DaerahKota Serang
Trending

Mantan Ketua RT Idap Gangguan Jiwa: Dua Tahun Dipasung, Tak Pernah Dapat Bantuan dari Pemerintah

SERANG, BANTEN RAYA- Abdul Mukti (61), warga Kampung Tanjung Ilir RT02/ RW04, Kelurahan Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, sudah dua tahun dipasung lantaran mengalami gangguan kejiwaan. Keluarga tidak mampu ini juga tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Marsiti, istri Abdul Mukti mengungkapkan, sejak suaminya sakit ia tidak bisa bekerja dan hanya mengandalkan nafkah dari anak kelimanya yang bekerja sebagai office boy. Karena itu ia hidup seadanya sambil mengurus suaminya yang mengalami gangguan jiwa. Selama itu pula ia tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah. 

“Saya enggak kerja, ngurusin bapak terus. Bantuan belum pernah dapet dari Pemerintah Kota Serang,” kata Marsiti, Senin (25/1/2021).

Marsiti berharap bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah supaya bisa mempermudah kehidupannya. Apalagi ia sendiri tidak memiliki pemasukan karena sibuk mengurus suaminya yang saat ini mengalami gangguan jiwa. Marsiti mengaku tidak membawa suaminya berobat ke dokter karena tidak memiliki biaya.

Marsiti mengungkapkan, semula suaminya sehat dan baik-baik saja. 

Sampai kemudian ia jatuh dari tangga kandang ayam tempatnya bekerja. Setelah itu Marsiti mengurusi suaminya dengan sesekali membawanya berobat ke tempat urut di Pal Empat atau Jiput. Sempat sembuh dan bisa berjalan, suatu hari Abdul Mukti terjatuh kembali. Setelah itu kemudian Abdul Mukti mengalami gangguan jiwa. 

“Kalau kayak sekarang ini baru dua tahun. Sebelumnya sakit aja,” katanya.

Terkait kondisinya yang dirantai, Marsiti mengungkapkan hal itu dilakukan lantaran suaminya pernah memukul wajahnya. Khawatir akan mengulangi perbuatannya itu, kedua anak Abdul Mukti memutuskan merantai ayahnya agar tidak mengganggu. Selain itu, Abdul Mukti juga kerap kabur dan loncat dari atas kamar. “Tadinya cuma dikurung tapi terus dirusak pintunya, jendelanya,” kata Marsiti.

Ketua RT02 Bahroji mengungkapkan, keluarga Abdul Mukti memang hidup memprihatinkan. Karena itu, ketika Abdul Mukti jatuh dan harus dibawa berobat, mereka tidak bisa melakukannya karena tidak memiliki uang. “Waktu masih sehat dia (Abdul Mukti-red) sempat menjabat RT. Berhubung keponakan saya ini terbentur biaya, makanya enggak diobatin secara medis,” katanya.

Kepala Seksi Identitas Penduduk pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapl) Kota Serang Hendra Permana mengatakan, pihaknya melakukan jemput bola terhadap Abdul Mukti sebagai upaya pemenuhan hak kewarganegaraan. Semua warga wajib memiliki identitas kependudukan, terutama KTP elektronik.

“Upaya jemput bola bukan hanya buat orang sehat, tapi juga orang sakit yang sudah sepuh, bahkan ODGJ,” katanya.

Hendra menginginkan dengan tercetaknya KTP elektronik, maka Abdul Mukti bisa didorong agar mendapatkan bantuan dari program Dinas Sosial (Dinsos) atau Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang untuk mendapat pendampingan dalam pengobatan. (tohir/rahmat)

Related Articles

Back to top button
× Chat Via WhatsApp