Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 219 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 279 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 238 | Komentar

Baca


Rekonstruksi Penyelundupan Sabu 1 Ton di Anyer



CILEGON - Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi penyelundupan satu ton sabu yang ditangkap di Pantai Anyer, Serang, 13 Juli 2017 lalu, Kamis (10/8). Rekonstruksi ini dilakukan dalam 36 reka adegan.

Dari pantauan dilokasi, enam tersangka diantaranya tiga anak buah kapal (ABK) yaitu Sun Chih-Feng, Sun Kuo Tai, dan Juang Jin Sheng serta tiga orang penerima barang yakni Chen Wei Cyuan, Liao Guan Yu, dan Hsu Yung Li dibawa oleh polisi untuk melakukan reka adegan.

Para pelaku yang terlibat penyelundupan sabu itu dibawa ke Hotel Mandalika Anyer sekitar pukul 09.30 WIB. Disana mereka melakukan reka adegan di empat lokasi di antaranya Hotel Putri Duyung, Green Garden, Alice hingga ke Hotel Mandalika, Anyer.

Keenam tersangka penyelundup sabu seberat satu ton asal China sama sekali tak menguasai bahasa lain selain bahasa Mandarin. Untuk mempermudah rekonstruksi penyelundupan sabu, pihak Polda Metro Jaya menghadirkan penerjemah. Dalam reka adegan itu, seharusnya ada sekitar sembilan warga Taiwan yang terlibat, namun hanya 6 orang yang ikut sertakan, sementara tiga pelaku lainnya diperagakan oleh anggota kepolisian.

Dalam rekonstruksi itu terungkap, sebelum menentukan Hotel Mandalika sebagai tempat berlabuhnya sabu seberat 1 ton, pelaku terlebih dahulu melakukan survei lokasi pada tanggal 10 Juni 2017, diantaranya, Hotel Putri Duyung, Green Garden, dan Alice. Namun ketiga tempat itu dianggap kurang aman, hingga akhirnya pelaku memilih Hotel Mandalika sebagai tempat berlabuh.

Selama di Anyer, keempat pelaku Chen Wei Cyuan, Liao Guan Yu, Hsu Yung Li dan Lin Ming Hui ditemani warga Indonesia yang dijadikan alat untuk memfasilitasi para pelaku dalam upaya penyelundupan sabu. Mulai dari mengantar ke lokasi hotel, meminjam kendaraan, dan mencari penginapan sementara.

Untuk mengelabui warga, para tersangka mengaku akan membuat tambak udang di sekitaran Anyer. Setelah menentukan tempat penyelundupan, keempat penerima barang kembali, ke Jakarta di sebuah kontrakan yang terletak di perumahan Duta Garden, Cengkareng, Jakarta Barat yang telah disewanya selama satu tahun.

Tepat pada tanggal 13 Juli, keempat pelaku datang Hotel Mandalika dengan menggunakan dua kendaraan roda empat, untuk menjemput kiriman paket yang dibawa menggunakan dua perahu karet yang diantar oleh Sun Chih-Feng, Sun Kuo Tai dan Juang Jin Sheng.

Di sana, ketujuh pelaku secara estafet memindahkan 51 karung sabu-sabu seberat 1 ton ke darat, sebelum dimasukan ke dalam mobil. Setelah proses evakuasi selesai, tiga pelaku yang mengantarkan barang haram tersebut kembali ke tengah laut.

Sementara itu, sebelum keempat pelaku yang hendak membawa 1 ton sabu ke Jakarta, polisi terlebih dahulu mengepung para pelaku, hingga akhirnya Lin Ming Hui tewas tertembus peluru tajam. Proses reka ulang itu dijaga ketat polisi. Sedikitnya ada sekitar 50 personel polisi yang dibantu dari Polres Cilegon yang disiagakan selama rekonstruksi di Anyer berlangsung.

Kasubdit III Reserse Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Bambang Yudantara mengatakan, dalam rekonstruksi di Anyer itu rencananya akan dilakukan 26 reka adegan. Namun dalam prosesnya, banyak hal-hal yang tak terduga, salah satunya proses pemindahan barang dari kapal hingga ke darat.

"Kita coba rangkai dari mulai di survei lokasi hingga koordinat dan proses pemindahan dari kapal ke darat. Mereka survei kesini mulai dari tanggal 10 Juni 2017. Setidaknya mereka tiga kali melakukan survei ke hotel Mandalika," katanya kepada Banten Raya di sela-sela melakukan rekonstruksi, kemarin.

Menurut Bambang, dalam kasus penyelundupan 1 ton sabu ini, tidak ada warga negara Indonesia yang terlibat. Jadi kasus pengungkapan sabu terbesar di Indonesia ini murni dilakukan oleh warga Taiwan keseluruhannya.

"Kasus 1 ton ini melibatkan warga Indonesia, tapi mereka hanya diperalat, untuk sewa mobil, hotel hingga gudang. Ada 2 orang WNI tapi mereka hanya sebagai saksi. Kasus ini sudah disiapkan dari bulan November 2016 lalu oleh para pelaku," ujarnya.

Dalam proses pengiriman ke Hotel Mandalika, Bambang mengungkapkan para pelaku hanya mengandalkan alat seadanya. Hanya dengan mengandalkan titik koordinat dan sebuah telepon pintar. "Mereka diarahkan, dengan menggunakan Google Maps, mereka hanya mengandalkan smartphone saja. Mereka berangkat pada tanggal 11 Juni 2017 dari Taiwan, kemudian mampir di Johor Malaysia, selanjutnya berhenti lagi di Singapura.

Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk mengambil sabu di perairan Anyaman perbatasan Myanmar dan Thailand. Mereka terima barang itu dari kapal kayu. Kemudian melanjutkan perjalanan lewat pesisir barat melalui pesisir Sumatera," ungkapnya.

Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan, dari hasil pengembangan penangkapan ke empat tersangka itu, pihaknya berhasil mengamankan lima orang lainnya di perairan Batam. Dari pengembangan itu, polisi mendapatkan identitas tiga orang lainnya yang berada di Taiwan.

"Ada tiga orang DPO, tapi sudah ditangkap oleh polisi Taiwan. Saat ini kita masih mencari tahu peran tiga orang itu. Nanti kita akan kesana untuk memeriksa ketiganya. Jadi saat ini total pelaku adalah 12 orang dengan satu tersangka tewas ditembak petugas karena melawan saat hendak di bekuk," ungkapnya. (darjat)

Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir