DaerahKota CilegonNasional
Trending

Gawat! Pasokan Batu Bara PLTU Suralaya Terancam, Anggota DPR RI Minta Ekspor ke China Dibatasi

CILEGON, BANTEN RAYA- Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ramson Siagian meminta, batu bara Indonesia tidak terus-terusan diekspor ke China. Sebab, Indonesia sendiri masih membutuhkan batubara sebagai energi primer pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). 

“Belakangan ini ada ancaman, kurang lancarnya kesiapan stok batu bara. Kita punya deposit batu bara sangat besar sekitar 150 tahun. Tapi produksi 450 juta metrik ton per tahun, jangan lebih banyak diekspor ke luar negeri khususnya sekarang ke China,” kata Ramson ditemui awak media usai kunjungan kerja (Kunker) Komisi VII DPR RI ke PLTU Suralaya Cilegon, Kamis (11/2/2021). 

Ramson menjelaskan, batubara saat ini masìh digunakan sebagai energi primer bagi PLTU Suralaya dan PLTU yang lain. PLTU Suralaya yang telah berdiri 37 tahun lalu, saat ini menyuplai 20 persen kebutuhan listrik di Jawa, Madura dan Bali. 

“Jika pasokan stok batu bara ke PLTU terhambat. Kesiapan stoknya saat ini sangat singkat. Kalau kesiapan stok terhambat, tidak bisa menyuplai listrik Jawa, Bali dan Madura,” kata politikus Partai Gerindra ini. 

Ia meminta agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan kebijakan ekspor batu bara dibatasi. Sehingga ada jaminan stok batu bara bagi PLTU. 

“Jangan sampai produksi batu bara lebih banyak diekspor. Apalagi dengan batu bara harga produksi listrik per kWh lebih rendah daripada pembangkit listrik lain. Kita harap bisa menjaga harga itu,” katanya. 

Pasca kunker ke PLTU Suralaya, kata Ramson, pihaknya akan menyampaikan persoalan tersebut ke Kementerian ESDM. 

“Jangan sampai ketersediaan batubara terhambat. Kita sudah ada datanya terkait keluhan PLTU untuk permasalah suplai batubara,” imbuhnya. (gillang)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp