Crime News

Ayah Perkosa Anak Kandung Hingga Hamil

News image

SERANG - F (17), warga Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok, Kota ...

Hukum & Kriminal | Sabtu, 17 Februari 2018 | Klik: 83 | Komentar

Baca

Pemilik Toko Alat Listrik Tewas Bersimbah Darah

News image

PANDEGLANG - Siti Aminah (30), tewas di rumahnya, di RT01/01, ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 14 Februari 2018 | Klik: 60 | Komentar

Baca

Bayi Perempuan Dibuang di Semak-Semak

News image

PANDEGLANG - Warga Kampung/Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk digegerkan dengan penemuan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 8 Februari 2018 | Klik: 86 | Komentar

Baca


Melingkarkan Gerakan Literasi


KOTA SERANG
- Gerakan literasi di Banten terus menggelinding bak bola salju sejak beberapa tahun terakhir. Banyak komunitas literasi atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjamur di sejumlah daerah. Dan Forum Linggar Pena (FLP) Wilayah Banten hadir untuk melingkarkan gerakan literasi dan menciptakan para penulis baru di Banten.

FLP Wilayah Banten kembali membuka Kelas Menulis yang bertempat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten. Yang diikuti oleh peserta yang mayoritas perempuan itu berjalan dengan seru. Pada pertemuan pertama itu diisi materi soal ke-FLP-an dan juga ada materi fiksi mini yang dipandu langsung oleh Ketua FLP Banten Fey Chandra.

Sebelum menjelaskan sejarah FLP Fey lebih dulu menyuguhkan potongan film “Murder on The Orient Expres” yang disutradarai Kenneth Branagh. Para peserta Kelas Menulis FLP Banten kemudian diminta memberikan tanggapan atas film yang diadaptasi dari novel karya Agatha Christie itu. Dalam dunia menulis fenomena sebuah cerita fiksi buku sudah banyak yang diadaptasi menjadi film. Yang terbaru adalah film “Dilan” yang mengadopsi dari novel karya Pidi Baiq dengan judul yang sama.

Kemudian Fey menjelaskan bahwa FLP didirikan pada 22 Februari 1997 oleh para penulis perempuan, yaitu Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainnah. Kelas Menulis FLP Banten diciptakan guna mengasah kemampuan menulis, khususnya bagi mereka yang baru mau belajar menulis.

“Kelas menulis digelar selain untuk menggerakkan literasi di Banten juga untuk melahirkan penulis baru. Semangat FLP tidak hanya sekadar berkarya tetapi juga menyebarkan nilai-nilai dakwah lewat gerakan literasi atau tulisan," kata Fey usai Kelas Menulis FLP Banten berakhir, Minggu (11/2) lalu.

Fey menambahkan kelas menulis ini akan berlangsung selama tiga bulan yang berlangsung setiap akhir pekan. Setelah selesai kelas menulis anggota kelas menulis akan diangkat menjadi anggota FLP Banten tingkat muda.“Di FLP ada tiga tingkat pengurus, yaitu muda, madya, dan andal," paparnya.

Goal dari Kelas Menulis FLP ini adalah penerbitan buku peserta kelas menulis dan pengurus FLP Banten berupa kumpulan cerita pendek bertema tentang Banten. Penerbitan buku ditarget selesai dan diluncurkan pada April mendatang dalam acara peringatan Hari Buku Sedunia (World Book Day) di Rumah Dunia.“Kita akan usahakan kerjasama juga dengan DPK Banten," terangnya.

Pada pertemuan pertama kelas menulis, lanjut Fey, peserta ditantang membuat cerita fiksi mini. Jumlah peserta kelas menulis berjumlah puluhan orang yang berasal dari Serang, Mancak, Cilegon, Karangantu, dan Serdang. "Saya melihat peserta sudah memiliki potensi menulis tinggal diasah lagi," paparnya.

Sementara itu ketua pelaksana acara Kelas Menulis FLP Abai Kusnalia mengatakan, bahwa pelaksanaan acara ini sudah direncanakan sejak November lalu saat Munas FLP di Bandung. “Kita kembali membuka kelas menulis ini untuk memenuhui kebutuhan orang-orang yang ingin bergabung dengan FLP,” ujar Abai yang mengatakan pendaftaran kelas Menulis FLP Masih dibuka hingga akhir Februari.
Abai juga memberikan motivasi kepada para peserta FLP. “FLP tidak menjanjikan seseorang jadi penulis hebat. Tapi banyak penulis hebat lahir dari FLP,” ujarnya.

Muflihatun, salah satu peserta Kelas Menulis FLP Banten, mengaku sejak SMP sudah suka menulis. Tulisan yang pernah dibuatnya berupa artikel, cerpen, dan puisi. Bahkan saat SMA tulisannya pernah dimuat di majalah remaja “Aneka”. Tetapi karena kesibukannya kuliah dan berorganisasi ia sudah jarang nulis. Ia mengikuti kelas menulis untuk kembali mengasah kemampuannya dalam menulis.

"Makanya saya gabung di sini karena ingin bisa nulis lebih baik lagi," kata Atun, sapaan akrab Muflihatun, yang saat ini bekerja di Pengadilan Agama Kota Serang.Atun mengaku sampai saat ini masih menulis meski tak seproduktif dulu. "Sekarang masih nulis cerpen tapi cuma buat sendiri. Kadang dikasih lihat sama temen," paparnya. (MUHAMAD TOHIR)

Beri komentar


Security code
Refresh