DaerahKesehatanPemprov Banten
Trending

Jam Kerja Ditambah Dua Kali Lipat, Insentif Nakes di Banten Baru Dibayar Separuh

SERANG, BANTEN RAYA – Insentif tenaga kesehatan (nakes) yang berjibaku menangani Covid-19 di Provinsi Banten tahun 2020 baru dibayar separuh. 

Salah seorang nakes di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten yang enggan disebutkan namanya mengatakan, awalnya, untuk perawat akan diberikan insentif oleh pemeritah pusat senilai Rp7,5 juta per orang per bulan. Akan tetapi pada kenyataannya mereka hanya menerima Rp5,3 juta per orang per bulan.

“Boro-boro, yang kemarin saja enggak jelas. (Insentif di 2020) sudah dibayar tapi enggak sesuai,” ungkapnya kepada Banten Raya, Kamis (4/2/2021). 

Ia mengungkapkan, bahwa tenaga kesehatan di Banten juga sempat resah dengan rencana pemotongan insentif di tahun 2021 yang untungnya tadi malam dibatalkan oleh Kementerian Keuangan. Ia tak setuju dengan pemotongan karena beban tenaga kesehatan yang makin ke sini makin tinggi menghadapi pandemi. 

“Teman nakes RS (RSUD) Banten banyak yang positif (Covid-19) karena kelelahan juga kan kita. Banyak yang tumbang,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini penanganan pasien Covid-19 di rumah sakit semakin menumpuk karena angka kasus konfirmasi kian melonjak. Hal itu berdampak pada jam kerja nakes yang semakin panjang.

Jika awalnya dalam satu pekan hanya masuk selama tiga hari, maka kini bertambah menjadi enam hari. Dalam sehari mereka ditugasi merawat pasien Covid-19 selama 8 jam tanpa boleh melepas alat pelindung diri (APD). “Nambah banyak pasien (Covid-19) harusnya jangan dikurangi,” katanya. 

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan memperpanjang pemberian insentif nakes di 2021. Rinciannya, dokter spesialis sebesar Rp15 juta per bulan, dokter umum dan dokter gigi Rp10 juta per bulan. Bidan dan perawat Rp7,5 juta per bulan, serta tenaga kesehatan lainnya sebesar Rp5 juta per bulan. Sedangkan untuk santunan meninggal Rp300 juta.

Awalnya, insentif ini dipangkar dalam surat Menteri Keuangan Nomor S-65/MK.02/2021. Insentif untuk dokter spesialis menjadi Rp7,5 juta per orang per bulan, dokter umum dan gigi sebesar Rp5 juta per orang per bulan. Bidan dan perawat sebesar Rp3,75 juta per orang per bulan, tenaga kesehatan lainnya sebesar Rp2,5 juta per orang per bulan. Sedangkan santunan kematian masih sama sebesar Rp300 juta per orang. Namun keputusan tersebut dibatalkan dan besaran insentif dikembalikan sama seperti 2020. 

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten Rina Dewiyanti mengatakan, selain dari pemerintah pusat, Pemprov Banten juga memberikan insentif kepada nakes Covid-19 yang bertugas di fasilitas kesehatan yang menjadi kewenangannya. Ia menegaskan, kewajiban pendistribusian insentif yang bersumber APBD telah direalisasikan seluruhnya.

“(Insentif nakes dari APBD) setahu saya sudah (disalurkan seluruhnya). (Untuk yang dari APBN) silakan koordinasi ke dinas kesehatan,” tuturnya.

Sementara terkait pemotongan insentif nakes yang berasal dari APBN, Rina juga mengarahkan wartawan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten. “Untuk hal ini lebih pas langsung konfirmasi ke dinas kesehatan ya,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Banten Raya, Pemprov Banten menjanjikan memberikan insentif kepada nakesnya. Adapun besarannya, dokter spesialis Rp75 juta, dokter umum Rp50 juta, perawat Rp17,5 sampai Rp22 juta. Tenaga penunjang medis dan non medis Rp15 juta, lalu untuk tenaga pendukung operasional seperti satpam, office boy sebesar Rp5 juta per bulan.

Besaran insentif itu akan dibiayai oleh Pemprov Banten dan juga pemerintah pusat. Pemerintah pusat akan membayar insentif sesuai Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/278/2020 tentang pemberian insentif dan santunan kematian bagi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19.

Adapun besaran insentif nakes setinggi-tingginya yang ditanggung pemerintah pusat di 2020 lalu adalah dokter spesialis Rp15 juta, dokter umum dan gigi Rp10 juta, bidang dan perawat Rp7,5 juta dan tenaga medis lain Rp5 juta. Sisanya akan ditanggung oleh Pemprov Banten.

Kepala Dinas Kesehatan Banten Ati Pramudji Hastuti belum bisa dimintai keterangannya terkait pemotongan insentif nakes tersebut. Yang bersangkutan tak merespon upaya konfirmasi yang dilayangkan Banten Raya.

Pada bagian lain, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Banten Budi Suhendar mengungkapkan, berdasarkan data yang dimilikinya saat ini jumlah dokter yang masuk keanggotaan IDI mencapai sekitar 7.000 orang. Dari jumlah tersebut terdapat sejumlah dokter yang terpapar Covid-19 hingga meninggal dunia. “Sekitar 7.000 anggota, kalau yang meninggal untuk Banten kita punya data kurang lebih 12 orang,” ujarnya.

Untuk jumlah yang terpapar virus korona, Budi mengaku belum memiliki data secara rinci. “Yang terpapar secara rinci belum punya,” jelasnya. (dewa/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp