DaerahKota CilegonKota SerangKota TangerangKota TangselLebakPandeglangPemprov BantenSerangTangerang
Trending

Fenomena Gay di Banten, Tahu Salah Tapi Ogah Tinggalkan

Bagian 1-2 (bersambung)

SERANG, BANTEN RAYA- Tahu ada yang salah dengan kepribadiannya yang memiliki hasrat pada sesama jenis alias gay alias lelaki suka lelaki (LSL), dan tahu bahwa itu adalah penyimpangan, namun apa daya dia telanjur menikmati dan perlahan mulai menerimanya.

 Begitulah Joni (bukan nama sebenarnya) membuka perbincangan dengan Banten Raya (grup Radar Banten) saat diwawancara di sekitaran Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, belum lama ini. 

Dari sisi penampilan, tidak ada yang aneh. Cara berpakaiannya lelaki tulen. Celana jeans panjang berwarna biru, kaos oblong dan sepatu tanpa tali. Tampilannya rapi dengan rambut setelan pendek bergelombang.

Pasca perkenalan singkat dan tahu tujuan perbincangan tersebut, dia mulai bercerita. Sedikit ragu ia mulai mengaku adalah pelaku LSL. “Entahlah tapi saya sukanya sama cowok,” ujarnya sambil tersenyum. 

Pria berkulit putih itu bercerita awalnya tidak memiliki orientasi seksual seperti sekarang. Layaknya lelaki normal, bagian tubuhnya akan bereaksi ketika ada hal-hal yang berkaitan dengan wanita. Kondisi itu hingga menginjak bangku SMP. Joni masih memiliki hasrat kepada lawan jenis meski tidak pernah sampai menjalin hubungan spesial. 

“Dulu itu, ya kayak cowok saja biasanya. Naksir sama lawan jenis (perempuan), kerangsang kalau lihat yang seksi,” katanya.

Akan tetapi semua berubah ketika dia memasuki jenjang pendidikan SMA. Seiring itu juga lingkaran pertemanannya semakin luas. Temannya bukan hanya para pelajar di sekolahnya tapi juga orang-orang dewasa. “Ya sering main ke rumah teman kan, kenalan sama kakaknya. Kakaknya bawa teman ya kenalan juga sama temannya,” ungkapnya.

Dari lingkaran itu dia akhirnya bertemu dengan seorang pria yang dia sebut sebagai Andre (bukan nama sebenarnya). Lelaki itu saat pertama berkenalan adalah seorang karyawan swasta berusia 20-an. Tidak ada hal mencurigakan, orangnya ramah dan tidak gengsi bergaul dengannya yang saat itu masih seorang pelajar.

Perkenalan terjadi saat Joni duduk di kelas 1 SMA. Rupanya perkenalan itu berlanjut dan mereka sering bertemu. Andre digambarkan sebagai sosok teman sejati. 

Enak diajak komunikasi, memilki banyak kesukaan yang sama dan selalu mampu diandalkan ketika dimintai pertolongan.

Satu tahun pertemanan terjalin dan akhirnya hari itu pun tiba. Andre mendatangi sekolah tempat Joni mengenyam pendidikan, kemudian mengajak bermain selepas jam belajar. Berboncengan menggunakan sepeda motor, Joni dibawa ke rumah Andre. “Di sana rumah sepi. Di situ mulai dia agak aneh. Badannya nempel ke saya terus sampil usap-usap dan menjurus ke aktivitas seksual,” tuturnya.

Joni mengaku, karena hal itu baru pertama kali dialami tentu dia merasa kaget bukan kepalang. Kegiatan itu dianggapnya tidak lazim maka dia menolak, namun Andre tetap memaksa. Tak bisa melawan karena kalah tenaga, ia pun pasrah. Hal tersebut terus berulang pada waktu-waktu berikutnya dengan pola yang sama. 

1 2 3 4Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
× Chat Via WhatsApp
%d bloggers like this: