yang harus dilaluinya kira-kira mencapai 4 kilometer. Di perjalanan, WH sempat beberapa kali berhenti untuk berbincang atau sekadar menyapa warga dan PKL. Politikus Partai Demokrat itu tiba di rumdin sekitar pukul 22.30 WIB.

Soal turun langsung ke lapangan sebelumnya WH mengaku, bahwa hal itu sudah menjadi komitmen dia bersama Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy. Keduanya akan lebih sering melakukan monitoring langsung ke lapangan dibandingkan hanya menunggu laporan dari pejabat terkait. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan agar dirinya selaku Gubernur mengetahui proses pembangunan yang dilakukan tidak hanya dari data yang dilaporkan, tetapi juga didukung dengan fakta di lapangan.

“Nanti kita (WH dan Andika-red) memang akan banyak monitoring ke luar. Pak Sekda nanti yang standby. Monitoring ke pemerintah daerah di kabupaten/kota, untuk melihat apakah bantuan keuangan yang kita berikan itu sesuai atau sejalan dengan program provinsi,” ungkap WH.

Menanggapi aksi yang dilakukan WH, akademisi dari Untirta Suwaib Amiruddin mengapresiasinya. Menurutnya, WH memang harus diakrabkan dengan masyarakat guna mendapat informasi secara langsung dari bawah. “Tidak hanya menunggu informasi dari bawahan karena biasanya tidak seimbang. Ini salah satu langkah maju,” tuturnya.

Meski demikian ada beberapa hal yang mesti menjadi perhatian WH, aksi-aksi seperti itu juga mengandung resiko. Masyarakat akan lebih besar menaruh harapan dan ketika tidak terlaksanakan akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam. “Bukan hanya sekadar berdialog tapi harus ada realisasi karena harapan pasti akan lebih tinggi.

WH juga harus mengetahui penganggaran, jangan terlalu banyak menemukan masalah tapi kemampuan anggaran tidak memadai. Sebaiknya libatkan juga OPD (Organisasi Perangkat Daerah), mungkin ketika menemukan masalah bisa langsung eksekusi atau menggelar rapat terbatas,” katanya. (dewa)



Beri komentar


Security code
Refresh