DaerahEkonomi & BisnisKota Cilegon
Trending

Tak Bisa Melaut karena Cuaca Buruk, Kehidupan Nelayan Cilegon Kini Serba Sulit

CILEGON, BANTEN RAYA – Angin kencang dan gelombang tinggi masih terjadi di Perairan Selat Sunda, Minggu (7/2/2021). Akibat kondisi tersebut, para nelayan kesulitan ekonomi karena tidak melaut.

Pantauan Banten Raya kemarin, puluhan perahu nelayan terpakir di pesisir Pantai Tanjung Peni, Kota Cilegon. Perahu-perahu nelayan ditambatkan ke sebuah patok atau pepohonan dengan seutas tali. 

Tampak, tak ada aktivitas perahu nelayan yang melaut di pangkalan nelayan Tanjung Peni.

Nelayan di Tanjung Peni, Kardi mengatakan, angin kencang dan gelombang tinggi sudah terjadi sejak November 2020 lalu. Para nelayan mengaku tidak berani melaut sejak adanya gelombang tinggi dan angin kencang. 

“Sudah dua bulan lebih, cuaca tidak menentu seperti ini. Kita jadi jarang melaut,” kata Kardi ditemui di Pantai Tanjung Peni 

Ia menuturkan, dengan kondisi gelombang dan angin yang membahayakan, nelayan hanya melaut beberapa jam saja. Itu pun sampai ke tengah laut. “Saya tidak setiap hari melautnya. Kalau pas cerah tuh, angin juga lagi tidak kencang, saya ke laut,” tuturnya.

Dalam sepekan, kata Kardi, Ia paling ke laut hanya sekali atau dua kali saja. Kondisi gelombang tinggi dan angin kencang, sangat membahayakan keselamatan nelayan. 

“Kita kan perahu kecil, bukan perahu besar, jaga-jaga saja, khawatir kenapa-kenapa makanya tidak melaut kalau angin kencang,” ucapnya.

Kardi sendiri biasa melaut ketika senja telah tiba dan menepi ketika fajar datang. Namun dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat, jikapun melaut pukul 21.00 WIB atau 22.00 WIB kembali ke daratan. 

“Tidak lama-lama karena angin kencang makin malam makin kencang, sedapatnya saja,” akunya.

Di sekitar Perairan Cilegon, kata Kardi, ikan hasil tangkapanya seperti kerapu, ikan kuwe, ikan ekor kuning dan kakap merah. Saat hari normal, ketika melaut bisa membawa pulang uang sekitar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per orang. 

“Namun, dengan kondisi cuaca seperti sekarang hasil tangkapan sedikit, paling Rp100 ribu atau Rp50 ribu untuk tiga orang. Saya kalau melaut satu perahu kan tiga orang,” tuturnya.

Dalam sekali melaut, kata Kardi, biaya yang dikeluarkan minimal Rp100 ribu. Dengan kondisi saat ini, modal untuk melaut juga terbatas karena kebutuhan sehari-hari juga terus berjalan. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat ini sulit. Saya kan usaha warung juga di Tanjung Peni, barang-barang warung stol sudah mau habis di makan sendiri,” ucapnya.

Senada dengan Kardi, Ruly yang juga nelayan di Tanjung Peni, mengatakan, sudah sekitar dua bulan terakhir Ia tak menentu mencari ikan. Ia harus memutar otak menyiasati kebutuhan hidup. “Seminggu (sepekan-red) paling, sehari dua hari saja pas angin tidak begitu kencang,” kata Ruly.

Ia tak berani ke laut lantaran gelombang tinggi dan angin kencang. “Yang ada aja di makan, kalau pas duit mau habis kadang saya paksain ke laut, itupun tidaj jauh-jauh,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi (Kasi) Keselamatan Berlayar pada Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten Ganefo mengatakan, pada awal Februari pihaknya telah melayangkan Surat Edaran UM.003/5/17/KSOP-Btn 2021 tentang Kewaspadaan Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi. Selain itu, pihaknya juga mengeluarkan Maklumat Pekayaran. 

“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada 31 Januari 2021, pada tanggal 1 sampai tanggal 7 Februari 2021 berpotensi adanya gelombang tinggi,” kata Ganefo kepada awak media, Kamis (4/2/2021).

Ganefo menuturkan, gelombang tinggi berpotensi sampai 2,5 sampai 4 meter di Perairan Selat Sunda. “Para nahkoda kami minta agara memerhatikan kondisi cuaca dan memgupdate kondisi cuaca dari BMKG,” pintanya. (gillang)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp