Kota Serang

Kisah Pawang Hujan di Banten: Ini Ritual yang Dilakukan untuk Memindahkan Hujan

SERANG, BANTEN RAYA- Diawali membaca bismillah, Erwin Hariya mengambil air wudhu. Ia membasuh kedua telapak tangannya, kumur-kumur, membersihkan hidung, membasuh mukanya, kemudian membersihkan tangan hingga siku dan mengusap rambut, lalu kedua telinganya, dan terakhir membasuh kedua kakinya. Erwin, sapaan akrabnya, kemudian menunaikan salat hajat dua rakat. Usai salat, lalu ia tawasul (hadaratan), berdzikir, dan diakhiri dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Proses ritual secara islami itu biasa Erwin lakukan sekitar pukul 02.00 hingga menjelang subuh. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari ikhtiar agar tidak hujan.

Ya, Erwin Hariya adalah seorang pawang hujan. Meski saat ini sudah era digitalisasi, namun ternyata jasa pawang hujan masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terlebih ketika musim hujan seperti sekarang ini.

Acara-acara seremonial yang diadakan di luar gedung, seperti acara pernikahan, peringatan hari besar, bahkan hingga kegiatan pemerintahan kerap kali membutuhkan campur tangan pawang hujan.

Saat diwawancara Banten Raya di rumahnya, Erwin mengaku bahwa ia tidak menyebut keahliannya dalam menangkal hujan sebagai profesi. Karena, keahlian yang ia geluti sejak 2017 itu dianggapnya hanya sebatas pertolongan kepada yang membutuhkan jasanya, tanpa mematok besaran tarif tertentu.

“Kalau disebut pawang hujan saya bukan pawang hujan, karena saya hanya sebatas menolong aja. Sekitar tahun 2017 saya mulai mengikuti lah kayak gitu (menjalani),” ujar Erwin ditemui di kediamannya di Perumahan Cimuncang Indah, Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Senin (22/2).

Ia menyebut bahwa keahlian pawang hujan yang ia peroleh berasal dari banyak guru dari berbagai latar belakang ilmu yang dikuasai. Mulai dari ahli tasawuf, ahli hikmah, hingga ke guru yang sekedar menolong saja. Ketika jasanya dibutuhkan, maka malam hari sebelum acara ia menjalankan rangkaian ritualnya, mulai dari salat hajat, tawasul, dzikir, doa kepada Allah SWT dan meminta agar air hujan tidak turun.

“Medianya menggunakan lilin dinyalakan sebagai simbol panas yaitu matahari. Merica sebagai simbol angin. Sedangkan bawang putih sebagai simbol wangi alam. Itu bukan sebagai bahan ritual tapi sebagai simbol. Kalau ritual saya tidak menggunakan,” tutur bapak yang dikaruniai tiga anak ini.

Selain sebagai pawang hujan, Erwin juga menggeluti profesi sebagai tukang urut. Dari kedua profesi tersebut, Erwin tidak pernah memasang tarif dan memberikan keleluasaan kepada pengguna jasanya untuk memberi seikhlas dan semampunya.

“Kalau untuk pribadi saya lillahi ta’alla (karena Allah). Tidak pasang ditarif. Walaupun dari pihak yang punya hajat memberikan saya hibahkan lagi. Misalkan saya belikan lagi ayam putih untuk dikasih lagi ke yang punya hajat, dan sisanya disawer ke masyarakat khususnya anak-anak. Tujuan sawer untuk saling berbagi aja karena tujuannya yang diinginkan sudah tercapai,” jelas suami dari Nina Noviani (40).

Selama musim hujan ini, Erwin mengaku tidak banyak yang meminta pertolongannya untuk menangkal turunnya hujan. Selain karena dampak pandemi sehingga membuat masyarakat urung menyelenggarakan pesta besar, belum lagi jumlah orang yang menggeluti profesi pawang hujan juga sangat banyak di Kota Serang.

“Karena tadi yang saya bilang jumlah pawang itu banyak, ada yang metodenya menggunakan ritual kodok, menggunakan pucuk daun, ada yang menggunakan kembang tujuh rupa, ada yang pake cabe, bawang merah, ada yang pake garam wadak disiram ke api, jadi nggak kehitung.
Ada yang saling kenal, bahkan ada yang akrab juga walau pun jauh ya, namanya satu profesi ya jadi saling kenal. Tapi tidak ada organisasinya. Tidak terstruktur,” terang pria berkulit sawo matang ini.

Apabila gagal dalam menangkal hujan, Erwin menjelaskan bahwa sejak awal ia telah menyampaikan kepada pengguna jasa bahwa dirinya hanya berupaya sementara keputusan tetap ada pada Allah SWT. Dan hal itu sudah dimaklumi oleh pengguna jasa.

“Saya bukan pawang, tapi sekedar nolongin, karena keputusan ada di Allah. Karena tidak menggunakan metode atau media apa-apa, cuma tawasul, dzikir, dan minta doa ke Allah. Dari pihak mereka juga memaklumi, engga apa-apa kalau hujan dikit-dikit mah,” ucap Erwin.

Ia juga mengatakan bahwa selama melakoni pawang hujan belum pernah ada yang berusaha jahil untuk mencoba menggagalkan usahanya. “Alhamdulillah tidak pernah mengalami hal-hal itu, karena masing-masing aja. Jadi gak ada yang saling sikut,” ungkap dia.

Seperti diketahui, keberadaan pawang hujan di Indonesia memang merupakan fakta yang hingga kini sulit terelakkan. Kepercayaan kepada kemampuan semacam itu hampir ada di setiap daerah. Pertanyaan besarnya, sejak kapan pawang hujan mulai muncul dan dipercayai oleh masyarakat? Tak ada jawaban pasti. Akan tetapi, eksistensi mereka bisa ditelusuri dari tradisi setiap daerah.

Pawang hujan dibutuhkan di berbagai macam acara, seperti resepsi pernikahan, sunatan, dan perayaan hari-hari besar keagamaan. Dalam praktiknya, pawang hujan tidak menolak ataupun menghentikan hujan. Mereka hanya bisa memindahkan awan mendung dari satu tempat ke tempat lainnya. Biasanya pawang hujan akan menggunakan doa-doa dan beragam medium untuk memindahkan awan.

Medium itulah yang dewasa kini dikenal oleh masyarakat sebagai sesajen, seperti bekakak ayam, nasi kuning, bisong, ayam, telur bebek, telur ayam, kopi pahit, pisang raja, bahkan kembang tujuh rupa.
(harir)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp