Crime News

Empat Pemeras Ngaku Polisi

News image

SERANG – Mengaku sebagai anggota polisi Polda Banten,  empat pemuda ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 368 | Komentar

Baca

Pembuang Bayi Itu Pelayan Kafe

News image

PASARKEMIS - Sesosok bayi berjenis kelamin perempuan yang ari-arinya masih ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 29 Maret 2017 | Klik: 277 | Komentar

Baca

Puluhan Anak di Pandeglang Diduga Disodomi

News image

PANDEGLANG – Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 24 Maret 2017 | Klik: 357 | Komentar

Baca


Lanjutan Persidangan Tb Chaeri Wardana



LARANG AMIR KE MK, ATUT AKUI BERTEMU AKIL

JAKARTA
- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar mengaku pernah bertemu dengan Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah di Singapura. Pertemuan itu terjadi di bandara.

Namun demikian, Akil mengaku tidak pernah bertemu di Hotel JW Marriot Singapura. Padahal adik Atut, Tb Chaeri Wardana alias Wawan menyatakan pertemuan antara dirinya, Atut dan Akil dilakukan di hotel itu. "Saya pernah bertemu tapi di bandara, satu pesawat," kata Akil saat bersaksi dalam persidangan Wawan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (24/4).

Akil menyatakan, saat bertemu di bandara, Atut menanyakan soal perkara pilkada yang ada di dalam Provinsi Banten. Suami Ratu Rita itu mengaku tidak mengingat persis soal itu. "Karena saat itu belum ada pilkada kabupaten kota Banten masuk," ujarnya. Akil menambahkan, Atut sempat mengungkapkan meminta bantuan kepada dirinya. Permintaan itu, lanjut dia, terkait tiga daerah yakni Pilkada Lebak, Kota Tangerang, dan Serang. "Saya jawab saya tidak bisa memastikan tapi kita lihat proses perkara terlebih dahulu," ucap Akil.

Jaksa Penuntut Umum menilai jawaban Akil itu seperti memberi peluang untuk memberikan bantuan kepada Atut. Namun demikian, mantan anggota DPR itu membantahnya. "Tidak (beri peluang). Kalau misalnya saya kasih peluang saya katakan bisa membantu. Tapi kan saya bilang tidak bisa memastikan tapi kita lihat proses perkaranya," tandas Akil. Seperti diberitakan, Wawan merupakan terdakwa kasus dugaan suap penanganan sengketa Pilkada Lebak dan Pemilihan Gubernur Banten di MK. Dalam Pilkada Lebak, ia didakwa memberikan duit Rp 1 miliar untuk memenuhi permintaan Akil yang kala itu menjadi Ketua MK.

Tujuannya agar permohonan keberatan calon bupati dan Wabup Lebak Amir Hamzah-Kasmin untuk dilakukan pemungutan suara ulang dikabulkan MK. Selain Pilkada Lebak, jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi mendakwa Wawan memberi uang Rp 7,5 miliar kepada Aki. Duit ini untuk mengamankan kemenangan Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno pada Pilgub Banten tahun 2011 yang digugat di MK.  Akil Mochtar juga menyatakan, pernah berkomunikasi dengan advokat Susi Tur Andayani. Dalam komunikasi itu, Akil mengaku meminta uang Rp 3 miliar.

Namun, kata Akil, permintaan itu tidak hanya terkait Pilkada Lebak tetapi juga Tangerang dan Serang. Sebab, Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah pernah meminta bantuan mengenai tiga pilkada itu. "Bukan perkara Lebak pak. Kalau mau minta bantuan tiga perkara itu, suruh dia bantulah. Lalu Susi menanyakan berapa pak? Saya secara sepintas bilang 3 M lah. Jadi tiga perkara," kata Akil. Soal permintaan uang itu disampaikan saat Akil berkomunikasi dengan Susi yang menjadi kuasa hukum pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Lebak, Amir Hamzah-Kasmin. Dalam pembicaraan itu, lanjutnya, Susi meminta bantuan soal perkara Lebak. "Jadi Susi menghubungi saya meminta bantu untuk perkara Lebak tapi perkara itu sebenarnya sudah diputus.

Lalu dia mendesak minta bantu dan dia ceritakan pertemuan dengan kalau enggak salah dengan saudara Wawan atau Ibu Atut. Nah kalau mau dibantu perkaranya tolong bantu kitalah. Tapi itu tidak serius karena perkara sudah diputus," ucap Akil.

ATUT BANTAH MINTA BANTUAN


Rt Atut Chosiyah menyatakan pernah bertemu dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar di Singapura. Meski begitu, Atut membantah meminta bantuan mengurus penanganan sengketa tiga pilkada di wilayah Provinsi Banten. Hal itu diungkapkan Atut saat bersaksi dalam persidangan Susi Tur Andayani yang berstatus terdakwa kasus dugaan suap penanganan sengketa Pemilihan Kepala Daerah Lebak dan Lampung Selatan "Saya menyampaikan ada penyelenggaraan Pilkada di Lebak, Serang, Tangerang, dan saat itu saya belum mengetahui ada gugatan apa belum," kata Atut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (24/4).

Hakim ketua Gosen Butar Butar kembali bertanya soal adanya permintaan Atut ke Akil untuk membantu soal tiga sengketa pilkada di wilayah Banten. "Saya menanyakan secara umum terkait aturan. Saya sampaikan di Banten dilaksanakan pemilukada di tiga daerah," tandas Atut. Atut selaku ketua DPP Partai Golkar mengklaim sudah mengingatkan eks calon bupati Lebak, Amir Hamzah untuk tidak mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Larangan itu disampaikan Atut mengingat suara Amir jauh lebih rendah dibanding Iti Oktavia Jayabaya. "Saya sudah melarang Amir untuk menggugat karena perolehan suara sangat jauh," kata Atut saat bersaksi di sidang Terdakwa Susi Tur Andayani di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (24/4).

Walau begitu, Atut bilang, Amir tetap bersikeras melakukan gugatan. Soal pertemuan di kantor dinasnya selaku Gubernur Banten Atut tak membantahnya. Tapi, dia tekankan pertemuan itu tidak membahas pemberian suap pada Akil dalam sengketa Pilkada Lebak. Atur cerita, pertemuan itu dihadiri oleh Amir Hamzah, Kamsin dan Susi Tur Andayani. Disana Susi Tur diperkenalkan Amir kepada Atut. "Saya pernah bertemu dengan Susi. Saya kedatangan tamu Amir dan Kasmin di kantor saya disaat itu memperkenalkan Susi sebagai adik sekolah Kasmin," ujar Atut. Dalam surat dakwaan Susi disebutkan pertemuan di kantor Atut selaku Gubernur adalah membicarakan soal langkah kedepan penanganan perkara sengketa Pilkada Lebak. (jpnn)








Beri komentar


Security code
Refresh

Komentar Terakhir