Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 509 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 631 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 497 | Komentar

Baca


Omset PCC Rp11 M per Bulan * Polres Serang Sisir Pabrik PCC


JAKARTA - Penangkapan bos besar PCC berinisial BP membuat Bareskrim menggali lebih dalam bisnis haram tersebut. Terutama, terkait dari mana BP memiliki ide untuk membuat PCC yang ternyata memiliki pasar tersendiri di kalangan penyalahguna obat-obatan. Bisa jadi, ada pabrik lain yang menginspirasi BP untuk memproduksi PCC.

Direktur Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipid Narkoba) Bareskrim Brigjen Eko Daniyanto menuturkan, memang BP memiliki istri berinisial LKW yang merupakan mantan apoteker, sekaligus pernah menjabat sebagai kepala cabang sebuah perusahaan Farmasi. ”Latar belakang istrinya itu tentu menjadi bisa menjadi salah satu penyebab mereka memiliki ide untuk membuat PCC,” terangnya.

Namun, bisa jadi masih ada penyebab lainnya. Yakni, BP dan LKW terinspirasi dari pabrik pembuat PCC lainnya. Karena itu, saat ini polisi menduga masih ada pabrik lain yang beroperasi. Hal itu cocok dengan temuan lapangan bahwa ada obat PCC yang masih beredar. ”Bisa jadi PCC yang masih beredar dari pabrik lain itu,” tuturnya ditemui di kantor Dittipid Narkoba kemarin.    

Dugaan polisi kian dikuatkan dengan  temuan bahwa bahan baku PCC berupa carisoprodol diselundupkan melalui pelabuhan-pelabuhan ilegal. Carisoprodol itu berasal dari dua negara, yakni Tiongkok dan India. ”Selama ini mereka menyelundupkan obat semacam itu,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pabrik PCC milik BP itu diakui tersangka beroperasi baru dua tahun. Namun, penyidik saat menganalisa skala pabrik serta manajerial dari pabrik justru menduga pabrik itu telah beroperasi lebih dari dua tahun. ”Bisa enam tahun atau malah lebih. Yang berarti selama enam tahun itu, mereka terus mendapatkan pasokan bahan baku selundupan,” jelasnya.

Lamanya pabrik itu beroperasi juga dilihat dari aset milik BP yang begitu banyak. diantaranya, lahan seluas dua hektar yang diperuntukkan menjadi pabrik d Sumedang, rumah yang digunakan menjadi Pabrik di Purwokerto, sebuah mobil BMW sport warna putih, sebuah mobil Pajero Sport dan berbagai mesin produksi.

”Sesuai pengusutan petugas dalam enam bulan omsetnya mencapai Rp 11 miliar,” tutur jenderal berbintang satu tersebut. Dia menceritakan bahwa BP yang ditangkap melalui penjebakan itu sempat berupaya untuk menyuap petugas. BP menawari Rp 450 juta untuk melepaskan dirinya dan istrinya. ”Petugas tidak menggubris dan menangkap semuanya,” jelasnya.

Dalam penangkapan berantai itu juga ditangkap tiga orang lain, yakni MA, HS dan WH. Ketiganya merupakan bandar yang membeli PCC dari BP dan LKW. ”Namun, tidak berhenti pada mereka,” tuturnya.
Petugas akan menelusuri siapa saja yang pernah membeli PCC dari BP dan LKW. Setidaknya, nanti akan tergambarkan secara sempurna apakah ada distributor PCC.

”Kemungkinan ada distributornya di tiap kota. Inikan menjalar kemana-mana,” ujarnya.  Yang paling baru, setelah, Kendari, Makasar, Papua dan Mamuju ditemukan pula PCC di Ambon. Laporan kejadian peredaran PCC di Ambon baru diterima pagi tadi (22/9). ”Baru aja laporannya itu,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah toko obat dan apotek yang berada di kawasan Serang Timur dirazia petugas gabungan dari Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Serang dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang, Jumat (22/9).

Dalam razia itu, petugas tidak menemukan obat paracetamol caffeine carisoprodol (PCC), namun menemukan beberapa apotek tak berizin. Satuan Reserse Narkoba Polresta Serang Kota juga melakukan razia yang sama.

Pantauan di lokasi, sidak pertama dilakukan di Perumahan Cikande Permai, Desa Cikande/Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang. Petugas menyambangi sebuah toko obat yang diduga tidak berizin. Sayangnya saat petugas datang, toko obat tersebut sedang tidak beroperasi alias tutup.

Petugas lalu bergeser ke Toko Obat Barokah di Blok C1, Nomor IV. Di toko obat ini petugas tidak bertemu dengan pemiliknya. Petugas hanya bertemu dengan pegawai obat yang bukan seorang apoteker atau asisten apoteker bernama Wela Nova. “Ibu lagi ada kegiatan di Serang (Kota Serang). Ini (toko obat) yang punya guru,” ujar Wela saat ditanyai petugas.

Dia menuturkan Toko Obat Barokah belum mengantongi izin dari pemerintah. Proses izin toko obat tersebut mengalami kendala karena apoteker sebelumnya mengundurkan diri sehingga belum memenuhi persyaratan. “Lagi diurus sama ibunya (perizinan). Saya baru tiga bulan kerja di sini saya enggak tahu kalau (lamanya operasi toko obat),” katanya.

Setelah melakukan pemeriksaan terhadap pegawai tersebut, petugas lalu melakukan pencarian terhadap obat-obat tertentu yang kerap disalahgunakan seperti dumolid, tramadol, trihexypenidil, dextromethorpan, nitrazepam, chlorpromazine, amytriptilline, golongan diazepam atau benzodiazepine. Namun obat tersebut tidak ditemukan. Petugas lalu bergeser ke Apotik Ciruas Farma di Jalan Serang Jakarta, KM 9, Desa Citerep, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang.

Di tempat ini petugas tidak menemukan obat-obat tertentu. Petugas hanya menemukan izin apotek yang belum diperbarui. Kasat Resnarkoba Polres Serang AKP Nana Supriyatna mengatakan, sidak yang dilakukan tersebut merupakan intruksi langsung dari Kapolri terkait maraknya penyalahgunaan obat terlarang akhir-akhir ini.

"Kegiatan itu juga merupakan pengawasan terhadap obat-obat yang beredar berdasarkan undang-udang tentang kesehatan," ungkap AKP Nana. Meski tidak menemukan obat-obat tertentu, kata AKP Nana, pihaknya akan tetap melakukan pengawasan. Sebab, dalam bulan ini pihaknya berhasil membongkar penyalahgunan obat dengan meringkus 3 orang tersangka dengan barang bukti 5.199 butir obat.

“Pada saat penjualan obat harus melekat dengan apoteker agar konsumen mendapat pengawasan langsung karena mengonsumsi obat itu kan harus ada resep dokter,” tuturnya. Terkait dengan toko obat yang tidak berizin, AKP Nana mengatakan pihaknya akan mengumpulkan seluruh pengusaha farmasi di wilayah hukum Polres Serang pada Selasa (26/9) nanti.

Setelah diberikan sosialisasi dan masih membandel tidak memiliki izin, maka pengusaha farmasi akan diproses pidana. “Di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sudah ditentukan badan usaha harus dilengkapi perizinan dan tenaga apoteker. Setelah sosialisasi masih melakukan pelanggaran maka kita akan tindak saja,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat Dinkes Kabupaten Serang Agus Sukmayadi mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan penindakan terhadap pengusaha farmasi nakal karena keterbatasan SDM. Selain itu juga, kewenangan penindakan biasanya diserahkan kepada Satpol PP dan kepolisian atau BPOM.

“Pemerintah daerah dalam hal ini dinas kesehatan hanya melakukan pembinaan, kami juga melakukan pengawasan terhadap fasilitas kesehatan melalui kegiatan sosialisasi atau inspeksi dan pra perizinan,” katanya.

Dia menuturkan, Dinkes Kabupaten Serang memiliki catatan terhadap sejumlah toko obat atau apotik yang belum memiliki izin. Catatan tersebut diperoleh dari pembinaan terhadap pengusaha farmasi sejak dua tahun lalu yang tak kunjung mengurus perizinan. “Jumlahnya tidak lebih dari 10 persen dari data kita. Itu yang kita bina dua tahun lalu tapi  izinnya tak kunjung diurus,” tuturnya.

Sementara razia yang dilakukan Satuan Reserse Narkoba Polresta Serang Kota juga hasilnya nihil.  “Kami melakukan pengecekan sekaligus mengimbau seluruh pelaku usaha, khususnya di bidang farmasi dalam mendistribusikan obat harus melalui resep dokter.

Terutama obat keras yang mengandung narkotika, psikotropika, harus diawasi pihak terkait baik dari Dinkes maupun kepolisian,” kata Kasat Narkoba Polresta Serang Kota AKP Ivan Adhitira. Sementara ini, pihaknya mengaku belum menemukan apotek yang menjual obat terlarang seperti PCC, tramadol, heximer dan dexa. “Obat-obat ini sudah ditarik izin edarnya,” kata dia.

Mengantisipasi akan beredarnya jenis obat tersebut, pihaknya mengaku akan melakukan operasi berkala ke sejunlah apotek. “Ini dilakukan untuk menekan jumlah peredaran di masyarakat,” jelasnya. (jpg/marjuki)




Beri komentar


Security code
Refresh