Kota Serang
Trending

Kabag Hukum Pemkot Serang: Kota Serang Tidak Melarang Rumah Makan Berjualan Selama Ramadan, Tapi…..

SERANG, BANTEN RAYA – Kabag Hukum Setda Kota Serang Subagyo buka suara soal ramainya perbincangan publik mengenai aturan rumah makan di Kota Serang selama bulan puasa Ramadan. Menurutnya, Pemerintah Kota Serang tidak melarang masyarakat berjualan saat Ramadan.

“Yang diatur di perda bukan melarang berjualan, tetapi melarang rumah makan menyediakan tempat dan  melayani orang menyantap makanan dan minuman di siang hari,” kata Subagyo, Sabtu (17/4/2021).

Subagyo mengatakan, bila rumah makan yang buka hanya melayani pembelian untuk dibawa pulang (take away) atau delivery order maka masih dibolehkan dengan asumsi makanan yang dibeli untuk melayani orang yang tidak berpuasa.

Subagyo menuturkan, perda dibuat bukan hanya keinginan pemerintah daerah. Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daaerah, perda dapat memuat materi muatan lokal.

Lalu berdasarkan Undang-undang Nomor  12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan perundang-undangan, perda memuat materi dalam rangka otonomi daerah dan menampung kondisi kekhususan daerah. Dan Kota Serang sebagai daerah yang mayoritas muslim memandang bulan puasa Ramadan sebagai bulan yang suci.

Terkait anggapan bahwa aturan ini ketika dibuat seolah-olah menganggap masyarakat memiliki iman yang lemah, Subagyo malah balik bertanya lalu apa gunanya aturan pelarangan miras, judi, pelacuran. Mengapa aturan-aturan itu dibuat? Apakah aturan-aturan itu juga dibuat karena menganggap iman masyarakat lemah?

“Kalau ada yang bilang iman lemah, kenapa juga miras dilarang? Padahal kalau iman kuat pasti juga enggak akan ke miras. Kenapa juga judi dilarang? Kalau iman kuat enggak akan judi. Kenapa juga pelacuran dilarang? Kalau iman kuat enggak akan melacur,” kata mantan Camat Taktakan ini.

Menurutnya aturan yang dibuat lebih bertujuan menciptakan toleransi ke arah yang baik, di mana yang tidak puasa menghormati yang berpuasa dengan tidak menonjolkan diri saat tidak berpuasa.

Terkait anggapan bahwa mengapa hanya rumah makan atau restoran yang dilarang, dalam perda aturan itu sudah jelas bahwa yang dilarang adalah tidak menyediakan tempat dan melayani orang makan. Karena minimarket tidak melayani makan di tempat, maka tidak diatur dalam perda ini.

“Rumah makan juga kalau tidak melayani makan di tempat pada siang hari boleh berdasarkan ketentuan perda. Jadi rumah makan hanya melayani pesanan, Gojek, Grab, take away, dan lain-lain yang dibawa pulang,” tuturnya.

Kepada orang yang menilai negatif aturan jam buka tempat makan selama Ramadan menurut Subagyo mereka belum tahu semangat perda yang dibuat oleh Pemerintah Kota Serang.Yang mereka tahu hanya pertiban oleh Satpol PP dan seolah-olah seperti radikal. Padahal aturan memang harus ditegakkan.

“Kalau kita menyebut bulan Ramadan adalah bulan suci, siapa yang harus menjaganya?” katanya.

Yang tak kalah penting, kata Subagyo, perda dibuat tidak hnya oleh rksekutif tetapi juga legislatif yang merupakan kepanjabgan dari masyarakat. Tahapan pembuatan perda juga panjang, mulai dari sosialisasi sampai mndengarkan masukan-masukan dari tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat. (tohir)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp