Kota Cilegon
Trending

Penerima Kursi Roda Terharu, Kepala DP3AKB dan BPBD Cilegon Panjatkan Doa

CILEGON, BANTEN RAYA – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon kompak menyalurkan kursi roda bagi penyandang disabilitas di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Citangkil, Kamis (1/4/2021).

“Sebenarnya total ada 33 kursi roda yang diberikan Pemkot (Pemerintah Kota) Cilegon yang penyalurannya dilakukan oleh seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) secara serentak. Kami dan BPBD menyalurkan masing-masing dua kursi roda jadi semua ada 4. Dua kursi roda untuk warga Lingkungan Kampung Baru, satu untuk warga Lingkungan Kubang Menyawak, dan satu lagi warga Delingseng. Karena lokasinya berdekatan maka kami dan Pak Erwin (Kepala BPBD) menyalurkannya bersama-sama,” kata Kepala DP3AKB Kota Cilegon, Heni Anita Susila kepada Banten Raya, Kemarin.

Heni menyatakan, bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian, perhatian dan kasih sayang kepada warga penyandang disabilitas di Kota Cilegon.

“Tujuannya tentu untuk membantu mereka (penyandang disabilitas-red) agar bisa memudahkan mereka beraktivitas. Jadi harapannya mereka tidak hanya diam di rumah saja tapi bisa keluar rumah menggunakan kursi roda meski hanya disekitaran tempat tinggal. Intinya semoga bantuan yang diberikan Pemkot bermanfaat untuk warga terutama bagi mereka yang kurang beruntung ini,” ujarnya.

Senada dengan Kepala DP3AKB Kota Cilegon, Kepala BPBD Kota Cilegon Erwin Harahap mengatakan, bantuan kursi roda merupakan program untuk mewujudkan kepedulian terhadap masyarakat.

“Selain kursi roda pada kesempatan itu bersama DP3AKB, kami juga memberikan bantuan dana alakadarnya untuk membantu paling tidak sedikitnya agar dapat dipergunakan untuk membeli kebutuhan berobat. Semoga apa yang kami salurkan benar-benar bermanfaat,” katanya.

Semenetara itu, Winarsih, orang tua dari salah satu penyandang disabilitas mengaku terharu saat menerima bantuan kursi roda buat anaknya.

“Alhamdulillah pemerintah masih mau perhatian sama anak saya. Semoga Allah membalasnya,” ujarnya sambil menitikan air mata.

Winarsih menceritakan, anaknya yang bernama Anna Maulina awalnya terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) di usia 3 bulan. Karena terus mengalami penurunan trombosit, Anna mengalami koma hingga satu bulan selama dirawat di rumah sakit. Setelah sembuh, ternyata anaknya mengalami gangguan pada otaknya sehingga mengalami kelumpuhan dan gangguan respon komunikasi.

“Sekarang usianya sudah 11 tahun dan hanya bisa duduk dan berbaring. Kalau diajak ngobrol tidak nyambung. Sering kejang-kejang. Sekarang masih harus berobat rutin untuk menjaganya tetap dalam kondisi sehat,” tuturnya sambil sesekali mengusap air mata. (danang)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp