Advertorial
Trending

Lestarikan Tradisi Muludan, Disparbud Cilegon Rutin Gelar Lomba Zikir dan Panjang Mulud Sebelum Pandemi Hadir

CILEGON, BANTEN RAYA – Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Cilegon secara konsisten telah melakukan pembinaan dan pelestarian tradisi Muludan di Kota Cilegon.

Kegiatan yang kini terganjal pandemi Covid-19 tersebut, sejatinya dilakukan pada Oktober ini, dengan cara menggelar berbagai perlombaan untuk memeriahkan maulid nabi atau kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam balutan Festival Maulid, lomba yang digelar diantaranya zikir dan panjang Mulud.

Kepala Disparbud Cilegon Mahmudin menjelaskan, muludan adalah tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di daerah Cilegon. Tradisi muludan adalah kebiasaan yang diselenggarakan oleh masyarakat Cilegon setiap bulan Rabiul Awal.

“Hal yang pasti ada dan dilakukan masyarakat ketika Muludan adalah zikir dan arak-arakan panjang mulud. Ini adalah tradisi dan sudah menjadi seni budaya Islami yang kerap dilaksanakan secara meriah,” tuturnya.

Tradisi zikir mulud, lanjut Mahmudin, merupakan ritual yang dijalankan dengan balutan seni islami. Setiap grup atau Khafillah Zikir yang dibentuk di suatu wilayah menjadikan suasana muludan semakin ramai karena lantunan syair-syair atau pujian yang dilakukan para khafilah terhadap Nabi Muhammad SAW.

“Setiap kampung biasanya memiliki grup Khafillah Zikir yang diminta untuk mengisi acara Muludan di kampung lainnya. Ini menggambarkan adanya silaturahmi yang terjalin antar kampung. Biasanya yang diundang sedikitnya 1 hingga 2 grup. Dimana satu grup bisa beranggotakan sedikitnya 25 sampai 30 orang bahkan lebih,” jelasnya.

Mahmudin memaparkan, sejarah zikir mulud diperkirakan sudah populer sejak tahun 1927. Syair yang dibacakan berdasarkan kitab berjanzi. Zikir dilakukan dengan beberapa tahapan, mulai duduk, berdiri, kemudian duduk kembali hingga selesai.

“Biasanya saat duduk pertama yang dibaca adalah assala, alfasa, tanakal, walida, singkir, dzikrun, dan badat. Namun dalam posisi berdiri pezikir membacakan lagu hanya satu, yaitu ya Nabi salam. Kemudian dilanjutkan lagi dengan posisi duduk yang kedua, dengan membacakan syair yang terdiri dari ya Nur, Futur Kulwas, Ta’lam, Masmis, Wulidang, Talaubina Jalar nama, dan Habibun,” paparnya.

Dalam perkembangannya baik dalam posisi duduk maupun berdiri tidak semua syair tersebut dibacakan tapi disesuaikan dengan waktu yang tersedia apalagi jika zikir mulud ditampilkan dalam lomba atau kompetisi.

Untuk panjang mulud, Mahmudin menduga tradisi tersebut sudah diwariskan sejak zaman kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

“Panjang Mulud bisa diartikan sebagai tempat untuk mengangkut makanan, kemudian dibagikan pada perayaan muludan. Istilah atau penyebutan “panjang” ini pun ada bermacam-macam versi, ada yang menerjemahkan bentuk dari sesajian itu sendiri karena banyaknya panjang yang ditampilkan atau bentuk kapal yang panjang, ada juga yang mengartikan karena panjangnya prosesi yang harus dilalui dalam rangka memperingati Maulid Nabi ini,” katanya.

Menurut Mahmudin yang menarik adalah kemasan Panjang Mulud yang dihias dengan sangat kreatif dan bernilai seni. Ada yang berbentuk kendaraan, masjid, perahu dan lainnya.
“Awalnya mungkin panjang mulud dimaksudkan hanya sekadar menaruh makanan yang dihias semenarik mungkin untuk kemudian disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai wujud syukur dalam melaksanakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Namun seiring perkembangan zaman, panjang mulud tidak hanya diramaikan dengan bentuk-bentuk bangunan kabah, masjid, dan bentuk tradisional lainnya tapi sudah berkembang dengan bentuk kendaraan transportasi modern, barang elektronik, lemari, dan lainnya.

“Tapi yang pasti apapun bentuk hiasannya, dalam panjang mulud biasanya selalu ada atribut dari sejumlah lembaran uang kertas dengan nilai ribuan hingga ratusan ribu dalam jumlah hingga jutaan rupiah. Dan biasanya diakhiri dengan arak-arakan Panjang Mulud di sekitar kampung,” kata Mahmudin.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disparbud Kota Cilegon Tini Suswatini mengatakan, kegiatan lomba muludan merupakan salah satu upaya sekaligus motivasi bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi seni budaya Islam yang sudah mengakar di Kota Cilegon.
“Jadi selain bisa melestarikan tradisi juga ada unsur pembinaannya. Karena dengan adanya kegiatan lomba, masyarakat diharapkan akan termotivasi untuk terus intens melakukan tradisi tersebut yang terakumulasi dalam bentuk latihan menjelang lomba agar bisa menjadi yang terbaik dalam festival tahunan yang digelar Disparbud,” katanya kepada Banten Raya, kemarin.

ini mengungkapkan, target utama dari festival adalah peserta dari generasi muda.
“Jadi kami sangat berharap akan ada regenerasi pecinta tradisi muludan (seni islami) sehingga anak-anak dan remaja akan bisa menjadi penerus tradisi yang diharapkan bisa terus lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman yang serba modern seperti sekarang ini,” ujarnya. (adv/danang)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp