DaerahKota Cilegon
Trending

Batu Bara Tak Lagi Masuk Limbah B3, Warga Suralaya Protes

CILEGON, BANTEN RAYA- Warga Suralaya protes kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak lagi menyatakan limbah hasil pembakaran batu bara atau fly ash masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Aturan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Seperti diketahui, sebelumnya limbah batu bara atau fly ash dikategorikan ke dalam limbah B3. Itu tertuang dalam PP 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3. Aturan tersebut, menuai reaksi sebagian kalangan, terutama warga yang tinggal di sekitar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), salah satunya PLTU Suralaya. 

Warga Suralaya, Kota Cilegon, Masnan Arulloh mengatakan, pihaknya telah mengetahui adanya kabar bahwa limbah batu bara tidak lagi tergolong sebagai limbah B3. Dia mengaku kecewa dengan aturan yang dikeluarkan pemerintah.  

“Kami kecewa dengan kebijakan itu, saat ini saja warga sekitar PLTU Suralaya sering jadi korban hujan debu (fle ash), ke depan potensi itu akan semakin besar,” kata Arul kepada Banten Raya, belum lama ini. 

Ia menjelaskan, penggunaan batubara diprediksi akan semakin jor-joran, jika fly ash tidak lagi disebut sebagai limbah B3. PLTU seperti di Suralaya akan semakin leluasa memanfaatkan batu bara sebagai sumber utama pembangkit listriknya. “Kami berharap aturan itu ditinjau ulang,” harapnya. 

Saat ini, kata Arul, warga sekitar Lingkungan Kotak Malang, Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, masih merasakan debu fly ash yang berasal dari aktivitas PLTU Suralaya. Bahkan, sekitar tiga pekan lalu warga merasakan dampak aktivitas PLTU Suralaya yang membuat hujan debu di sekitar lingkungannya.  

“Saat ini juga masih ada debu yang turun. Meski tidak setebal yang tiga pekan lalu. Kami sudah meminta ke PLTU Suralaya untuk membenahi masalah ini, agar warga tidak lagi dirugikan. Kami khawatir kalau fly ash bukan limbah B3, debunya semakin tebal, dan bisa berpengaruh pada kesehatan warga,” harapnya. 

Warga Suralaya lainnya, Asmuni mengatakan, saat ini debu fly ash juga masih menghujani wilayah Lingkungan Kotak Malang, Kelurahan Suralaya. Ia berharap, dampak debu yang saat ini ada, tidak semakin parah dengan tidak dikategorikannya fly ash sebagai limbah B3. Selama ini, ketika warga terdampak hujan debu memang diberikan kompensasi, namun hanya pemeriksaan kesehatan. “Seharusnya bukan hanya kompensasi pemeriksaan kesehatan saja,” katanya. (gillang/rahmat)  

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp