DaerahEkonomi & BisnisKota Serang
Trending

Lahan Pertanian di Kota Serang Hilang Secara Perlahan

SERANG, BANTEN RAYA – Luas lahan pertanian di Kota Serang terus menyempit, sehingga kondisi ini dapat mengancam ketahanan pangan bagi warga Ibukota Provinsi Banten. Hal ini terungkap pada acara rembug paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Serang yang digelar di Margawiwitan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin (14/6/2021).

Kepala Dinas Ketahanan Panganan Pertanian dan Perikanan (DKPP) Kota Serang Edinata Sukarya mengatakan, luas lahan pertanian di Kota Serang seluruhnya ada 70.900 hektare, namun yang terkunci untuk lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) seluas 3.054 hektare.

“70.900 hektare keseluruhan hamparannya, tapi yang diikat untuk LP2B 3.054 hektare,” ujar Edinata, kepada wartawan.

Ia menjelaskan, penyempitan lahan pertanian itu karena adanya perubahan rencanan tata ruang wilayah (RTRW) yang terjadi di beberapa kecamatan.

“Karena RTRW-nya berubah seperti di Walantaka, Kecamatan Curug, banyak perumahan,” jelas dia.

BACA JUGA: Jumlah Petani di Serang Terus Berkurang, Kini Tersisa 50.000 Orang

Edinata menyebutkan, 3.054 hektare LP2B itu tersebar di Kecamatan Kasemen dan Kecamatan Walantaka.

“Itu di Kelurahan Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, karena ada tanah negara dan sebagian di Kelurahan Teritih, Kecamatan Walantaka,” sebutnya.

Menurut dia, kendatipun LP2B tersisa 3.054 hektare, namun untuk lahannya tidak menyempit.

“Kalau tanahnya mah tidak menyempit, tanahnya tetap ada cuma penggunaannya saja yang menyempit itu,” kata Edinata.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat petani agar tidak menjualbelikan lahan milik pertaniannya kepada pihak perumahan ataupun industri.

“Petani itu tidak bisa seenaknya menjual lahannya kepada perumahan, kepada industri, walaupun di Kota Serang ini kebanyakan petani penggarap. Kalau dijual ke orang lain, maka mereka tidak bisa menggarap,” tutur dia.

Saksikan Podcast Meja Redaksi di Banten Raya Channel

Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin mengatakan, penyempitan lahan pertanian karena beralih fungsi ke zona-zona lain. Untuk itu para petani agar dapat membuat program-program yang terbaik dalam rangka percepatan pembangunan Kota Serang.

“Ya tidak hanya sektor padi, di sini ada nelayannya, ada peternakannya, petani holtikultura, semuanya ada,” kata Subadri.

Sementara itu, Ketua KTNA Kota Serang Tarmidzi mengatakan, adanya penyempitan lahan pertanian itu, pihaknya akan beralih fungsi memanfaatkan teknologi, sehingga lahan yang sempit itu bisa eksis dan bermanfaat.

“Justru harus ada keseimbangan antara pertumbuhan petani dengan lahan yang akan digunakan agar tetap eksis. Artinya alih teknologi yang harus kita lakukan agar pendapatan petani tetap bagus. (harir)

Related Articles

Back to top button