Crime News

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 53 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 87 | Komentar

Baca

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 984 | Komentar

Baca


Ternyata Bandar Sabu Menyadap Aparat


JAKARTA
—Penyelundupan satu ton sabu yang digagalkan Polda Metro Jaya, bukanlah yang terbesar. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso memastikan, sebelumnya ada bandar yang menyelundupkan sabu lebih dari satu ton. Sayangnya, sabu itu lolos dari sergapan petugas dan berhasil diedarkan. Lolosnya barang perusak generasi muda itu karena bandar menyadap aparat.

Indikasi bandar menyadap aparat itu juga terendus dalam pengungkapan penyelundupan satu ton sabu di Serang Banten Kamis lalu (13/7). Budi Waseso menuturkan, untuk kasus penyelundupan satu ton ini sebenarnya kerjasama BNN, Polda Metro Jaya dan Polda Banten telah mendeteksinya sejak masuk wilayah laut Indonesia. ”Tapi, entah kenapa mereka tidak juga sandar,” jelasnya.

Informasi yang diterima BNN menyebutkan bahwa sebenarnya sebelum kapal bandar sandar di Serang Banten, ada tiga titik lain yang dijadikan target sandar. Namun, mereka membatalkan rencana sandar ke tiga pelabuhan tikus itu. ”Ternyata, mereka mengetahui kalau aparat menunggu di sana. Mereka sandar di Serang itu karena mengira aparat tidak ada di sana,” terangnya.

Karena itulah, disadari bahwa pada bandar beroperasi dengan perlatan sadap yang begitu canggih. Mereka mampu untuk mengetahui pembicaraan petugas, sehingga bisa berkelit saat aparat siap menyergap. ”Mereka mengetahui sedang disadap, mereka juga menyadap kita,” jelasnya.

Hal seperti inilah yang juga membuat sabu lebih dari satu ton bisa lolos ke Indonesia. Jumlah pastinya sabu yang lolos belum bisa disebutkan.”Yang pasti jauh lebih banyak dari satu ton,” tegasnya ditemui di komplek Mabes Polri usai shalat jumat kemarin.

Alat sadap bandar ini secara kualitas dan kecanggihan jauh melampaui milik lembaga pemberantas narkotika. Bahkan, peralatan sadap milik Badan Intelijen Negara (BIN) masih belum bisa selevel dengan milik bandar. ”Negara saat ini belum memiliki kemampuan teknologi seperti bandar,” tuturnya.

Lalu bagaimana cara mengatasi keterbatasan peralatan ini? Dia mengatakan bahwa kalau soal peralatan kalah canggih tentu jalannya harus membeli peralatan yang lebih canggih lagi. ”Namun, tentu anggaran negara itu terbatas,” ungkapnya.

Maka, sinergitas aparat, kementerian dan lembaga negara penting dalam memberantas narkotika. Semua lembaga itu memiliki tugas yang sama dalam pemberantasan narkotika. ”Kalau sinergi tentu akan semua bisa diatasi,” jelasnya.

Sinergitas ini bisa dengan berbagai bentuk, misalnya seperti Kebijakan Presiden Jokowi dengan membangun dari perbatasan negara. BNN saat ini telah melakukan pembinaan pada masyarakat perbatasan terkait narkotika, seperti di Papua, Aceh, Medan dan Kalimantan Barat.

”Kementerian lain dengan BNN juga bisa dengan membangun pulau-pulau terluar. Supaya tidak kosong dan ada warga yang bisa memberikan informasi. Bisa juga salah satu pulau terluar dimanfaatkan untuk menjadi penjara napi narkotika,” ujarnya.

Dalam pengungkapan satu ton sabu asal Tiongkok, sinergitas antara BNN dan Polri juga cukup erat. Awalnya, terdapat informasi dari kepolisian Thailand, salah satu negara transit kapal yang membawa satu ton sabu tersebut.

”Informasi ini diteruskan ke BNN dan Polda Metro Jaya. Karena bandar menunda-nunda, dibagi timnya dan bandar sandar dititik yang dipimpin Polda Metro Jaya. Ya dieksekusi. Tujuannya bersama-sma tangani masalah negara ini,” tuturnya.

Terkait pengejaran bandar dengan sabu yang lebih dari satu ton itu, dia mengatakan bahwa pengejaran terhadap bandarnya sedang dilakukan. ”Saya yakin dalam waktu dekat bisa dapat (tertangkap),” paparnya.

Baik bandar yang meloloskan sabu lebih dari satu ton sekaligus bandar yang tertangkap membawa satu ton sabu itu sebenarnya terhubung dengan 72 bandar besar yang diendus BNN. ”Sedang ditelusuri keduanya kelompok yang mana ini,” ujar jenderal berbintang tiga tersebut.

Juru Bicara Divhumas Polri Kombespol Slamet Pribadi menuturkan, Tiongkok menjadi salah satu produsen sabu yang memang menyasar Indonesia. Hal tersebut karena hubungan bisnis antara bandar Tiongkok dan Indonesia memang terjalin cukup kuat. ”Maka kerjasama antara kedua kepolisian penting, Polri dan kepolisian Tiongkok,” ujarnya.

Hubungan internasional antar kepolisian ini terus dijalin. Targetnya, kedepan arus informasi untuk mencegah kejahatan transnasional menjadi lebih deras. ”Sehingga, bersama-sama untuk bisa melindungi generasi bangsa dari narkotika,” ungkapnya. (jpg)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir