Crime News

Kabur ke Hutan, Pencuri Ditembak Polisi

News image

LEBAK - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lebak menembak dua da...

Hukum & Kriminal | Selasa, 7 November 2017 | Klik: 130 | Komentar

Baca

Uang ATM Ratusan Juta Dibobol Maling

News image

PANDEGLANG – Sebuah minimarket di jalan Pandeglang-Serang, Kampung Cigadung, Kelurahan Ci...

Hukum & Kriminal | Jumat, 3 November 2017 | Klik: 174 | Komentar

Baca

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 626 | Komentar

Baca


Srikandi-srikandi Penegak Perda Menguak Penjualan Miras Ilegal sampai Narkoba


Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tak hanya diisi oleh pria. Ada juga Satpol PP perempuan yang mewarnai lembaga yang bertugas menegakkan peraturan daerah tersebut.

Rini Damayanti, petugas Satpol PP di Kota Serang tersenyum saat diminta menceritakan pengalamannya. Rini bercerita sudah sekitar tiga tahun terakhir ditugaskan di lapangan. Karena itu ia kerap ikut turun dalam operasi dan razia. Tidak hanya razia pada siang hari melainkan juga malam hari. Ketika operasi dilakukan di tempat hiburan atau cafe yang dipenuhi lelaki ia kerap digoda.

Berseragam Satpol PP dengan paras cantik memang membuatnya menjadi pusat perhatian lelaki hidung belang. “Kalau ada yang ngegoda biasanya yang di cafe-cafe,” kata Rini, awal Agustus lalu. Pengalamannya di lapangan tidak hanya bersentuhan dengan pria penggoda. Ketika berhadapan dengan pedagang kaki lima perlakuan yang tidak menyenangkan justru kerap kali diterimanya.

Suatu hari ketika menertibkan pedagang pisang di sekitaran Taman Sari ia pernah mendapatkan perlakuan kasar. Salah seorang pedagang kaki lima melemparkan pisang ke arahnya. “Bukan satu pisangnya tapi sesisir,” katanya.

Meski demikian ia mencoba memahami psikologi para pedagang itu. Satpol PP yang menertibkan pedagang yang berjualan di jalan atau trotoar sangat mungkin mengusik para pedagang kaki lima yang sudah nyaman berjualan di lokasi itu. Karena itulah mereka bereaksi dan membencinya.

Meski demikian tidak semua pedagang kaki lima merasa benar. Banyak juga yang mengaku mereka memang salah karena berjualan di lokasi yang dilarang oleh aturan.  “Padahal kita menertibkan mereka karena salah satunya khawatir mereka ketabrak kendaraan,” katanya.

Sri mengaku mulai menjadi anggota Satpol PP pada tahun 2011. Dua tahun pertama ia bekerja mengurusi administrasi menjadi staf tata usaha karena itu sehari-hari hanya berada di kantor. Setelah itu barulah ia dipindah di bidang trantib dan mulai sering terjun ke lapangan. Ia mengaku menikmati pekerjaanya sebagai anggota Satpol PP karena seru dan banyak dapat pengalaman baru.

Salah satu pengalaman yang didapatkannya adalah menguak sejumlah kasus. Ia misalnya pernah menyamar menjadi mahasiswi untuk menguak kasus miras ilegal. Juga pernah melepas jilbab agar bisa membongkar penjualan babi di salah satu rumah makan di Kota Serang.

Keseruan bercampur ketegangan ini yang membuatnya menikmati profesinya. Saking cintanya ia mengaku sudah tidak bisa pindah ke lain hati. “Banyak yang nawarin saya pindah dari Satpol PP tapi saya maunya di sini,” ujar Sri yang saat ini tinggal di Ciracas.

Pengalaman seru lain yang memperkaya pengalamannya adalah ketika razia kos-kosan dan tempat hiburan. Penghuni kos dan pengunjung tempat hiburan yang membawa narkoba biasanya akan menyembunyikan narkoba di tempat-tempat yang tersembunyi. Selain tas mereka juga kerap menyimpannya di pakaian dalam seperti BH dan celana dalam.

“Pernah ada cewek yang pas mau diperiksa ngaku lagi haid. Ternyata setelah diperiksa menyembunyikan narkoba di celana dalam,” tuturnya sambil tersenyum mengenang pengalaman itu.  Sekretaris Satpol PP Kota Serang Agus Hendrawan mengungkapkan bahwa Sri merupakan anggota Satpol PP yang berprestasi karena ketika ditugaskan menjadi intelejen ia berhasil mengungkap kasus-kasus seperti minuman keras dan daging babi.

Sri juga dinilai multitalent karena bisa mengerjakan semua tugas yang diberikan kepadanya, mulai dari yang berkaitan dengan administrasi maupun tugas lapangan.  “Kadang kan ada yang kuat di kantor tapi nggak kuat di lapangan. Kalau dia dua-duanya enjoy. Dia mencintai pekerjaannya,” katanya.

Kisah berbeda diungkapkan Irma Wahyuningsih (26), salah anggota Satpol PP Kota Cilegon. Irma bertugas di bagian keuangan. Akan tetapi, Ia juga rutin ikut kegiatan razia di lapangan. Irma sudah sering ikut serta dalam razia seperti tempat hiburan malam, razia kos-kosan, dan penertiban bangunan liar.

Akan tetapi, karena dirinya sebagai perempuan, Irma lebih sering menjadi bagian dokumentasi dalam tim razia Satpol PP Kota Cilegon. Razia yang dilakukan Satpol PP tidak mengenal waktu. Razia kamar kost dan bangunan liar seringnya dilakukan siang hari. Akan tetapi, untuk razia tempat hiburan malam dilakukan malam hari, bahkan sampai dinihari.

“Saya sering ikut razia, tapi kalau razia saya dan perempuan yang lain itu hanya sebagai dokumentasi atau pencatatan. Ya ambil foto sama nulis data hasil razia. Meski malam hari bahkan sampai pagi kami juga ikut dilibatkan,” tutur perempuan beralis tebal tersebut.

Pertama mengkuti razia yustisi, Irma tercengang dan merasa jijik ketika melihat ada pasangan bukan suami istri dalam satu kamar. Tapi lama kelamaan Irma jadi terbiasa. “Kalau pas razia tempat hiburan malam itu kadang kita juga turut prihatin, karena ada perempuan ataupun anak di bawah umur yang dinihari masih berada di tempat hiburan malam.

Saya tidak habis pikir, bagaimana mereka kuliahnya di siang hari, apa tidak ngantuk. Kadang sama pria dalam satu ruang karaoke sampai pagi hari,” tutur perempuan yang sudah dua tahun menjalani profesi sebagai tenaga kerja kontrak (TKK) di Satpol PP Kota Cilegon.

Meski bekerja di lapangan yang membutuhkan tenaga dan harus berpanas-panasan, Irma juga tidak mengesampingkan penampilannya sebagai perempuan. Perempuan lulusan STIE Al-Kahiriyah ini juga mencoba tampil anggun dengan make up di wajah dan gincu di bibir. Bahkan, Irma dapat dibilang menjadi sosok pemanis diantara kaum adam yang berbadan tinggi dan tegap.

Sementara itu, Staf Bidang Ketertiban Umum Yussi Anugerah Puspitasasi mengaku, semenjak diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara sudah ditugaskan di Satpol PP. Sudah tujuh tahun lamanya bertugas membuat dirinya mencintai profesinya.

“Dari Awal sudah bertugas di Satpol PP. Menjadi anggota Satpol PP juga sebuah kebanggaan, karena kami punya kewenangan yang berbeda dengan ASN lainnya, yaitu menegakkaan Perda,” akunya
Sama seperti Irma, Yussi menerangkan, menjadi anggota Satpol PP merupakan sebuah tantangan, apa yang dilakukan di luar kebiasaan, karena biasanya menjaga ketertiban dan keamanan adalah tugas laki-laki bukan perempuan.

“Biasanya menjaga ketertiban dan keamanan itu tugas laki-laki, Namun, ini menjadi tantangan bagi kami sebagai kaum perempuan untuk bisa melakukannya,” terangnya. (tohir/gillang/mg-uri/yanadi)







Beri komentar


Security code
Refresh