Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 369 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 470 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 375 | Komentar

Baca


Kisah Enjat Sudrajat, Petani Holtikultura Asal Cikeusal Injakan Kaki di Istana Negara Gara-gara Sayuran


Enjat Sudrajat mampu membuktikan bahwa hal kecil bisa membawa dampak yang besar. Siapa sangka, hobinya menanam hortikultura bisa membawanya meraih sukses. Puncaknya, pada 2010 dia diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan langsung dari presiden.

Sekilas, secara kasat mata tidak ada yang istimewa dari sosok Enjat. Pria berkumis timis ini tampak seperti para petani pada umumnya yang sedang merawat tanamannya di Kampung Bangkong, Desa Sukarame, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang.

Kaos dan celananya lusuh serta tubuh penuh dengan keringat. Topi biru terpakai di kepalanya guna melindungi wajahnya dari terik sinar matahari. Tangannya pun cukup kasar saat bersalaman, ciri orang yang sering melakukan pekerjaan kasar. “Mari kita mengobrol di rumah saya,” ujarnya.

Hamparan tanaman hortikultura tampak menghiasi perjalanan menuju kediamannya. Enjat berceloteh, bahwa hamparan tanaman seluas 8 hektare yang terdiri dari cabai, terong sampai sawi itu
itu adalah hasil kerja kerasnya. Ya, itu semua adalah miliknya. Sesuatu yang tak terbayangkan dengan penampilannya yang lusuh tapi memiliki aset yang membuat terpana itu.

Setibanya di tempat tinggalnya, Enjat pun mulai bercerita bahwa profesinya sebagai petani hortikultura awalnya adalah sebuah pertaruhan. Sebab, untuk memulai usahanya itu terjadi perang dalam batinnya. Idenya saat itu dia ingin menjual motornya untuk memeroleh modal.

Tetapi celakanya motor itu adalah harta satu-satunya yang dimiliki.  “Saya bukan dari orang berada. Mau mulai usaha juga harus jual motor, harta satu-satunya pada 1998. Hasilnya saya tukarkan dengan sebidang tanah seluas 3.300 persegi,” katanya.

Setelah memiliki sebidang tanah, dia tak lantas menjadikannya sebagai lahan pertanian. Lahan tersebut dibangun sebuah kios sembako. Dari kios itu lah keinginan untuk menjadi petani hortikultura muncul karena dagangannya cukup laku.

“Waktu saya pertama buat kios sembako banyak pembeli yang bertanya tentang ketersediaan sayur-sayuran. Pertanyaan tersebut saya tangkap sebagai kesempatan emas untuk menggali rupiah karena saat itu tidak ada petani sayuran di desa tempat saya tinggal,” ungkap lelaki kelahiran 1975 itu.

Akhirnya Enjat memberanikan diri untuk membuka lahan sayur hortikultura yang didanai dari keuntungan berjualan sembako. Tetapi karena dirinya tidak mempunyai dasar pengetahuan mengenai pertanian, akhirnya percobaan pertamanya dalam bidang pertanian gagal.

Namun hal tersebut tak membuatnya patah semangat, dia kembali mengumpulkan hasil keuntungan untuk digunakan dalam percobaan kedua. Karena tak ingin kembali mengalami kegagalan, Enjat pun terlebih dahulu mempelajari teknik bertani kepada orang-orang yang sudah berpengalaman.

“Saya sempat ikut kerja pada orang-orang berpengalaman dalam pertanian yang tujuannya untuk mengetahui tata cara bercocok tanam yang baik. Ya istilahnya curi-curi ilmu,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ketekunan Enjat ternyata membuahkan hasil yang manis. Dalam percobaan kedua, dia berhasil mendapat hasil yang menggembirakan.

Hasil tani miliknya tidak hanya dijual di kios sembakonya saja tetapi kini telah berkembang menjadi usaha tukang sayur keliling di sekitar Desa Sukarame. “Istri jualan di warung, saya jualan keliling pakai motor,” kenangnya.

Usahanya kian pesat setelah hasil keutungannya berlipat dan akhirnya mampu membeli bidang demi bidang tanah untuk memperluas lahan pertaniannya. Dari tanah seluas 3.300 persegi hingga 8 hektare, dari 4 varietas tanaman hingga 8 tanaman hortikultura. Kemudian pemasaran yang hanya di sekitar Desa Sukarame sudah bisa dipasarkan ke luar Banten.

“Alhamdullah pemasaran saya kini selain di dalam Banten seperti Pasar Induk Rau namun kini telah merambah ke Pasar Tanah Tinggi Kabupaten Tangerang hingga Pasar Kramat Jati dan Pasar Rawa Buaya di Jakarta,” terangnya.

Bertambahnya luas lahan dan pemasaran, bertambah pula pendapatannya yang dia raup. Dari keuntungan pemasarannya saja di 4 pasar itu, setidaknya Rp 2 juta masuk ke katungnya setiap hari. Itu belum termasuk penghasilannya dari hasil panen setiap harinya di mana panen satu varietas beromzet Rp 9 juta.

“Dari awal saya merancang panen bisa setiap hari, minimal satu hari satu varietas yang panen jadi kalau dikalkulasikan omzet saya sebulan dari panen saja bisa mencapai Rp 270 juta,” terangnya.
Kesuksesan yang diraih Enjat seakan menghidupkan gairah bercocok tanam di Desa Sukarame, bahkan tak sedikit warga Desa Sukarame yang mengikuti jejaknya.

Sejak banyaknya warga yang mengikuti jejaknya, Enjat berinisiatif merangkul warga-warga. Enjat bahkan membuat sebuah kelompok tani yang akhirnya berubah menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dalam bidang hortikultura.  Makan jangan heran jika melintasi Desa Sukarame dipenuhi tanaman hortikultura ketimbang tanaman padi.

Pada 2010, sepak terjang Enjat di bidang pertanian hortikultura membuat Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten merekomendasikan Enjat sebagai petani teladan tingkat nasional. Alhasil, Enjat pun mendapat surat undangan dari Istana Negara yang berisi undangan agar dirinya mampu menyempatkan waktu bertemu presiden saat itu yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“2010 akhir saya dapat undangan langsung dari SBY. Isinya saya disuruh datang ke Istana Negara karena SBY ingin bertemu dengan saya dan memberikan penghargaan sebagai pemilik BUMP teladan se-Indonesia,” tuturnya.

Setelah menerima penghargaan tersebut Enjat mengaku, makin bersemangat dalam menjalankan profesinya  Dengan kesuksesannya pula, puluhan tenaga kerja warga sekitar bisa bekerja di lahan miliknya.
Apa yang ditunjukan Enjat merupakan bukti bahwa pepatah sedikit demi sedikit akan menjadi bukit adalah benar.

Atau mungkin juga pembuktian dari pepatah lainnya seperti usaha tak akan mengkhianati hasil.  Jangan pernah penyerah dalam menekuni sesuatu karena kita tak pernah tahu seberapa dekat kita dengan keberhasilan. (Dewa)

Beri komentar


Security code
Refresh