Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 370 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 471 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 376 | Komentar

Baca


Bandara Bansel Batal, Harapan PHRI Pupus


SERANG- Penghapusan proyek Bandar Udara (Bandara) Banten Selatan (Bansel) dari 12 proyek strategis nasional (PSN) di Provinsi Banten menuai kekecewaan dari organisasi Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten. Sebab, kehadiran Bandara Bansel diharapkan dapat menumbuhkan pariwisata di Banten.

Ketua Umum PHRI Provinsi Banten Achmad Sari Alam mengungkapkan, sebagai pelaku pariwisata pihaknya sangat kecewa, namun semangat untuk membangun sektor pariwisata harus tetap ada.
Menurut Achmad, agar sektor pariwisata bisa terus berkembang, pemerintah harus fokus pada pembangunan akses darat menuju lokasi pariwisata yang ada di Banten selatan.

"Bandara memang dibutuhkan, namun karena kita dekat dengan ibukota (Jakarta), kemudian ada Bandara Soekarno Hatta, saya rasa pemerintah tinggal fokus pada infrastruktur darat. Jalan menuju lokasi wisata diperluas," kata Achmad, Jumat (18/8).

Menurut Achmad Sari Alam, jika kondisi jalan darat bagus, wisatawan pun akan senang berkunjung ke Banten. Contohnya seperti di Lombok barat. Meski destinasi wisata di daerah tersebut jauh, namun karena akses jalan yang baik, wisatawan pun senang berkunjung ke sana. "Pemerintah (Banten) pun bisa melakukan itu," katanya.

Meski demikian, Achmad berharap jika proyek pembangunan Bandara Bansel bisa terwujud, agar pengembangan perekonomian khususnya di sektor pariwisata bisa cepat terbangun. Seperti diketahui, pemerintah memutuskan mencoret pembangunan Bandara Bansel dari PSN.

Pembangunan Bandara Bansel yang ditetapkan di Kabupaten Pandeglang ini ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan, karena progres yang lambat. Sebagai gantinya, pemerintah menetapkan proyek kawasan industri Wilmar, di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, masuk dalam PSN di Banten.

Proyek kawasan industri Wilmar menggeser proyek Bandara Bansel karena dinilai lebih siap, baik segi penyediaan lahan, pendanaan, maupun teknologi. Proyek Wilmar masuk PSN sesuai peraturan presiden (perpres) nomor 56 tahun 2017 tertanggal 3 Agustus 2017.  

Anggota DPRD Banten Thoni Fathoni Mukson menjelaskan, Pemprov Banten harus mengambil pelajaran atas kejadian itu. Menurut Thoni, lebih baik Pemprov Banten fokus pada PSN lain yang masih berproses dan pada infrastruktur darat, salah satunya tol Serang Panimbang.

"Cita-cita bandara tersebut kan dibangun untuk menunjang ekonomi di wilayah Banten selatan dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, seperti yang sudah ditetapkan pemerintah," kata Thoni.
Thoni memaklumi keputusan Presiden Joko Widodo mencoret proyek bandara. Thoni meyakini ada pertimbangan matang dari presiden sebelum mengambil keputusan tersebut.

"Itu kan PSN yah, PSN yang diperpanjang progresnya lima tahun pertama gagal karena lahan, diperpanjang kemudian gagal lagi di lahan. PSN itu Pak Jokowi mau selesai di masa jabatannya, jadi yang lambat dicoret. Kita harus maklumi itu," kata Thoni.

Thoni menilai jika hal tersebut tidak ingin terjadi, seharusnya ada kerja bersama antara kementerian pehubungan, kementerian kehutanan, Pemprov Banten dan Pemkab Pandeglang dalam menyikapi persoalan lahan.

"Sekarang fisibility study (FS) tempat saja enggak ada. Sedangkan fisibility buat bandara cukup lama, jadi cukup dimaklumi jika dibatalkan. Tapi yang jelas kita harus mengapresiasi PSN yang ada di Banten. Hilangnya bandara terbitnya Wilmar, itu juga menjadi skala prioritas jadi kawasan industri," ujar Thoni.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Banten Revri Aroes menilai ditangguhkannya proyek pembangunan Bandara Bansel lantaran adanya pergeseran lokasi. Diketahui, pembangunan bandara itu semual akan dilakukan di Kecamatan Panimbang, namun akhirnya bergeser ke Kecamatan Sobang.

Revri mengaku telah bergerak setelah Kementerian Lingkungan Hidup memberikan hutan rakyat seluas 124 hektare untuk dijadikan lokasi pembangunan bandara. Atas dasar itu pula menteri perhubungan memberikan lampu hijau untuk meneruskan proyek tersebut.

“Tapi ketika proses sampai di Sekretariat Negara (Sesneg) dianggap tidak fiks dengan rancangan awal di Panimbang, tapi lokasinya tiba-tiba berubah di Sobang. Mereka bertanya ada apa? Ketika lokasinya belum clear (selesai) mereka minta dishub pastikan dulu, jadi ini ditangguhkan (bukan dihapus). Kalau lokasinya sudah claer 2018 bisa lanjut lagi,” kata Revri ditemui di KP3B.

Revri mengaku tidak merasa kecewa dengan ditangguhkannya proyek itu, namun akan terus memperjuangkan pembangunan bandara tersebut. “Kita perlu kesiapan, semua itu ada hikmahnya. Ini kan proyek skala besar, kita harus cari uang segera, uang untuk lahan, dan uang untuk lainnya,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Banten Eneng Nurcahyati mengatakan, penghapusan pembangunan Bandara Bansel membuat kita harus berfikir untuk mencari terobosan lain. Eneng menilai, salah satu penunjang pengenmbangan sektor wisata di KEK Tanjung Lesung adalah adanya Bandara Bansel.

“Kalau bandara ditangguhakan, kita harus berfikir kreatif. Kita masih bisa bangun jalan darat seperti bangun jalan tol, jalur kereta api, jalur laut antar pulau, yang pada akhirnya semua bisa terkondisikan dengan baik dan masih bisa menarik wisatawan,” kata Eneng.

Meski begitu, menurutnya, pembangunan bandara itu dapat mempercepat pengembangan KEK Tanjung Lesung, di Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Eneng juga meminta kepada seluruh pejuang pariwisata untuk tidak berkecil hati atas ditangguhkannya salah satu dari 12 proyek nasional tersebut.

“Ini peluang kita untuk berfikir kreatif dan inovatif sehingga daya tarik di Tanjung Lesung bisa bagus dan menarik wisatawan. Kita lakukan penataan, pengelolaan SDM dan peningkatan industri kreatif terkait pusat kuliner dan pusat kerajinan, saat ini kami berusaha menciptakan 3 A yaitu amunitas, atraksi dan aksesibilitas,” ujarnya. (rahmat)

Beri komentar


Security code
Refresh