DaerahHukum & KriminalKota Serang
Trending

Gagahi Siswi SMP, 2 Pelajar SMA Divonis 1,8 Tahun Penjara

SERANG, BANTEN RAYA – Dua pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) berinisial MR (16) dan FA (17) asal Kota Serang divonis 1,8 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Serang. Keduanya terbukti melakukan persetubuhan dengan siswi SMP berusia 13 tahun pada Maret 2020 lalu.

Majelis Hakim yang diketuai Uli Purnama mengatakan, kedua terdakwa MR dan FA terbukti bersalah melakukan tindak pidana dalam Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

“Menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun dan 8 bulan. Serta pidana tambahan pelatihan kerja di Balai Pemasyarakatan (Bapas) selama 1 bulan,” katanya kepada kedua terdakwa disaksikan kuasa hukumnya.

BACA JUGA: Perkosa Nenek 60 Tahun Tunanetra, Sopir Angkot di Tangerang Diamankan Polisi

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Serang. Sebelumnya kedua pelajar itu dituntut 3 tahun penjara dan 1 bulan pelatihan kerja oleh Jaksa Budi Atmoko, dalam persidangan pada Selasa (22/6/2021) lalu.

Dalam persidangan, kasus persetubuhan anak itu terjadi pada Maret 2020 sekitar pukul 08.00 WIB di sebuah kos-kosan di wilayah Kota Serang. Awalnya, korban keluar rumah untuk membeli jajanan.

Saat diperjalanan bertemu dengan MR dan FA, korban kemudian dipaksa untuk dibawa ke kos-kosan. Korban sempat menolaknya dan memberontak, hingga menyebabkan kakinya lecet.

Setibanya di kos-kosan, korban langsung didorong dengan posisi tiduran. Setelah itu terjadi persetubuhan tersebut. Kasus persetubuhan itu lama terpendam, karena korban diancam akan menyebarkan video persetubuhan tersebut.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Ferry Renaldy membantah keterangan tersebut. Sebab, korban datang dengan sendirinya dan bertemu pelaku pada pukul 02.00 WIB bukan pukul 08.00 WIB. Pada saat itu, pelaku dan korban berkumpul untuk bermain game online hingga pukul 06.00 WIB.

“Mereka sudah nongkrong dari jam 2 pagi. Melihat kejadian ini, selaku orang tua korban ataupun pelaku sama sekali tidak mencari keberadaan anak mereka. Hal tersebut merupakan bentuk kelalaian, kurang pengawasan dan didikan dari para orang tua,” katanya.

Saksikan Kegiatan Reses Anggota DPRD Provinsi Banten di Banten Raya Channel

Ferry menjelaskan, FA membenarkan peristiwa itu, namun FA hanya memeluk korban, dan tidak pernah melakukan pengancaman penyebaran video.

“Perbuatan persetubuhan yang dilakukan pada dasarnya adalah perbuatan yang didasari pada rasa penasaran bersama. Hal ini diungkapkan pada fakta persidangan yang diberikan oleh keterangan saksi-saksi,” jelasnya. (darjat)

Related Articles

Back to top button