Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 507 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 629 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 496 | Komentar

Baca


Kota Tangerang Lebih Layak Jadi Ibukota


SERANG – Kota Tangerang dinilai lebih cocok menjadi Ibukota Provinsi Banten ketimbang Kota Serang. Sebab, Kota Tangerang lebih unggul dari berbagai aspek baik infrastruktur dan laju pertumbuhan daerah selayaknya sebuah ibukota.

Akademisi dari Untirta Suwaib Amiruddin mengatakan, perdebatan penetapan ibukota sudah terjadi sejak pembentukan Provinsi Banten dengan pilihan Kota Serang dan Kota Tangerang. Kota Serang akhirnya terpilih meski pada perjalanannya mengalami pertumbuhan yang sangat lambat.

“Secara historis dari dulu memang Ibukota Provinsi Banten itu Serang. Tetapi dari segi kelayakan saya kira daerah yang diplot sebagai ibukota dari aspek kemajuan memang sangat lambat,” ujarnya kepada Banten Raya, Selasa (3/10).

Dosen FISIP Untirta itu menuturkan, dengan kondisi Kota Serang saat ini dia pun sependapat dengan mereka yang mendukung agar Kota Tangerang dijadikan Ibukota Banten. Kota yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang itu memiliki semua aspek sebuah ibukota.

“Saya sependapat, karena memang Kota Tangerang perkembangannya sangat luar biasa. Dari sisi infrastruktur dan pendapatan daerah pun sudah sangat kuat. Dilihat dari aspek sosiologis pun ibukota itu memang harus ramai. Wajar jika ada yang bilang Ibukota Banten sebaiknya Kota Tangerang,” katanya. 

Jika memang pemerintah menginginkan pemindahan ibukota dari Kota Serang ke Kota Tangerang maka hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Dari segi administrasi pun tidak akan menjadi sebuah masalah besar. “Kalau dipindahkan ke Kota Tangerang ya saya kira tidak masalah meski itu membutuhkan kajian yang mendalam lagi.

Baik itu terkait historis maupun secara sosiologis, apakah masyarakat kita akan setuju untuk itu atau tidak. Sebuah perpindahan ibukota secara administratif juga enggak menjadi permasalahan yang besar,” ungkapnya.

Disinggung apa solusi yang bisa dilakukan jika pemerintah tetap mempertahankan Kota Serang sebagai ibukota, Suwaib mengungkap bahwa kuncinya ada pada koordinasi Pemkot Serang dan Pemprov Banten.

“Aspek kemajuan Kota Serang agak terlambat karena tidak begitu kuat kooordinasi antara Pemkot Serang dan Pemprov Banten. Perkembangan ibukota tidak terlepas dari kontribusi dari pemprov agar ibukota dikembangkan sedemikian rupa. (Saat ini) kelihatannya memang tidak begitu ada perhatian dari pemprov,” tuturnya. 

Seperti diketahui, APBD murni Kota Tangerang 2017 mencapai Rp 3,5 triliun. Sedangkan APBD Kota Serang 2017 hanya ada di angka Rp 1,1 triliun. Pengamat Tata Kota dari Unsera Dita Setyo Rini mengatakan, dari segi tata kota, Kota Serang memang masih memiliki segudang pekerjaan rumah.

“Tata kota memang masih menjadi pekerjaan rumah. Harus ada agenda dan pemetaan yang rapi untuk membenahi tata kota,” ujarnya. Menurutnya, permasalahan yang hingga kini belum juga terselesaikan adalah soal penataan pedagang kaki lima (PKL) sehingga membuat kumuh.

Kemudian masalah angkutan massal di mana belum semua tempat mampu dijangkau layaknya sebuah ibukota. “PKL-PKL belum tertata dengan rapi, trayek juga sepertinya harus dikaji lebih dalam karena sebagai ibukota maka sekarang berbicaranya kemana saja bisa pakai angkot,” papar jebolan program pasca sarjana studi teknik sipil Universitas Indonesia (UI) ini.

Dita berharap, Pemkot Serang ke depan bisa benar-benar fokus dalam membenahi tata kota. Sebagai ibukota sebuah provinsi seharusnya mampu memberikan kenyamanan dari segala aspek. “Kalau tata kotanya baik maka masyarakat pun akan nyaman.

Sebagai ibukota pula Kota Serang sudah tentu akan disambangi oleh warga dari luar daerah, tentunya pemerintah harus malu ketika mereka merasa tidak nyaman,” tuturnya.  Terpisah, Ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wati (KOHATI) Cabang Serang Mudawaroh Payumi Padma mengatakan, jika memang Kota Serang ingin layak disebut sebagai Ibukota Banten maka mereka harus bisa menyelesaikan masalah kecilnya terlebih dahulu.

“Coba lihat, sampah di mana-mana, di gapura selamat datang menggunung di sejumlah titik juga enggak beda jauh. Kalau sudah begitu mana nyaman warganya,” pungkasnya. (dewa) 

Beri komentar


Security code
Refresh