Kota Serang
Trending

DP3AKKB Banten Bentuk Klaster Perlindungan Berbasis Gender

SERANG, BANTEN RAYA-Sitti Ma’ani Nina, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Banten menyampaikan, saat ini penyebaran corona virus disease 2019 (Covid-19) masih terus terjadi.

Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemic global oleh world health organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 lalu, maka diperlukan langkah cepat, tepat, fokus, terpadu dan sinergi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Menurutnya, perempuan, anak, lansia dan penyandang disabilitas termasuk kelompok rentan yang terdampak paparan Covid-19. Untuk itu diperlukan upaya pelayanan perlindungan kelompok rentan tersebut yang efektif dan mengedepankan prinsip kepentingan yang terbaik bagi perempuan, anak dan keluarganya.

“Mandat untuk memberikan perlindungan hak perempuan dalam situasi bencana dan kondisi khusus pada pelaksanaannya merupakan tanggungjawab dari semua lembaga, pemerintah daerah dan masyarakat,” kata Kepala DP3AKKB Banten saat menghadiri Focus Grup Discussion (FGD) Sub Cluster Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak Berbasis Gender, di aula Kantor DP3AKKB Banten, Selasa (23/3).

Ia mengaku, hal ini sudah diatur sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000, tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional. Sebelumnya telah ada ratifikasi cedaw (pengesahan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita). Melalui Uu Nomor 12 tahun 1987 Pasal 11 yang mengamanatkan agar dilakukan tindak afirmatif untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan.

“Selanjutnya Pasal 48 dari Bab 5 Uu Nomor 24 tahun 2007, tentang penanggulangan bencana mengamanatkan adanya perlindungan terhadap kelompok rentan melalui pemberian prioritas dalam penanggulangan bencana baik pada sebelum, tanggap darurat dan sesudah bencana,” ujarnya.

Dalam Uu ini, lanjutnya, yang dimaksud kelompok rentan adalah ibu hamil, ibu menyusui, bayi, anak-anak, penyandang disabilitas dan lansia. Kata Nina, pengalaman kondisi darurat bencana dan kondisi khusus yang telah terjadi menunjukkan bahwa segala kondisi perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban, dan merekalah yang paling menderita pada situasi tanggap darurat sampai pasca bencana.

“Kondisi akibat bencana bagi perempuan lebih mudah mengalami depresi dan gangguan psikososial dan pada umumnya lebih sulit untuk menerima dan lebih sulit untuk melupakan peristiwa tersebut,” imbuhnya (satibi)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp