Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 216 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 275 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 233 | Komentar

Baca


Telegram Diblokir, Pelanggan Hilang


SERANG
– Pemblokiran aplikasi Telegram oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dikeluhkan penggunanya di Banten. Mereka merasa dirugikan karena aplikasi itu kerap digunakan untuk berjualan secara dalam jaringan (daring). Akibatnya, komunikasi dengan pelanggan pun terputus hingga sejumlah data pribadi yang hilang.

Seperti diungkapkan salah seorang warga Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang Bani Robani. Menurutnya, alasan pemerintah memblokir Telegram untuk meminimalisasi gerakan radikal sangat tidak masuk akal. Sebab, penyebaran paham radikal kini sudah terjadi di semua aplikasi sejenis.

"Saya pribadi kecewa dengan sikap Kemenkominfo yang secara sepihak menutup atau memblokir Telegram secara membabi buta. Ibaratnya jika ingin menangkap tikus, ya jangan dibakar dengan lumbung padinya," ujarnya kepada Banten Raya, Minggu (16/7).

Pemilik toko alat elektronik itu pun mengaku cukup dirugikan dengan pemblokiran tersebut. Selama ini Bani kerap memanfaatkan aplikasi Telegram untuk berjualan secara daring. Kini dia pun harus merelakan sejumlah pelanggannya yang sudah tidak bisa dihubunginya lagi.

"Saya menawarkan barang via Telegram karena konten grupnya lebih banyak ketimbang medsos yang lain seperti Blacberry Massenger (bbm) dan WhatsApp (WA). Sekarang nggak bisa diakses, pelanggan pun hilang sudah," katanya.

Senada dikatakan salah seorang warga Kecamatan Baros, Kabupaten Serang Jajang Sirojudin. Ia mengaku, kini harus kembali membangun komunikasi yang terputus akibat pemblokiran aplikasi Telegram. Dia juga mengkritis pemerintah yang seharusnya terlebih dahulu melakukan sosialisasi sebelum pemblokiran.

"Ya terpaksa sekarang harus berjualan seperti biasa, secara manual. Harusnya sosialisasi dulu jadi kami ada persiapan, kalau main blokir seperti ini ya harus kerja dua kali. Saya harus cari jalan komunikasi lain dengan pelanggan yang biasa mengobrol di Telegram," papar penjual alat tulis kantor ini.

Sedangkan warga Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak Dea Silviani sangat menyanyangkan pemblokiran Telegram. Kini, dia pun harus merelakan sejumlah data pribadinya di obrolan aplikasi  yang  memiliki nilai historis bagi dirinya tidak bisa diakses lagi. “Banyak kenangan bersama orang terkasih di chatinggan-nya. Sekarang hilang sudah kenangan itu, soalnya aplikasi nggak bisa dibuka,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (Diskominfotiksan) Provinsi Banten Komari menyatakan, bahwa pemblokiran Telegram sudah lama direncanakan oleh pemerintah. "Kalau kami bukan pada posisi setuju atau tidak, karena kami sesungguhnya wakil pemerintah pusat di daerah yang harus melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan," pungkasnya

Seperti diketahui, Kemenkominfo beberapa waktu secara resmi telah memblokir aplikasi Telegram. Kebijakan itu dilakukan karena aplikasi itu ditenggarai digunakan untuk media komunikasi jaringan teroris. (dewa)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir