DaerahKota Serang

Kendaraan ODOL Rugikan Pengguna Jalan

SERANG, BANTEN RAYA – Keberadaan kendaraan angkutan barang yang melebihi muatan dan melebihi ukuran atau over dimension over loading (ODOL) merugikan pengendara kendaraan lain di jalan raya dan tol. Selain itu juga berpotensi terjadinya kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Demikian disampaikan Kasi Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) pada Badan Pengatur Transportasi Darat (BPTD) VIII Banten Budi Santoso, di sela Penertiban Kandaraan ODOL di Rest Area KM 68 Tol Tangerang-Merak, Serang Timur, Jalan Tol Tangerang-Merak, kemarin.

“Kendaraan ODOL timbulkan kerusakan, mempercepat perawatan. Informasi dari Kementeriam PUPR biaya perawatan jalan Rp45 triliun per tahun. Belum lagi dapat menimbulkan kecelakaan, seperti kecelakaan di Tol Cipali (kecelakaan akibat muatan berlebih-red),” kata Butos, panggilan akrab Budi Santoso kepada awak media. 

Dikatakannya, penertiban ODOL dilakukan selama tiga hari sejak 15 Desember 2020. Dalam penertiban pertama, kata dia, terjaring 30 kendaraan yang over loud, dan over dimensi. “Kita akan kawal sampai tahap persidangan di pengadilan. Kita sudah kordinasi dengan pihak kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, karena memang ada pengawasan dari Polda (kepolisian-red),” tegasnya.

Menurut dia, penertiban kendaraan ODOL akan berlanjut hingga 2022, karena pada tahun berikutnya ditarget bebas kendaraan ODOOL di jalan. “2023 target zero ODOL. Tidak ada lagi kendaraan ODOL di jalan,” tegasnya.

Terkait kebijakan operator jalan tol yang menindak kendaraan ODOL dengan mengeluarkan kendaraannya, Butos menilai hal itu sudah benar. “Tol (Perusahaan jalan tol_red) punya aturan sendiri, punya hak mengeluarkan kendaraan ODOL. Di kita (Pemerintah-red) juga punya aturan tentang batas muatan kendaraan yang boleh melintas di jalan. Kita sinkronisasi aturan yang ada (Aturan pemerintah dengan aturan perusahaan_red),” tegasnya lagi.

Sementara itu, Humas PT Marga Mandalasakti (MMS) Rawiyah Hijah membenarkan, pihaknya selaku pengelola jalan tol terdampak dengan adanya kendaraan ODOL yang melintas di jalan tol.

“Dampak kendaraan ODOL merusak jalan, artinya mereduksi umur jalan sehingga tidak sesuai dengan prediksi maintenance (Perawatan-red) jalan. Keberadaan kendaraan ODOL juga mengganggu pengguna kendaraan lainnya, karena kelebihan muatan menghambat laju kendaraan. Kondisi itu mengurangi kelancaran, kenyamanan, dan keamanan,” ungkapnya.

Ica, panggilan akrab Rawiyah juga mengungkapkan, sejak 2014, pihaknya telah memasang alat pengukur berat muatan kendaraan atau weight in motion (WIM) di benerapa gerbang tol Tangerang-Merak. “Kita hanya mengimplementasikan Pasal 89 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, bahwa badan pengatur jalan tol berhak untuk menolak masuk dan atau mengeluarkan kendaraan yang tidak memenuhi batas sumbu terberat,” jelasnya. (marjuki)

Related Articles

One Comment

Back to top button
× Chat Via WhatsApp