DaerahKota Serang
Trending

Bangunan Cagar Budaya di Kota Serang Mulai Punah

SERANG, BANTEN RAYA- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang menyebutkan bahwa bangunan cagar budaya di Kota Serang keberadaannya terus berkurang atau mulai punah.

Hal itu terjadi karena tak terpelihara dengan baik, sehingga banyak bangunan cagar budaya yang hancur dan punah.

Kapala Bidang Kebudayaan Dindikbud Kota Serang Evie Shofiyah Usman mengungkapkan, sementara ini dari daftar yang ada di Balai Pelestarian Cagar Budaya, awalnya ada 84 cagar budaya yang terdiri dari masjid, bangunan struktur, dan lainnya. Namun lambat laun terdapat beberapa bangunan yang hancur dan punah, sehingga tersisa 74 bangunan saja. 

“Akan tetapi yang terdata dan masuk ke daftar, baru sekitar 54 unit,” ujar Evie kepada Banten Raya, kemaren.

Ia menjelaskan, bangunan cagar budaya itu memiliki indikator di antaranya jika bangunan sudah berusia 50 dan lebih dari 50 tahun, dan memiliki nilai-nilai sejarah atau nilai lainnya.

“Kalau misalnya indikator-indikatornya sudah masuk, kita juga akan membuat tim khusus untuk menangani itu, sehingga diperjelas apakah termasuk cagar atau bukan. Kalau sudah termasuk cagar, maka akan didaftarkan,” ucap dia.

Evie mengungkapkan, jika suatu bangunan ingin diketahui apakah termasuk cagar budaya atau bukan, maka ketua RT atau RW dan pemerintah kelurahan setempat harus memberitahukan kepada Dindikbud Kota Serang. Setelah itu, Dindikbud Kota Serang melakukan penelitian ke bangunan cagar budaya itu.

“Kami tidak bisa sekaligus memutuskan kalau itu cagar budaya, harus kami teliti terlebih dahulu. Kami akan bersurat ke Balai Pelestarian Cagar Budaya dari Kementerian yang ada di kita, biasanya tim dari sana turun untuk mengecek cagar atau bukan,” jelasnya.

Adapun perihal rumah kuno, lanjut dia, meski pun jumlahnya cukup banyak di Kota Serang, tapi tidak semua bisa dikategorikan cagar budaya. Hanya rumah kuno yang memiliki nilai sejarah dan berusia di atas 50 tahun yang bisa disebut cagar budaya. 

Ia berharap, rumah kuno atau bangunan yang memiliki nilai sejarah bisa dipelihara agar generasi sekarang mengetahui bahwa dulu ada para ilmuwan atau arsitektur yang membuat bangunan seperti itu.

“Maka bisa mengajukan dulu ke kami, karena kalau sudah terdaftar menjadi cagar budaya, mudah-mudahan ada honor juru peliharanya yang akan kami berikan insentif. Kalau sekarang itu yang baru ada adalah kuburan-kuburan para pejuang dan masjid kuno yang memiliki sejarah itu. Untuk sekarang baru 14 orang yang kita beri insentif,” terang Evie. (harir/rahmat)

Related Articles

Back to top button