Crime News

Pelaku Utama Pembunuhan Siti Dituntut 10 Tahun

News image

SERANG - ER (18), terdakwa pembunuhan Siti Marhatusholihat (17), warga Ka...

Hukum & Kriminal | Rabu, 17 Januari 2018 | Klik: 25 | Komentar

Baca

Tabrak Mobil, Pengendara Motor Tewas

News image

SERANG- Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Abdul Fatah Hasan, Ko...

Hukum & Kriminal | Senin, 8 Januari 2018 | Klik: 94 | Komentar

Baca

Babeh Terancam 15 Tahun

News image

JAKARTA- Kembali terjadinya kasus sodomi membuat khawatir beberapa pihak. Menteri Pe...

Hukum & Kriminal | Senin, 8 Januari 2018 | Klik: 69 | Komentar

Baca


Difteri Terus Meluas


SERANG- Penyakit difteri di Provinsi Banten terus meluas. Jumlah kasusnya pun terus bertambah. Hingga kemarin, (Senin 11/12), penyakit difteri di Banten mencapai 81 kasus, dengan 9 orang meninggal. Namun, Pemprov Banten hingga kini belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten drg Rostina mengatakan, peningkatan kasus difteri di Banten tergolong cepat. Pada Jumat (8/12), jumlah kasus difteri mencapai 68 kasus, 8 orang meninggal. Namun kemarin angkanya meningkat lagi.

"Di Kabupaten Tangerang ada 27 kasus 4 orang meninggal, Kabupaten Serang 14 kasus 2 orang meninggal, Kabupaten Pandelang 10 kasus 1 orang meninggal, Kota Serang 8 kasus 1 orang meninggal, Kabupaten Lebak 3 kasus 1 meninggal.

Kemudian di Kota Tangerang 14 kasus, Kota Tangerang Selatan 4 kasus, dan Kota Cilegon 1 kasus. Jadi kasusnya terus nambah, tapi yang meninggal nambah satu orang," kata Rostina kepada wartawan melalui pesan singkat, kemarin.

Meski jumlah pengidap penyakit mematikan itu semakin bertambah, namun Pemprov Banten belum menetapkan status KLB (kejadian luar biasa). Menurut Rostina, Banten belum bisa mengeluarkan SK KLB difteri karena masih menunggu pernyataan KLB dari Kota Serang, Kota Tangsel, dan Kota Tangerang.

"Untuk menetapkan status KLB itu harus didahului dari kabupaten/kota. Minimal separuhnya. Memang prosedurnya seperti itu. Saat ini yang sudah mengeluarkan SK KLB itu baru Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang. Kita masih menunggu daerah lainnya," katanya.

Dia mengaku bahwa pihaknya sudah melaporkan update penyebaran penyakit difteri tersebut ke Gubernur Banten Wahidin Halim (WH). "Hari ini (kemarin) kita sudah laporkan ke gubernur. Kalau gubernur responnya sangat cepat. Tapi karena baru dua yang KLB, kita juga harap-harap cemas karena belum ada progres dari 3 kota ini. Infonya kalau Tangsel dan Kota Serang tinggal nunggu tanda tangan walikota," jelasnya.

Menurutnya, status KLB ini menjadi syarat agar dana tak terduga (DTT) dapat dicairkan untuk operasional imunisasi. "Iya, sampai sekarang belum ada dana operasionalnya," ungkapnya.Diketahui, pada 11 Desember ini dilakukan imunisasi ulang atau outbreak response immunization (ORI) vaksin Difteri-Tetanus (DT) serempak di Jawa Barat (Jabar), DKI Jakarta, dan Banten. Meski pernyataan kementerian kesehatan (kemenkes) menyatakan bahwa kasus difteri di 3 wilayah tersebut sudah menjadi KLB, namun Banten hingga kini belum menetapkan status KLB.

Sementara itu, RSUD Banten menyiapkan dua ruang isolasi bagi penderita penyakit difteri. Penyediaan fasilitas dengan kapasitas 12 pasien itu dibangun untuk meminimalisasi kontak dengan penderita. Sebab, penyakit tersebut sangat mudah menular dan mematikan.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Banten Drajat AP mengatakan, penyediaan ruang isolasi dilakukan setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi internal. Fasilitas tersebut dibutuhkan karena saat ini bakteri difteri sedang mewabah.

“Kami sudah melakukan koordinasi untuk penanganan difteri mulai dari IGD, dokter spesialis anak, THT (telinga, hidung, tenggorokan), penyakit dalam, laboratorium, instalasi rawat jalan dan inap. Hal serupa juga dilakukan dengan dengan Dinkes Provinsi Banten. Pada prinsipnya kami siap menerima pasien difteri," ujarnya saat ditemui RSUD Banten, Senin (11/12).

Ia menuturkan, dari dua unit yang disediakan masing-masing ruang isolasi mampu menampung sebanyak 6 pasien. Adapun posisinya berada di lantai 3 gedung RSUD Banten. Penyediaan ruang itu juga sebagai upaya untuk meminimalisasi adanya kontak dengan penderita.

“Ini kami lakukan sebagai langkah antisipasi, meminimalisasi kontak dengan penderita. Bila kontak dengan penderita maka ada potensi tertular karena memang semua umur bisa tertular. Sebagai antisipasi juga, semua tenaga medis di RSUD sudah diberikan vaksin difteri,” katanya.  

Drajat menegaskan, tanpa mengulur waktu mulai kemarin RSUD Banten sudah siap menerima pasien  penderita penyakit difteri. Dia pun mengimbau kepada mereka yang mendapat gejala difteri seperti sakit tenggorokan dan sakit saat menelan disertai adanya membran putih di tenggorokan untuk segera melapor.

“Penyakit difteri sendiri saat ini sedang menjadi perhatian pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah. Bahkan hari ini (kemarin-red) dilakukan vaksinasi secara serentak di seluruh daerah,” ungkapnya. (rahmat/dewa)




Beri komentar


Security code
Refresh