Politik

Indonesia Kecam Serangan Militer Israel

News image

JAKARTA - Pemerintah Indonesia bereaksi keras atas aksi militer yang ...

Politik | Jumat, 11 Juli 2014 | Klik: 1859 | Komentar

Baca

MenPAN Tantang Presiden Baru

News image

JAKARTA - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) ...

Politik | Jumat, 4 Juli 2014 | Klik: 1693 | Komentar

Baca

Anggoro Divonis 5 Tahun, Kaban Terbukti Nyogok

News image

JAKARTA – Terdakwa perkara dugaan suap proyek pengadaan revitalisasi sistem ...

Politik | Kamis, 3 Juli 2014 | Klik: 1481 | Komentar

Baca


Hukum & Kriminal

SERANG - Pimpinan sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kota Serang berinisial MAS (56) dituntut dengan pidana selama 7 tahun oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Serang. Tuntutan tersebut dijatuhkan setelah JPU menilai perbuatan MAS telah terbukti melakukan tindak pencabulan terhadap empat santriwatinya.

Selain dituntut dengan pidana penjara, JPU juga menuntut terdakwa dengan uang denda senilai Rp 100 juta subsidair enam bulan kurungan. “Dituntut dengan pidana tujuh tahun dan denda Rp 100 juta. perbuatan terdakwa dinilai telah terbukti melakukan tindak pencabulan terhadap empat orang santriwatinya,” ujar sumber Kabar Banten di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Serang, Senin (30/5/2016).

Pantauan Kabar Banten dalam sidang yang berlangsung tertutup tersebut diketaui oleh majelis hakim Ni Putu Sri Indayani, JPU Kejari Serang Sandra. Sementara terdakwa SAM didampingi penasihat hukumnya Santi. Oleh JPU, perbuatan SAM telah terbukti melanggar dakwaan primair Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak. Dalam pertimbangnnya, perbuatan SAM tidak memberikan suri tauladan sebagai tenaga pendidik, tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak, tidak mengakui perbuatannya, korbannya adalah anak dibawah umur dan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. “Terdakwa bersikap sopan di persidangan dan belum pernah dihukum itu sebagai

pertimbangan yang meringankan,” kata sumber tersebut. Dikonfirmasi wartawan terkait tuntutan tersebut, JPU Irma Sandra memilih tidak berkomentar. Sementara penasihat hukum SAM, Santi merasa keberatan dengan tuntutan jaksa karena dinilai tidak sesuai dengan fakta persidangan. “Kami sangat keberatan dengan tuntutan jaksa. Nanti kami akan tanggapi nota pembelaan (pledoi) dan jelaskan fakta persidangannya.

Untuk saat ini saya belum bisa berikan bocoran fakta persidangan yang meringankan klien kami, nanti pas pledoi pekan depan akan kami beberkan,” katanya. Kasus dugaan pencabulan ini terungkap setelah keempat santriwatinya berinisial MH (17), LH (17), SA (15) dan JT (16) membuat laporan di Unit Layanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Serang Rabu (17/02/2016) lalu. Mereka mengaku telah beberapa

mendapat perlakuan cabul yang dilakukan oleh SAM dengan modus meminta dipijit saat kondisi ponpes sepi. Saat dipijit itulah SAM diduga melakukan perbuatan tidak terpuji dengan memegang payudara, memeluk, mencium, memegang kelamin dan bahkan paha santriwatinya.

Salah satu korban berinsial JT yang gerah perlakuan SAM itu kemudian menceritakannya kepada salah satu kerabat korban lainnya berinisial DN. Laporan dari JT tersebut ternyata dilaporkan DN kepada orang tuanya. Setelah berkomunikasi dengan tiga korban lainnya pihak keluarga akhirnya sepakat untuk mempolisikan SAM. (marjuki)
SERANG - Seorang oknum guru salah satu SMK di Kota Serang berinisial NS diduga telah memperkosa salah satu siswinya pada Jumat (21/5) malam lalu. Korban sebut saja Melati (16), telah melaporkan kasus ini ke Polres Serang. Mirisnya, perbuatan tak senonoh itu dilakukan NS di ruang OSIS sekolah.

Informasi yang diperoleh, peristiwa dugaan pencabulan yang dialami Melati terjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, Melati mengikuti kegiatan pramuka yang diadakan di sekolah.

Malam itu, Melati yang sedang melaksanakan kegiatan pramuka itu diajak NS masuk ke ruang OSIS. Karena yang mengajaknya adalah gurunya, Melati mengaku tak merasa curiga. Setelah berada di dalam ruang OSIS, NS memaksa Melati untuk membukan pakaian.

Melati sempat menolaknya dan berniat keluar dari ruangan, namun pintu ruang OSIS tersebut terkunci. NS yang tak kuat menahan birahi, mencekik sambil mengancam Melati jika tidak menuruti ajakannya. Karena ancaman itu, Melati akhirnya tak berdaya dijadikan nafsu bejat gurunya itu.

Usai melampiaskan nafsu bejadnya itu, NS memfoto anak didiknya itu yang tanpa busana dengan menggunakan handphone miliknya. Ia mengancam akan mengeluarkan dari sekolah dan menyebarkan foto bugilnya jika buka mulut.

Meski ada ancaman, Melati tetap mengadukan aib yang menimpanya kepada orangtuanya. Orangtua Melati akhirnya melaporkan kasus itu ke Mapolres Serang.Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Serang Iptu Juwandi, Senin (23/5), membenarkan adanya laporan asusila yang dilakukan oknum guru terhadap anak didiknya tersebut. "Iya, sedang kita selidiki," tegasnya. (marjuki)
SERANG - Komplotan penguras tabungan melalui anjungan tunai mandiri (ATM) beraksi di Kota Serang. Kamis (14/4) pagi, uang tabungan sebesar Rp1,7 juta Asep Soleh Purnama, guru SMA Negeri 4 Kota Serang raib dikuras. Peristiwa ini terjadi sekira pukul 07.00 WIB.

SERANG
- Regi Edrika (15), anak baru gede (ABG), menjadi bulan-bulanan warga, setelah kedapatan membobol kotak amal di Masjid Nurul Ittihad, Kampung Blosong RT 02 RW 03, Desa Serdang, Kecamatan Kramatwatu, Minggu (27/3) pagi. Warga yang kesal dengan ulah pelaku yang masih di bawah umur itu, akhirnya ...

TANGERANG - Fahmi Pamungkas (15), siswa kelas 1 SMA Darussalam membacok pemilik yayasan Sri Hastuti (45), dan Muryanah guru honorer, yang juga anak angkat pemilik yayasan, Selasa (6/9) sekitar pukul 23.15 WIB. Aksi pembacokan itu terjadi di dalam rumah korban, RT 01/03 Kampung Bubulak, Keluraha ...

Komentar Terakhir