DaerahPendidikan

Akademisi Dukung Penundaan KBM Tatap Muka

SERANG, BANTEN RAYA – Kebijakan Pemerintah Provinsi Banten untuk menunda kegiatan belajar mengajar tatap muka rupanya mendapatkan dukungan dari sejumlah akademisi. Salah satunya adalah Dase Erwin Juansah, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

Menurutnya, kebijakan Gubernur Banten Wahidin Halim terkait dengan penundaan kegiatan belajar mengajar tatap muka, tentunya memiliki dasar dan pemikiran yang matang. Karena kondisi di lapangan jumlah kasus Covid-19 di Banten terus meningkat.

Terlebih, kata Dase sapaan akrabnya, Covid-19 sudah mengalami mutasi dan memiliki varian baru. Ia menilai kebijakan penundaan tersebut sangat bagus untuk mencegah terjadinya klaster baru Covid-19 di lingkungan sekolah.

“Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan sistem luring masih sangat mengkhawatirkan. Jadi saya mendukung kebijakan tersebut, karena kebijakan tersebut bisa mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah. Lebih baik jangan mencari bahaya dengan virus, dan lebih baik menghindari virus tersebut,” kata Dase kepada Banten Raya, kemarin.

Ia mengaku bahwa Untirta sendiri saat ini akan menggunakan metode pembelajaran hybrid dalam kegiatan belajar mengajar di kampus, yaitu 50 persen tatap muka dan sisanya daring, atau 80 persen daring dan sisanya tatap muka.

Untuk menjaga mutu pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar daring, kata Dase, adalah dengan adanya komitmen yang sama antara guru dengan murid dan antara dosen dengan peserta didiknya.

Dase menjelaskan, kegiatan belajar mengajar daring bukan salah satu penyebab kurangnya mutu pendidikan, namun kurangnya komitmen antara tenaga pengajar dengan peserta didiknya. Jika guru atau dosen hanya memberikan tugas kepada peserta didiknya, dan peserta didiknya hanya mengerjakan tugas tersebut, tentu saja bisa menyebabkan mutu pendidikan akan menurun.

“Namun, jika ada komitmen bersama maka mutu pendidikan akan lebih baik. Contohnya adalah Universitas Terbuka yang selama ini sudah menerapkan kegiatan belajar mengajar daring. Mutu pendidikan Universitas Terbuka masih tetap bagus, hal tersebut dikarenakan adanya komitmen bersama antara dosen untuk mencerdaskan anak bangsa, dan mahasiswanya yang giat belajar untuk bisa bebas dari kebodohan,” ungkap Dase.

Dase menambahkan, kegiatan belajar mengajar daring sebenarnya sama dengan kegiatan belajar mengajar tatap muka. Hal yang membedakan hanyalah metode penyampaian materi pelajaran. Jika kedua belah pihak memiliki komitmen yang sama, maka kegiatan belajar mengajar daring tetap bisa meningkatkan mutu pendidikan. (satibi)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp