Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 219 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 279 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 238 | Komentar

Baca


Kota Serang Gitu-gitu Aja * Arsitek: Kota Serang Jadi Kota Brutal


SERANG – Selama berdiri 10 tahun, Pemerintah Kota Serang belum membuat langkah yang signifikan dan drastis, khususnya dalam penyediaan ruang publik. Akibatnya banyak yang menilai Kota Serang dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni Himpunana Mahasiswa Serang (IKA Hamas) Agus S Munandar mengatakan bahwa Kota Serang jauh tertinggal dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Bandung dan Surabaya.

Padahal, berkaca pada Kota Surabaya, walikotanya Risma Trismaharni mampu menyulap kota tersebut selama dua periode kepemimpinannya secara maksimal dan drastis. Karena itu menurutnya persoalan beres dan tidaknya sebuah kota sesungguhnya terletak pada mau atau tidak sang kepala daerah mengubahnya.

“Kalau kepala daerahnya punya good will, punya keinginan baik, maka perubahan kota sangat bisa terjadi,” kata Agus, Rabu (9/8). Agus mengungkapkan bahwa setidaknya ada lima masalah di Kota Serang yang sampai saat ini belum terselesaikan. Pertama, soal kualitas pendidikan, terutama pendidikan agama.

Berdasarkan temuan ICMI Kota Serang, ada 60 persen lebih siswa Kota Serang yang tidak bisa membaca al Quran. Padahal, Kota Serang mengklaim diri bermoto Kota Madani. Menurutnya persoalan baca al Quran bukan hanya tanggung jawab Kementerian Agama melainkan juga pemerintah daerah. “Bagaimana mau madani kalau kemampuan mendasar siswa seperti mengaji saja memprihatinkan,” katanya.

Kedua, masalah kemacetan yang tak pernah selesai, salah satunya kemacetan di terowongan Trondol, Kaligandu. Agus berpendapat bahwa kemacetan seungguhnya terjadi karena penataan kota yang buruk. Ia menyebutkan pusat pendidikan, tempat tinggal, dan pusat perbelanjaan yang berada di satu wilayah, yaitu Kecamatan Serang, menjadi penyebabnya.

Karena itu mobilitas manusia paling tinggi berada di Kecamatan Serang sehingga kemacetan tak bisa terhindarkan. Padahal, masih ada wilayah-wilayah yang kosong bahkan tidak dilalui kendaraan umum. “Jadi kemacetan bukan persoalan luas jalan atau banyaknya jumlah kendaraan,” katanya.

Ketiga, masalah pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Serang pengangguran di Kota Serang berada di atas 10 persen. Persoalan pengangguran bukan hanya persoalan penyerapan pemuda di dunia industri tetapi seharusnya bisa lebih jauh, yaitu menciptakan pengusaha muda sehingga mampu menciptakan peluang kerja. “Yang perlu dikuatkan adalah mental dan skill. Maka ketika diberikan skill harus diberikan pendampingan,” ujarnya.

Keempat, masalah pertanian. Pemkot Serang seharusnya bisa mengelola hasil tani, terutama dari daerah Sawah Luhur dengan cara membeli dan mengolahnya lalu mendistribusikannya kembali ke masyarakat Kota Serang. Sementara yang terjadi selama ini padi dijual ke luar kota lalu setelah diolah dijual kembali ke Kota Serang dengan harga yang lebih tinggi.

Kelima, soal Ruang Terbuka Hijau. Amanat UU nomor 26 tahun 2007 tentang RTH bahwa RTH minimal 30 persen dari luas wilayah tetapi sekarang ia merasa jumlahnya belum mencapai 10 persen. Padahal, RTH selain sebagai paru-paru kota juga sebagai sarana umum yang bisa dijadikan tempat sarana olahraga, taman bermain anak, bahkan tempat wisata. “Tentu ini harus segera dilaksanakan karena RTH adalah hak warga Kota Serang,” kata Agus.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Banten Mukoddas Syuhada mengaku begitu gelisah melihat perkembangan Kota Serang yang semakin brutal dan tidak manusiawi. Pohon-pohon ditebang demi meluaskan jalur jalan untuk kendaraan bermotor.

Tidak ada lagi tempat berteduh sewaktu hujan dan panas. Tidak ada lagi penyeimbang polusi udara. Jembatan penyeberangan orang dibangun karena mengganggu jalur kendaraan bermotor. “Aku susah sekali menyeberang jalan, harus naik jembatan yang tinggi dan curam sementara kendaraan motor yang memakai mesin melaju dengan mulusnya,” katanya.

Kondisi kota saat ini menurutnya lebih memanjakan mesin ketimbang manusianya. Padahal, kota yang baik adalah yang membuat nyaman warganya. Ini bisa dilihat dari kota-kota terbaik di dunia yang fokus pada penyediaan sarana prasarana publik warganya. “Sementara di Kota Serang jalur untuk sepeda saja tidak ada,” katanya.

Pengamat tata kota dari Universitas Serang Raya Dita Setyo Rini mengatakan, sepintas melihat pun, Kota Serang memang memprihatinkan dari segi tata kota. Kota Serang seharusnya bisa menjadi etalase Banten mengingat statusnya sebagai ibukota provinsi. Dosen jurusan Teknik Sipil Unsera itu menuturkan, ada 3 poin unsur tata kota yang harus menjadi perhatian Pemkot Serang.

Unsur pertama adalah penataan pedagang kaki lima (PKL) yang masih kurang sehingga beberapa titik terkesan kumuh.  Unsur kedua adalah masalah angkutan massal di mana belum semua tempat di Kota Serang mampu dijangkau. “PKL-PKL belum tertata dengan rapi, trayek juga sepertinya harus dikaji lebih dalam karena sebagai ibukota maka sekarang berbicaranya kemana saja bisa pakai angkot,” katanya.

Kemudian unsur ketiga, masih minimnya ruang terbuka hijau (RTH) dan Pemkot Serang juga belum bisa memaksimalkan fasilitas umum yang dimilikinya. Dita pun mengkritisi ketidakseriusan pemkot soal penataan Taman Sari, Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang yang sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai RTH.

“Kalau RTH Kota Serang masih butuh banyak, PR kita banyak dan salah satunya RTH. Saya pikir kalau dikelola dengan baik Taman Sari bisa jadi potensi untuk RTH karena lokasinya startegis dekat dengan stasiun. Akibatnya, kadang-kadang kita jadi lupa bahwa di dekat stasiun itu ada taman. Potensi wisatanya ada karena itu pemandangan pertama yang dilihat orang luar yang datang ke Kota Serang lewat jalur kereta,” ungkapnya.

Dengan tidak optimalnya pembenahan 3 unsur itu, dampaknya kini sudah bisa dirasakan yaitu bertebarannya titik-titik banjir.  “Perlu ada perhatian serius karena memang titik-titik yang mengalami banjir adalah titik-titik yang memang ibukota. Artinya bukan daerah yang jauh sehingga tidak terpantau. Sebenarnya banjir yang terjadi telah mencoreng wajah Kota Serang sendiri sebagai ibukota,” tuturnya.

Anggota Komisi II DPR RI Yandri Susanto menyoroti pembangunan di Kecamatan Kasemen yang dia nilai cukup buruk. Menurutnya, pembangunan Kota Serang tidak merata terutama di Kecamatan Kasemen yang masih banyak terdapat keluarga miskin.

“Saya melihat kondisi Kedung Leles (salah satu daerah di Kecamatan Kasemen) dan sekitarnya kok masih begini, pembangunan nggak mengarah ke sini. Pengambilan kebijakan walikota dan gubernur harus memperhatikan Kasemen. Kasihan, padahal kan mereka tinggal di daerah kesultanan,” ujar politikus PAN ini.

Sementara itu Walikota Serang Tubagus Haerul Jaman mengakui Kota Serang masih banyak kekurangan dalam segala bidang. Meski demikian Pemkot Serang terus berupaya mengurangi kekurangan tersebut. Pemkot Serang  juga terus berupaya menyelesaikan permasalahan yang ada, mulai dari menurunkan angka pengangguran, kemiskinan, masalah banjir, macet, dan lainnya.

"Memang ada PR-PR (pekerjaan rumah-red) yang harus terus diselesaikan dan mudah-mudahan bisa kami selesaikan bersama-sama,” katanya.   Jaman berharap di usia Kota Serang ke 10 ini Kota Serang akan lebih baik lagi. Ia mengklaim telah banyak hal yang dilakukan Pemkot Serang guna memperbaiko Kota Serang.

Ia mengklaim perkembangan di Kota Serang saat ini bergerak ke arah yang lebih baik walaupun masih banyak keterbatasan.  "Mudah-mudahan semua komponen di Kota Serang dapat bersinergi bekerjasama untuk membangun Kota Serang agar lebih baik lagi,” ujarnya.

Di akhir masa jabatannya, Jaman ingin mewujudkan program prioritas yang masuk dalam visi misi dirinya dengan wakil walikota Sulhi saat kampanye dulu, salah satunya pembangunan rumah sakit. Ia menargetkan pembangunan rumah sakit Kota Serang dapat selesai tahun 2017 ini  sehingga tahun 2018 sudah bisa dioperasikan.

"Diharapkan keberadaan rumah sakit ini dapat memberikan pelayan kesahatan terbaik untuk masyarakat Kota Serang,” ujarnya.  Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Serang M Ridwan yang mencoba dihubungi Banten Raya tidak mengangkat telepon. Pun tidak membalas pesan yang dikirimkan kepadanya. Begitu juga halnya dengan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Serang Hidayat. (tohir)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir