Crime News

Sehari, 3 Motor Digasak Maling

News image

CILEGON - Kasus pencurian kendaraan bermotor atau Curanmor kembali marak ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 21 Juli 2017 | Klik: 231 | Komentar

Baca

Ayah Hamili Anak Kandung

News image

TANGSEL - Entah setan apa yang merasuki otak NS (44). ...

Hukum & Kriminal | Rabu, 19 Juli 2017 | Klik: 294 | Komentar

Baca

Pulang Apel Dikeroyok, 1 Tewas

News image

SERANG – Sufroni (42), warga Kampung Kebon Kelapa, Rt.04/04, Desa ...

Hukum & Kriminal | Jumat, 7 Juli 2017 | Klik: 249 | Komentar

Baca


Berita Utama


Anggota club mobil Westsider Auto Club Banten Nindy Aulia Setiawan (17) mengaku punya impian ingin mengharumkan nama baik Banten, melalui kompetisi balap mobil. “Dari pada balap-balapan mobil di jalan raya kan berbahaya. Jadi mending disirkuit, syukur-syukur dapat juara. Kan bisa membanggakan Ban ...


SERANG - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Banten mengaku bingung cara mencabut izin tiga perusahaan tambang yang masa izinnya sudah kedaluarsa. Sebab, izin tersebut awalnya dikeluarkan pemerintah kabupaten/kota. Namun setelah adanya undang-undang 23/2014 ...


PANDEGLANG – Ratusan nelayan mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Pesisir (AMP) Labuan melakukan unjuk rasa besar-besaran di kawasan PLTU 2 Labuan, Senin (7/8). Aksi para nelayan tak main-main karena mereka melakukan aksi dari darat dan laut dengan cara menaiki perahu. Berdasarkan pantauan Banten ...


TANGERANG - Hendra (40), tewas diterjang peluru aparat Satres Narkoba Polres Metro Tangerang Kota, Senin (7/8) sekitar pukul 05.00 WIB. Bandar narkoba ini ditembak karena melawan dan menyerang serta berusaha kabur saat diminta menunjukan penyiuplai sabu-sabu.

Informasi yang diperoleh, penangkapan terhadap tersangka Hendra berawal dari tertangkapnya empat tersangka pengedar lainnya yang masing-masing berinisial K, AL dan seorang perempuan berinisial SI pada Sabtu (5/8) lalu di tiga tempat berbeda.

Dalam penangkapan ketiga tersangka ini, petugas menyita belasan paket narkotika jenis sabu. Dari hasil interogasi petugas, ketiga tersangka mengaku mendapatkan barang haram itu dari Hendra. Atas pengakuan ketiga tersangka itu, petugas Satres Narkoba Polres Metro Tangerang Kota yang dipimpin Kanit I AKP Riyanto melakukan penangkapan terhadap Hendra di dekat RSUD Cengkareng, Jakarta Barat (Jakbar).

Saat ditangkap, Hendra membawa sabu-sabu seberat 4 ons dan timbangan elektrik yang disimpan di tas kecil. Hendra juga membawa senpi jenis revolver. Kepada petugas, Hendra mengaku barang haram tersebut didapat dari seorang penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) Tangerang berinisial WW.

Saat petugas menggelandang tersangka untuk menunjukan WW di Lapas Tangerang, tersangka berontak dan berusaha menyerang petugas serta akan melarikan diri, sehingga petugas melepaskan tembakan peringatan. "Tersangka tidak mengindahkan tembakan peringatan, sehingga dengan terpaksa aparat mengarahkan tembakannya tepat mengenai sasaran ke tubuhnya. Hendra terkapar dan tewas di tempat.

Petugas membawa jasadnya ke RSUD Tangerang," kata Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Harry Kurniawan kepada wartawan di mapolres, kemarin. Sebelum tewas, tersangka Hendra mengaku, telah membeli sabu seberat 5 kilogram (kg) dari WW pada akhir Juli lalu dan sudah terjual seberat 4 kg kepada tersangka lain.

"Selain di Tangerang, tersangka juga mengedarkan barang haram itu ke wilayah Jakarta Barat," tegas Harry Kurniawan yang didampingi Wakapolres AKBP Harley H Silalahi. Menurut Harry, tersangka lain yang diamankan masih dalam pengembangan petugas. "Kami masih dalam pengembangan lebih lanjut," katanya.

Sementara itu, kemarin, Badan Narkotika Nasional (BNN) juga menembak mati dua bandar penyelundup sabu di Kalimantan Barat. Sepanjang 2017, telah ada 36 bandar yang tewas di tangan petugas.

Sesuai data Polri, sejak Januari hingga Mei terdapat 31 bandar yang tewas karena melakukan perlawanan dan melarikan diri. Jumlah bandar yang tewas bertambah dengan pengungkapan pada Juni- awal Agustus, menjadi 36 bandar. Yakni, satu bandar dalam kasus penyelundupan 1,2 juta pil ekstasi, satu bandar kasus 1 ton sabu, satu bandar dalam pengungkapan 384 kg sabu di Pluit.

Ditambah dengan dua bandar yang menyelundupkan 17 kg sabu di Kalimantan Barat. Direktur Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan, pelumpuhan pada dua bandar tersebut akibat melakukan perlawanan. Dua bandar yang tewas terdiri dari warga Malaysia bernama Ahoi dan warga Indonesia bernama Alaw. ”Selain dua orang tewas, tiga bandar lain yang tertangkap,” ujarnya.

17 kg sabu itu dibawa dalam sebuah mobil dari Malaysia masuk ke Indonesia. Bandar melewati perbatasan dalam penyelundupan tersebut. ”Saat ini masih dikembangkan kasusnya,” paparnya pada Jawa Pos.

Penindakan tegas terhadap bandar ini memang diinstruksikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Berulang kali, Tito mengungkapkan bahwa penindakan tegas harus dilakukan pada bandar yang melakukan perlawanan. Bahkan, bandar yang tewas itu menjadi peringatan bagi bandar lainnya agar tidak beroperasi di Indonesia. ”Ya, bandar lain kalau masih operasi di Indonesia bisa sama nasibnya,” tegasnya.

Kepala Divisi Pembelaan Hak Asasi Manusia Kontras Arif Nur Fikri menuturkan, tindakan tegas pada bandar itu tentu jangan mengesampingkan hukum. Kendati ditertangkap tangan, namun seharusnya pengadilan yang memutuskan hukumannya. ”Bersalah atau tidak juga pengadilan yang memutuskan,” ujarnya.

Namun begitu, Polri juga perlu untuk memastikan sejauh apa efektifitas dari tembak mati pada bandar narkotika tersebut. Apakah memang penindakan tegas dengan tembak mati ini berdampak pada enggannya bandar menyasar Indonesia. ”Ini perlu dikaji, sehingga memastikan benar. Tidak hanya asal, tapi harus terukur,” tuturnya.

Pada kenyataannya, kendati sudah banyak bandar yang tewas, namun ternyata bandar masih terus berupaya menembus Indonesia. ”Ini harus dihitung benar, dampaknya bagaimana tembak mati itu. kalau memang berdampak, besar atau kecil juga perlu diketahui,” paparnya. (*/marjuki/jpg)
Dia jenderal. Dia ulama. Dia artis. Dia birokrat. Dia petani. Dia olahragawan. Pak Basofi Sudirman adalah siapa saja dan apa saja. Saking pinternya, sampai-sampai muncul kritik: Pak Basofi tidak pernah mau mendengarkan masukan-masukan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai gubernur Jatim (1993–1998).

Komentar Terakhir