Ekonomi & BisnisKota Cilegon
Trending

Tak Bisa Melaut, Nelayan di Cilegon Beralih Cari Batu Apung dari Gunung Anak Krakatau

Batu dijual ke Pasar Kemis Tangerang dengan harga Rp2.000 per kilogram

CILEGON, BANTEN RAYA – Cuaca di pesisir laut Kota Cilegon saat ini tak menentu. Angin kencang dan gelombang tinggi menjadi fenomena tahunan yang harus dihadapi para nelayan di Pantai Tanjung Peni, Kota Cilegon. Dampaknya, para nelayan tak melaut karena menghindari risiko yang bisa berakibat fatal.

Meski tak melaut, para nelayan tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari anggota keluarganya. Seperti tak kehabisan akal, para pejuang rupiah yang mengais rezeki dari laut berusaha memutar otak agar dapur tetap ngepul.

Sebagian nelayan di Tanjung Peni memanfaatkan apapun yang ada di laut untuk menjadi uang. Saat musim angin barat seperti saat ini, para nelayan di Tanjung Peni beralih profesi menjadi pencari batu apung.

Kardi, salah satu nelayan di Tanjung Peni adalah salah satu potret nelayan yang beralih profesi mencari batu apung di saat musim angin barat.

“Saat ini melautnya tidak tentu, kalau pas anginnya lagi tidak kencang ya ke laut,” kata Kardi ditemui di Pantai Tanjung Peni, Minggu (7/2/2021).

Sekedar informasi, batu apung merupakan batuan beku gunung berapi yang dihasilkan dari lava vulkanik atau magma asam gunung berapi yang meletus.

Mencari batu apung juga dilakukan nelayan lain yang ada di Pantai Tanjung Peni. Ide tersebut, awalnya muncul dari salah satu nelayan di Tanjung Peni yang bernama Ruly.

“Awalnya Kang Ruly yang punya ide itu, dan mencari batu apung itu baru dilakukan para nelayan di musim angin barat akhir tahun lalu (2020 -red). Sebelumnya belum pernah,” kata Kardi.

Batu apung didapat para nelayan di Pantai Tanjung Peni, saat terjadinya air pasang dan angin barat. “Pas air pasang sama angin barat, batunya pada muncul di pantai. Nelayan sini (Tanjung Peni -red) pada ngambilin, termasuk istri-istri nelayan,” kata Kardi.

Batu sisa letusan Gunung Anak Krakatau terbawa arus hingga ke garis pantai. “Batunya juga pada ngapung sampai ke pantai. Terus pada kita ambilin, kita kumpulin,” ungkapnya.

Kardi mengaku, satu kilogram batu apung tersebut dijual Rp 1.000. Dalam sebulan, Kardi dibantu anak istrinya bisa mengumpulkan sekitar 400 kilogram. “Sudah dua kali kita jual, Rp 400 ribu tiap sebulan. Lumayan lah buat beli kebutuhan sehari-hari, buat makan,” katanya.

Kardi dan rekan-rekan nelayan di Tanjung Peni, mengumpulkan batu apùng dijual ke Ruly yang menjadi pengepul di batu apung. “Ada 11 keluarga yang ada di Tanjung Peni, semua juga cari batu apung,” tuturnya.

Ruly, nelayan di Tanjung Peni yang juga sebagai pengepul batu apung mengaku, awal adanya ide tersebut karena melihat di internet banyak orang yang mencari batu apung. Kebetulan di sekitar Pantai Tanjung Peni, akhir-akhir ini banyak ditemukan batu apung. “Yaudah saya sama teman-teman nelayan coba ambilin lalu dijual,” kata Ruly.

Ruly membeli batu apung dari rekannya Rp 1.000 per kilogram. Kemudian, Ia jual per kilogram Rp 2.000. “Sebulan bisa jual sampai 2 ton. Rp 2.000 per kilogram itu belum termasuk ongkir (ongkos kirim). Ya lumayan sampai jutaan untungnya,” jelasnya.

Sementara, dari hasil mencari ikan di laut, hasilnya juga tidak tentu. Saat kondisi normal, hasil tangkapan ikan banyak, sehari bisa mengantongi Rp 300 ribu. Namun saat angin kencang dan gelombang tinggi, paling mendapatkan hasil sekitar Rp 50 ribu. “Bahkan kita pernah tidak melaut sama sekali dalam sepekan. Kalau di sekitar sini ikan yang biasa kita dapat sepertu ikan kuwe, kakap merah, ikan ekor kuning, paling sama kerapu,” akunya.

Permintaan batu apung saat ini sedang tinggi. Warga yang mencari batu apung biasanya dijual untuk filter akuarium. “Ada juga yang buat ngebersihin kenceng,” kata Ruly.

Ruly menjual batu apung tersebut ke Pasar Kemis, Tangerang. Sebelum dijual, batu apung tersebut juga disortir berdasarkan ukuran. “Tetapi ada juga yang beli sekilo, dua kilo, juga kita layani,” tuturnya.

Saat angin kembali normal, lanjut Ruly, Ia tetap akan kembali menjadi nelayan. Sebab saat angin normal dan air surut, hampir tidak ditemukan batu apung di sekitar Pantai Tanjung Peni. “Ya mudah-mudahan angin sama gelombang kembali normal, biar bisa mencari ikan lagi,” harapnya. (gillang)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp